
Aku telah sampai dirumah dan pergi mengguyur tubuhku dengan air dingin karena hatiku begitu panas dengan kenyataan pahit yang terdengar dari bibir wulan.
Saat itu aku benar-benar tak menghiraukan lagi pertandingan itu. Karena pikirku, " Untuk apa aku bertanding, bukankah Wulan sudah menjawab semuanya."
Hatiku semakin sakit saat suratnya aku baca ulang. Ternyata Wulan memberikan kepadaku harapan palsu. Wulan aku benar-benar kecewa sama kamu.
Sesaat kemudian aku teringat dengan bunda dan adik-adikku yang masih ada disana. Akhirnya aku memilih untuk kembali menjemput mereka.
Jalanku kacau, titik fokusku telah hilang bersama mimpi memiliki Wulan. Dengan kecepatan tinggi, aku mengendarai motor itu dan telah tiba kembali di kantor kecamatan.
Disana Wulan melihatku yang baru saja kembali dan dia berjalan kearahku. Tetapi aku tidak menghiraukan lagi langkahnya yang dulu aku puja dan aku dambakan.
"Bunda, ayo pulang.!!!" Kataku kepada bunda dari belakang.
" Loh,,, Rhido!!! Kamu dari mana,?? Kamu dicariin bapak desa.
" Dari rumah Bun." kataku kepada bunda.
" Itu kita udah kalah 2:1 loh," kata bunda lagi.
Memang saat itu permainan udah masuk set ketiga.
" Saya udah malas main, Bun!!!" Kataku lagi kepada bunda.
" Ya udah, kita pulang aja, padahal bunda pengen banget lihatin kamu bertanding dan memenangkan itu untuk bunda." Kata bunda sambil berjalan menuju motor kami.
Aku melihat bunda begitu kecewa karena aku menolak untuk bermain lagi. Aku menyesal karena tidak membahagiakan bunda saat itu.
" Bunda,,,, ayo lihatin aku tanding.!!!" Aku memanggil bunda untuk kembali.
" Aku akan tanding untuk bunda." kataku kepada bunda dan dibalas dengan senyuman bahagia.
" Makasih iya, Pio!! " Lalu bunda mencium keningku.
Aku langsung menuju kelapangan karena saat itu aku bersama bunda ada diparkiran.
__ADS_1
" Hai semuanya, maaf aku terlambat!!!" Kataku menyapa teman-temanku yang baru habis bermain dan sedang minum.
" Kamu darimana, Rhido!!!" Kata kepala desa kepadaku.
" Maaf Om, tadi ada urusan penting dirumah." Aku berbohong kepada mereka.
Saat itu Wulan disana, melihatku dengan tatapan gelisah, namun aku tidak menghiraukannya. Aku membuka pakian luarku dan yang tinggal adalah seragam desa kembang.
Pertandingan untuk set keempat pun dimulai. Diatas lapangan ada Rudy disana...
" Kirain takut sama gue. Tapi kalau takut mending pulang aja, nanti ngompol lagi." Kata Rudy mengejekku.
Aku tidak menghiraukanya karena dadaku telah mendidih terlebih dahulu dilukai oleh Wulan.
Dari pinggir lapangan...
" Ayo Pio, Semangat!!! Kamu pasti bisa" Teriak bundaku.
Aku berada diatas lapangan saat itu karena aku ingin membahagiakan bunda seperti yang Wulan ceritakan. Dan juga ingin membahagiakan ayah yang sudah berkorban ke sawah jalan kaki sehingga kami bisa pakai sepeda motornya untuk hari ini.
Pertandingan untuk set keempat pun dimulai.
Namun semua masyarakat senang dengan kejadian itu, Kecuali Wulan yang masih merasa bersalah kepadaku. Namun kali ini, aku benar-benar tidak menghiraukan dirinya.
Akhirnya kami mampu membalikkan keadaan menjadi 2:2 dan saat akan turun minum, aku memilih berdiri dibelakang saat mereka saling menukar pendapat.
Set penentu kemenangan pun dimulai, kami telah berada dilapangan dan siap memulai set berikutnya.
Banyaknya penonton saat itu membuat permainan itu semakin seru. Kami pun telah memulai pertandingan lagi. Karena saat itu aku kurang fokus bermain sehingga kami telah kalah poin "15:10"
" Rhido kamu kenapa sih.!!" Tanya Riko kepadaku.
Aku hanya bilang...
" Ayo semangat, kita pasti bisa." kataku kepada mereka.
__ADS_1
Pertandingan pun terus bergulir dengan begitu sengit saling balas membalas merebut poin untuk menang. Dan poin di papan skor suda menunjukkan 21:24 kami mengungguli timnya Rudy. Dan di poin terakhir ini aku benar-benar menumpahkan semua kesesakan yang ada di hatiku. Aku menerima bola dan memberikannya kepada kak Alek dan melambungkan kembali kepadaku. Saat itu aku melakukan smash terbaik yang pernah aku lakukan.
Aku memukul bola sekeras-kerasnya dan bola itu melaju ke arah Rudy tetapi ia cukup kuat untuk menahan bola saat itu meskipun ia hampir terjatuh dari atas lapangan.
Aku mencoba menormalkan kembali amarahku dan akhirnya kami mengalahkan kesombongan Rudy selama ini. Rudy datang menghampiriku.
" Selamat teman, kamu yang menang." kata Rudy saat itu.
Aku hanya tersenyum dan meninggalkannya, bukan untuk menghampiri Wulan tetapi untuk mengajak Bunda dan adik-adikku pergi.
Tetapi ketika sampai disana, ada Om Tinus dan bunda sedang berbincang-bincang jadi aku mengurungkan niatku itu.
" Rhido memang hebat" Kata om Tinus kepada bunda.
" Trimakasih banyak" Balas ibuku sebelum aku menyampari mereka.
Setelah itu tibalah saatnya untuk menerima piala dan penghargaan untuk pemain terbaik.
" Dan untuk pemain terbaik tahun ini adalaaaahh....... Rhido.!!!" Namaku disebutkan sebagai pemain terbaik tahun itu.
Aku gak pernah menyangka untuk bisa sampai berada dititik itu.
" Akhirnya aku bisa membahagiakan bunda"
Ketika aku telah menerima penghargaan itu dan saya diminta untuk menyampaikan sepatah kata...
" Terimakasih untuk bundaku yang telah mendorong saya untuk maju." Hanya itu yang aku katakan.
Terlihat semua orang bertepuk tangan kepadaku termasuk dia yang telah menyakiti hatiku. Setelah itu, kami maju bersama untuk menerima piala kemenangan kami.
Sore itu benar-benar kacau pikiranku, aku mengajak bunda pulang.
" Sungguh penantian yang mengecewakan"
"Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya "
__ADS_1
From Rhido
Dear Wulan