
Beberapa minggu berlalu setelah Daren melihat Zia bersama Zain di Restoran waktu itu.Hari ini Daren membulatkan tekad nya untuk menemui Zia lagi.Setelah menyuruh seseorang menyelidiki tentang Zia termasuk Zia yang sudah resign dari perusahaan Adhitama Group.
Daren duduk di kursi kemudi didalam mobil, pandangan nya fokus memperhatikan orang keluar masuk perusahaan.
"Zia...."Panggil Daren sedikit berteriak saat melihat Zia keluar kantor seorang diri.Karena hari ini Cindy pulang lebih cepat karena ibunya sakit.
Zia menoleh kemudian segera mempercepat langkahnya menuju mobil saat tahu orang yang memanggilnya yaitu Darren .
"Zia Tunggu dulu! Kakak mau bicara, "Darren menarik tangan Zia saat ingin membuka pintu mobil .
"Lepas Kak! " Zia menepis tangan Daren. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, " sahut Zia datar.
"Please! kasih Kakak waktu untuk bicara sama kamu Zia.Kakak hanya mau minta maaf tidak lebih ,"Daren memasang wajah memelas.
"Oke bicara di sini saja, bisa kan ? "
"Kita bicara di tempat lain saja,biar lebih nyaman. "Usul Daren yang langsung di tolak oleh Zia.
"Gue nggak bisa Kak, ini udah sore mau pulang ," Sahut Zia berbohong supaya bisa menghindari Daren.
"Kakak janji nggak bakalan lama ," Daren masih berusaha mengajak Zia.
"Ngak bisa Kak, kalau mau disini saja.Kalau ngak mau Zia pulang sekarang, " Zia kembali membuka pintu mobil tapi lagi tertahan oleh tangan kekar Daren.
"Kakak mohon ini yang terakhir,habis ini Kakak janji ngak bakalan gangguin kamu lagi. "
Zia akhirnya mengalah mengikuti kemauan Daren dari pada digangguin Daren terus,lagian Daren juga bilang ini yang terakhir pikirnya.
Mobil yang dikemudikan Daren berhenti di sebuah Hotel yang lumayan jauh dari kantor Zia.
"Kok ke hotel? "Zia menatap Daren bingung.
"Ya nggak papa dong ke hotel kan kita cuman makan di restoran hotel doang bukan mau ke kamar, " Daren tersenyum penuh arti.
"Jangan takut sayang kakak tidak mungkin menyakiti orang yang kakak cintai, " Daren paham apa yang Zia pikirkan.
"Tolong jaga batasan Kak, " Zia menatap tajam Daren yang lancang menyentuhnya.
' Munafik', Daren membatin.
"Sorry Kakak ngak sengaja,"Daren melepaskan tangan Zia.
__ADS_1
"Pesan dulu Sayang !" Daren memberikan buku menu pada Zia.
"Zia Kak,biasakan panggil Zia Nggak usah panggil sayang-sayang.Kita tidak hubungan apapun lagi, " Zia kembali mengingatkan.
"Oh sorry,Kakak ke toilet sebentar ya, "
Daren tersenyum melihat sikap Zia yang sudah lama dia rindukan.
Darren menyuruh seorang pelayan memasukkan obat tidur ke dalam minuman Zia .Hari ini tekad Daren sudah bulat dia harus bisa memiliki Zia seutuhnya meskipun dengan cara yang licik.
"Lama ya ?"tanya Daren duduk kembali di kursi di hadapan Zia.
"Nggak papa santai aja ,ini makanannya udah datang kita makan aja dulu nanti Zia kemalaman takut orang rumah khawatir, "Zia mengambil sendok dan mulai memakan makanannya.
'Kepala gue kok tiba-tiba pusing ya?mata juga ngantuk banget 'monolog Zia dalam hati.Zia mengambil ponselnya ingin mengabari Zain tapi sial ponselnya kehabisan daya .
"Sial, Kok pakai habis baterai segala sih ?"Zia berbicara lirih. Beberapa waktu setelah menyelesaikan makan nya Zia merasa kepala nya pusing.
"Kenapa say ah maksudnya Zia ?"tanya Daren pura-pura tidak tau.
