
Nisa merasa sedikit keberatan sebab pak Juan langsung memberitahu berita tersebut tanpa berbicara terlebih dahulu.
Ricko :" Pah bukannya itu kecepetan yah? kita baru ajah kelar dari masalah."
Pak Juan :" Justru itu bgus,,, kita bisa langsung adain pernikahan, lagi pula itu juga bertepatan di hari ultah papa hehe."
Bu Rahma :"Papa ini apaansih."
Pak Johan :" Ngkpp, saya setuju pendapat pak Juan "
Pak Juan :"Tuh, papanya Nisa ajah ngk keberatan."
Ricko :"Lah kan yang nikah Ricko bukan papanya."
Mia :"Udah mending tanya Nisa nya langsung ajah dripada ribut gini."
Nisa :" Kalau menurut Nisa sih sebenarnya kecepatan, tapi kalau menurut orang tua itu jalan terbaik insya allah berjalan baik juga."
Semua orang lega mendengar jawaban dari Nisa. Ricko merasa senang akhirnya sebentar lagi dia akan menjadi seorang suami.
💐💐💐
Keesokan harinya kedua keluarga tersebut mulai sibuk mengurus persiapan pernikahan. Nisa membeli gaun pernikahan nya di temani Rita.
Nisa :"Rit, bagus ngak??"
Rita mengukur badan Nisa dengan setumpuk jarinya kemudian mengedipkan sebelah mata untuk melihat pas atau tidak di badan Nisa.
__ADS_1
Rita :"Cantik tuh,,"
Nisa :"Mbak, tolong di bungkus yah."
Setelah selesai di kemas, Nisa segera menuju kasir untuk membayar gaun tadi.
Xx :"Selamat yah mbak, bentar lagi jadi istri orang kaya." Ucap pelayan kasir dengan tersenyum.
Nisa :"Hehe makasih mbak." Ucapnya kembali tersenyum.
Nisa mulai melajukan mobilnya untuk pulang kembali kerumah, namun saat di perjalanan dia mendengar cacing di perut Rita sedang berpesta.
"Grrgrgrgrgg.... "
Rita menelan ludah saat dia melihat warung bakso di pinggir jalan, dia mulai mengelus-elus perutnya. Nisa menyadari kalau Rita sedang lapar ia pasti belum sarapan, pasalnya Rita berangkat ke rumah Nisa saat matahari belum terbit.
Rita :"Tdi pagi belum ada makanan jadi aku main cabut ajah deh."
Nisa tersenyum mendengar penjelasan Rita, dia segera memarkir mobilnya di pinggir jalan. Mereka memesan 2 mangkok bakso dan mulai menikmatinya.
💐💐💐
Gibran :"Tantee,, Ricko nya ada ngak?"
Bu Rahma :"Ada di kamarnya, panggil ajah."
Gibran segera beranjak ke lantai 2 tempat di mana kamar Ricko berada. Saat dia memasuki kamar Ricko, dia mencium aroma yang sangat menyengat dari balkon.
__ADS_1
"Ngapain lagi itu anak." Batin Gibran saat melihat Ricko duduk di balkon.
Gibran :" Lo ngapain disini?"
Ricko :"Lo ngak liat gue lagi bakar daging."
Gibran :"Sendiri ajah? kok ngak ngajak."
Denis :"Lo itu orang nya sibuk jadi ngak di ajak deh." Ucapnya keluar dari toilet.
Gibran :"Yah biar gitu tetap bilang dong, kan gue bisa batalin semua jadwal hari ini."
Ricko :"Tetap ngak pokoknya, lo ngapain datang kesini?"
Gibran :"Adek lo mana? kok ngak pernah keliatan."
Ricko :" Ohh Lisa maksud lo? dia pergi ke luar kota ada urusan mendadak."
Gibran :"Yah pantesan sudah 2 minggu gue ngak liat diaa. Kapan tu bocah bru balek?"
Ricko :"Malam ini bisa jadi."
Gibran :"Oo gitu,," Ucapnya sambil menarik sepotong daging dari tempat pembakaran.
Denis :"Kebal banget tu kulit." Ucapnya saat melihat Gibran mengambil daging.
Gibran :" Yaudah kalau gitu gue balik ke kantor, ntar kalau dia sudah balek lo kabarin gue yah."
__ADS_1
Gibran segera kembali menuju kantornya, saat di perjalanan dia selalu terbayang wajah cantik Lisa. Sangat mudah baginya untuk mendekati Lisa sebab dia adalah adik dari sahabatnya sendiri.