
Setelah di telusuri lebih lanjut, ternyata yang menyiksa Firman adalah paman dan bibinya, kedua orang tuanya telah meninggal saat kecelakaan, akhirnya dia di asuh oleh paman dan bibinya. Itu sebabnya paman dan bibinya membunuhnya agar harta warisan dari kedua orangtua Firman jatuh ke tangan mereka.
Polisi akhirnya memenjarakan kedua orang tersebut dengan hukuman seumur hidup. Mayat Firman di temukan sudah berwarna pucat dingin dengan perut yang sangat kempis.
Setelah mayat Firman di kuburkan, Gibran meminta Ricko agar dia saja yang mengemudi mobil. Mereka melajukan mobil menuju rumah Nisa untuk menyelesaikan perkara penting tersebut.
Ricko :"Gib, gue bisa pinjam ponsel lo ngak? Nisa ngak angkat telpon gue nih."
Gibran :"Lah? yaudah ambil nih." Ucapnya fokus ke jalan namun tangannya menyerahkan ponsel di kantong celana.
Ricko :"Kok dia keluar grup yah?"
Gibran :"Masa? telpon dulu gih."
Ricko mencoba menghubungi Nisa menggunakan ponsel Gibran, namun nomor Nisa tidak aktif.
Ricko :"Ngak aktif breee."
Gibran diam sejenak, dia berpikir positif tentang perilaku wanita saat sedang kesal.
Gibran :"Biasanya kalau handphone cewek gak aktif, di antara dia lagi sedih, ganti nomor, cari udara segar sama.. " Ucapnya mulai terdiam saat kata terakhir.
Ricko :"Ngak munkin dia bundir, dia ngak bodoh." Ucapnya sambil melototkan kedua matanya. "Berhenti lo sekarang gib." Imbuhnya.
Gibran :"Maksud gue sama makan, itu maksud gue." Ucapnya berkeringat dan mencoba mengalihkan perhatian agar Ricko tidak mengemudi mobil.
Ricko :"Gibb cepetan makanya! kalau ngak gue yg bawa nih mobil."
Gibran :"Iyah ini tinggal 1 lampu merah lagi kok."
Sesampainya di rumah Nisa, Gibran dan Ricko di kejutkan dengan kedatangan Stella. Disana sudah terkumpul kedua keluarga.
Gibran :"****** lo Rick, bentar lagi ada bencana besar. " Ucapnya yang masih duduk di dalam mobil, menatap perkarangan rumah Nisa dimana semua orang berkumpul.
Ricko :"Udah tugas lo pokoknya telpon polisi sekarang."
Gibran :"Kesini? sekarang?"
Ricko :"Yaiyalah, dah gue cabut kesana."
๐๐๐
Rita :" Tumben grup kok sepi yah?" Ucapnya kepada Denis
Denis :"Lagi senang-senang paling mereka." Ucapnya bermain pasir di pinggir pantai.
__ADS_1
Rita :"Tapi kenapa Nisa keluar grup yah?"
Denis :"Banyak nanyak ih, mending sini bantu aku buat istana, ntar kalau sudah jadi bisa buat kita tempati."
Rita :"Iyah, buat kamu tempati sama para kurcaci."
Denis menyamperin Rita yang sedang duduk di sebuah pondok, mereka terlihat bahagia selayaknya suami istri.
Denis :"Bulan depan nikah yuk."
Seketika Rita berhenti memainkan ponselnya dan menatap Denis di sampingnya.
Rita :"Aku ngak mimpi kan?"
Denis :"Ngak kok, aku serius ngak mau nunggu lama lagi."
Rita :"Haduhh pikiranku mulai meliar sudah."
Denis :"Hiss dasar omes."
Rita terkekeh dan tidak lama ponselnya berdering, ternyata itu adalah telpon dari Gibran. Denis segera mengangkat telpon tersebut.
Denis :"Ngapain lo telpon calon istri gue."
Gibran :"Ehh botak, lu darimana ajah gue telpon ngak di angketยฒ, sekarang lu kerumah Nisa deh."
Gibran :"Lo sekarang baca berita terbaru tentang skandal Ricko."
Denis :" Apaa skandal lagii!!"
Gibran mulai menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir kemudia dia menutup telepon lalu pergi melapor ke polisi.
