
Nisa pun membuka matanya setelah 3 hari tidak sadarkan diri, ia membuka matanya perlahan-lahan. Ia melihat Ricko yang tertidur disampingnya langsung teriak histeris sehingga membuat Ricko terbangun.
"Sayang,, kenapa teriak?" Ucap Ricko seketika memeluk Nisa.
Nisa yang merasa semakin erat pelukan Ricko semakin kencang teriakannya dan berkata "Siapa kamu!!" Ricko pun tersadar bahwa Nisa sekarang mengalami hilang ingatan, kini ia harus menjalankan karakter dari seorang suami menjadi orang asing demi kepulihan Nisa.
" Maaf,, aku tadi bermimpi aneh jadi salah ucap. " Ungkap Ricko.
" Pergi kamu dari sini, aku ngak mau kamu dissampingku. " Ucap Nisa.
" Duduk disini ngkpp kan? " Lirih Ricko menunjuk ke arah sofa yang letaknya sedikit jauh dari ranjang Nisa. Sebagai jawaban Nisa mengataan "Orang asing sebaiknya ingat diri."
Ricko menahan air matanya "Seandainya kamu tahu aku adalah suamimu, pastinya kamu tidak akan mengatakan aku orang asing." Batin Ricko dimana ia tidak tega melihat istrinya menderita luka didalam maupun luar. Tidak lama setelah Ricko memberi kamar di kediaman keluarga Nisa, bu Hana dan pak Johan datang menjenguk putrinya. Saat mereka memasuki ruangan Nisa di rawat, semua terkejut saat Nisa mengatakan sesuatu yang bisa di anggap keajaiban.
"PAPA!!!" Ucap Nisa seketika terbangun dari ranjangnya saat melihat pak Johan berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Ricko yang mendengar ucapan Nisa merasa menjadi benar-benar orang asing. Hanya satu orang saja yang diingat Nisa yaitu ayahnya sendiri.
"Putriku sayang,, alhamdulillah kamu sudah siuman dan ingat papamu, jangan pernah buat kami khawatir lagi yah sayangku." Ucap pak Johan yang langsung berlari memeluk putrinya. "Ini mama, kamu ngak ingat dia?"
"Emang aku punya mama?' Ucap Nisa merasa heran. "Kok wajahnya jahat?" Imbuhnya dengan wajah ketakutan.
Bu Hana hanya tersenyum melihat putrinya berkata seperti itu padanya, dengan mengatakan mama ia sudah senang mendengarnya. Raut wajah semua orang disana terlihat sangat cemas sebab mereka takut akan Nisa tidak mengingat siapa mereka lagi. Di tengah pembicaraan yang terbilang cukup melegakan Gibran menelpon Ricko alih-alih menanyakan kabar Nisa, Ricko pun berkata pada Gibran melalui teleponnya untuk bertemu di cafe dekat rumah sakit tersebut dan Gibran menyetujuinya.
💐💐💐
"Alhamdulillah dia sudah sadar, tapi dia cuma inget ayah mertua gua doang, yang lain ngak di inget." Ucap Ricko.
"Sabar Rick, ini ujian terbesar buat kalian. Ohya gue dapet kabar dari pegawai kantor katanya Stella bunuh diri didalam penjara seminggu yang lalu. Dan beritanya baru muncul kemaren malem." Penjelas Gibran.
"Stella? bunuh diri?" Kejut Ricko.
__ADS_1
Gibran menganggukkan kepalanya, Ricko mulai mencari tahu pasti ada yang ganjal antara kematian Stella dengan Nisa.
"Stella bunuh diri hari apa?" Ucap Ricko.
"Denger-denger sih pagi, sehari sebelum insiden Nisa dipukuli."
Ricko pun menyimpulkan bahwa kecelakaan yang di alami Nisa adalah dendam dari seseorang yang merasa kehilangan Stella. Oleh karena itu ia membalas perbuatannya bukan pada Ricko melainkan Nisa. Ricko dan Gibran pun bergegas kerumah Ricko tinggal, mereka yakin bahwa masih ada bukti yang di tinggal pelaku di lokasi kejadian.
Sesampainya di rumah Ricko, mereka langsung memutar ulang rekaman CCTV yang letaknya di teras depan serta balkon kamar Ricko. Terlihat disana 2 orang sudah mengambil posisi mereka masing-masing, dan saat di balkon mereka lihat orang yang berpakaian serba hitam tersebut tidak sengaja menjatuhkan gelang berwarna hitam. Ricko dan Gibran langsung berlari menuju balkon tersebut, dan benar saja terdapat gelang hitam terselip antara pot bunga dan tempat sampah.
Ricko pun mengambilnya dan saat ia memutarbalikkan gelang tersebut terlihat tulisan GB21Y. Ia mengingat bahwa saat Stella menyerahkan semua barang yang dipakai ia juga memiliki gelang bertuliskan GB24Y. Ricko memberitahu Gibran bahwa ini adalah kode rahasia yang dipakai anggota mavia saat ia bertugas di Jerman.
"Wah,, lagi-lagi kita harus berurusan sama anggota mafia." Ucap Gibran.
Ricko meminta Gibran agar kembali kerumahnya, sebab ia akan pergi ke suatu tempat yang kemungkinan hanya orang tertentu yang mendaptkan akses masuk kesana. Gibran menyetujuinya dan kembali pulang kerumah.
__ADS_1