"Nggak papa Kakak ponsel gue mati, "sahut Zia agak lemas karena matanya terasa berat sekali .Darren tersenyum melihat Zia memijat pelipis nya dan menguap berulang kali 'obat nya sudah beraksi pikirnya'.
Sedangkan di tempat lain, Zain baru sampai di parkiran kantor Zia .Zain mengambil ponsel langsung menghubungi Zia tapi nomornya tidak aktif.
"Pak,apa Bu Ziandra sudah pulang? "tanya Zain pada satpam yang di depan pintu masuk.
"Udah Pak sekitar 1 jam yang lalu." Jawab pak satpam sopan.
"Bu Ziandra nya pulang sama siapa Pak? mobil nya masih disini, " Zain bertanya sambil menunjuk dimana mobil tunangan nya terparkir.
"Saya ngak liat Pak. Mbak Cindy sih tadi pulang duluan karena ibu nya masuk rumah sakit Pak. " Ucap pak satpam lagi menjelaskan.
Ditengah kebingungan terlintas di kepalanya untuk menghubungi Cindy.
Dreeettt...
"Halo Tuan, "sapa suara seseorang dari seberang sana .
"Ziandra kemana? "tanya Zain dingin.
"Tadi masih di kantor Tuan, " Jawab Cindy apa ada nya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Cindy,Zain langsung mematikan panggilan nya.
"Jo,kamu hubungi Elo sekarang !" Zain memberi perintah saat panggilan terhubung. "Suruh lacak posisi Ziandra terakhir kali di mana,soalnya Ziandra tidak ada di kantor, " sambung nya lagi.
"Udah lo cari belum? " tanya Jo penasaran.
"Udah Jo, kata satpam dia udah pulang dari tadi. "
"Emangnya lo telat jemput Zia makanya dia pulang duluan ?" Tanya Jo lagi.
"Iya, gue terjebak dijalan,macet banget ada kecelakaan beruntun. " Zain mengatakan alasannya. "gue tunggu dalam waktu setengah jam. " sambungnya lagi kemudian mematikan panggilan.
Zain mondar-mandir di depan mobil sesekali melihat layar ponsel ditangan nya.
"Permisi Pak Zain, " salah satu satpam yang kebetulan lewat menyapa Zain.Zain hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat karena masih fokus pada ponselnya.
"Bapak nungguin Bu Ziandra?"Tanya satpam itu lagi.
"Iya Pak," Zain menjawab singkat. "Bapak liat ngak? " Zain menanyakan satpam yang lain.
"Lihat Pak,tadi ada laki-laki yang bicara sama Ibuk, terus bawa Bu Ziandra sedikit memaksa Pak.Saya nggak berani ikut campur Pak,"satpam sedikit takut mengatakan nya.
Zain yang mendengar cerita dari satpam tersebut mengepalkan tangan nya kuat, rahang nya mengeras menahan emosi. Siapa yang berani mengusik milik nya.
"Bapak kenal laki-laki itu siapa ?" tanya Zain pada Pak satpam .
"Maaf Pak saya nggak tahu,soalnya nggak pernah lihat, " akunya.
Saat sedang berbicara dengan Pak satpam ponsel Zain berdering pertanda panggilan masuk .
"Halo,gimana Jo?" Zain ketar ketir menantikan jawaban Jo.
"Posisi terakhir ponsel Zia ada di sebuah hotel jauh di pinggiran kota Zain, " Jo menyampaikan informasi tentang Zia.
"Pinggiran kota?" Tanya Zain lagi. "Apa mungkin Zia di culik ya Jo? " sambung nya menerka-nerka.
"Lo bodoh atau gimana Zain, coba cek cctv lobby kantor Zia! " Jo tak habis pikir dengan pemikiran Zain yang lelet.
"Astaga, gue lupa. " Zain menepuk kening nya.Karena terlalu mengkhawatirkan Zia, Zain sampai lupa mencari tau siapa dalang dari hilang nya Zia.
Apakah Zain bisa menemukan Zia?
__ADS_1
Mampir bab selanjut nya ya, author kasih jawaban nya di bab sebelah..
Jangan lupa kasih like, vote juga, rate bintang lima.