Denis :" Beb, kita kerumah Nisa sekarang."
Rita :" Ngapain? "
Denis :" Udah ayok, sekarang lagi ada masalah besar disana."
Denis mulai mengemudi mobil dan menceritakan semua kepada Rita, Rita segera membuka situs web dan dia menemukan Skandal tentang Ricko 2 hari yang lalu.
๐๐๐
Ricko :" Ada apa ini? kenapa semuanya ngumpul disini? "
Stella :" Ricko,, aku hamill." Ucapnya sambil menangis dan menunjukan sebuah hasil USG dan tespek kemilan.
__ADS_1
Ricko :"Lo ngpain ngasi tau ke gue? orang lu yang hamil anak orang juga."
Stella :" Kamu inget kejadian malam itu kan? kamu sendiri yang perk*sa aku."
Ricko :"Nisa, jangan mudah percaya!" Ucapnya menghampiri Nisa yang sedang menangis. "Justru aku kesini mau ngasi bukti kalau malam itu aku di jebak."
Pak Johan :" Mana buktinya hah?? kamu jangan sampai buat alasan lagi! kamu menyakiti anakku sama saja kamu menghina saya."
Ricko segera mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam kantongnya. Dia mulai meminta untuk masuk ke dalam rumah Nisa untuk memutar rekaman tersebut.
Semua orang disana terkejut atas apa yang mereka lihat, tidak lama Gibran datang bersama polisi.
Gibran :" Itu pak orangnya." Ucapnya menunjuk ke arah Stella berdiri.
"Sial,, kenapa gue ngak tau kalau disana ada CCTV." Batin Stella mulai merasa ketakutan, di tambah dia kedatangan polisi.
Polisi segera bergegas mengepung Stella, di saat itu juga Mia mulai membuka mulut atas kejahatan yang selama ini dia pendam.
Mia :"Tolong kasi berat hukuman buat dia, sebab kedua orangtuaku dan calon suamiku di bunuh olehnya."
Bu Rahma :" Jadi selama ini dia pelakunya? kenapa kamu baru bilang sekarang naaak."
Mia :"Aku takut bi,, kalau aku buka mulut bisa-bisa dia bunuh orangtua angkat ku." Ucapnya tersedu-sedu. "Dia pernah ancam aku kalau dia mau bunuh mereka."
Stella terdiam mendengarkan keluhan Mia, Mia menatap Stella dengan penuh ketakutan. Entah apa yang merasuki Stella, dia langsung sujud di hadapan Semuanya disana.
Stella :"Maaf kan aku semuanyaaa." Ucapnya mulai mengeluarkan air mata. "Aku akan terima hukuman kalian, tapi tolong maafkan aku."
Nisa :"Bangun Stel." Ucapnya memegang kedua pundak Stella untuk berdiri.
"Gue tau lo paling salah, lo kejam, lo penghianat, tapi semua orang pernah melakukan kesalahan."
Nisa mulai menyeka air mata Stella dengan tangannya, di saat itu juga Denis dan Rita berlari dari mobil menuju ruang tamu.
Rita :"Lo, lo, lo apain Nisa! kalau sampai dia macemยฒ gue cabut ginjal lo." Ucapnya kepada Ricko tergesa-gesa sebab habis berlari.
Gibran :"Udah lo nonton ajah, bentar lagi selesai kok."
Stella memeluk erat Nisa sebelum dia di bawa pergi oleh polisi, suasana kembali normal. Semua kejahatan akhirnya terbongkar, Nisa merasa bersalah karena mudah mempercayai orang lain di banding Ricko.
Nisa :"Maafin aku masss,," Ucapnya dengan wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca.
Ricko :"Ngkpp, ini semua sudah berakhir." Ucapnya memeluk Nisa di depan semua orang.
Pada saat itu juga pak Juan mulai mengambil kesempatan. Dia mengumumkan pernikahan Nisa dan Ricko 4 hari dari sekarang.
__ADS_1
Pak Juan :" Karena semua sudah aman terkendali, Saya mengumumkan pernikahan Ricko dan Nisa 4 hari lagi."
Sontak semua orang disana terkejut, pasalnya rencana tersebut mendadak. Bu Rahma sangat terkejut dengan apa yang dikatakan suaminya..