
Bukan nya menjawab, mama malah menggeleng sebagai jawaban.
"Maksud nya apa? " tanya nya, perasaan Zain mendadak tidak tenang.
Kemudian Zain beralih menatap papa mertua nya mencari jawaban.
"Zia ngak di rumah, dia ke rumah sakit cek kandungan. " tutur nya membuat Zain mengelus dada lega.
Papa membuang muka seraya menutup mulut nya menahan tawa melihat wajah tegang Zain saat di kerjai istri nya.
"Masuk dulu Zain? " ajak Mama mempersilahkan menantu nya masuk.
Zain melirik arloji di tangan nya,kemudian menatap mama mertua nya.
"Zain mau nyusul Zia, Ma!" ucap nya menolak halus ajakan mertua nya.
Membunyikan klakson mobil sebagai pamitan sebelum melajukan mobil nya.
Dokter yang tadi nya akan melakukan pemeriksaan pada Zia, terkejut saat Zain langsung menerobos masuk ruangan pemeriksaan.
Ya, Zain langsung menuju ruangan Dokter kandungan setelah tiba di rumah sakit tempat Zia biasa kontrol.
"Astaga Mas! Kenapa kamu datang seperti orang di kejar setan? " tegur Zia yang shock melihat suami nya datang.
Zain mengatur nafas nya sebelum menjawab pertanyaan Zia.
"Mas buru-buru Sayang, untung pemeriksaan nya belum mulai! " ungkap nya tersenyum lega, berdiri di samping Zia yang sedang berbaring di bed.
"Pipi datang sayang! " menyapa bayi dalam kandungan Zia, mencium perut buncit istri nya.
"Udah dong Mas, geli ih. " tangan Zia mendorong kepala Zain dari perut nya, merasa geli bersentuhan dengan jambang halus Zain.
"Bisa kita mulai pemeriksaan nya, Bu? " suara Dokter mengalihkan atensi suami istri di hadapan nya.
"Silahkan Dok! " Zain sedikit menggeser tubuh nya memberikan ruang untuk dokter tersebut.
"Coba lihat ini! wah ini dedek nya udah besar yah perkembangan nya sangat bagus, usia nya udah masuk 21 minggu, semua nya normal tidak ada yang perlu di khawatir kan, berat badan nya juga sesuai dengan usia nya ya, Bu" Terang dokter, menunjuk pada gambar yang ada di layar monitor.
__ADS_1
Zain dan Zia sama-sama menatap bahagia gambar bayi mungil itu, buah cinta mereka berdua.
"Jenis kelamin nya udah bisa di ketahui, Dok? " tanya Zain tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar monitor.
"Sudah, Pak. Kita liat dulu ya! dedek nya mau ngak ngasih tau ayah nya? " ucap dokter, menggerakkan alat di atas perut buncit Zia.
"O ho, kayak nya cowok! diam ya dek biar dokter bisa tahu. Ayah sama Bunda penasaran ini. " kelakar nya seolah bicara pada Bayi yang bergerak lincah dalam kandungan Zia.
"Betul, Pak. Dedek nya cowok, selamat untuk kalian! " ucap dokter, memberikan selamat pada mereka berdua.
"Yes, baby boy. " sorak Zain bahagia, mengangkat ke dua tangan nya dengan bergoyang seperti penari cheliders. Zia ikut tertawa melihat Zain yang sangat bahagia.
"Terima kasih, Dokter! "
"Terima kasih Sayang, sudah menjaga nya dengan baik di saat aku tidak ada, aku sangat mencintai kalian berdua. " Ungkap nya dengan penuh perasaan, mencium lembut kening istri nya.
"Aku juga mencintai mu. Maafkan aku yang sempat meragukan mu, Mas." ucap Zia lembut, Zain menggeleng tidak suka dengan apa yang Zia katakan.
Dokter yang ada di antara mereka pun ikut bahagia, melihat keharmonisan keluarga kecil tersebut.
"Ini udah trimester ke dua ya, Bu. Pesan saya masih sama, rajin minum susu hamil dan juga vitamin nya ya, perbanyak makan makanan yang bergizi, hal ini sangat membantu perkembangan dedek nya. Yang pasti nya jangan kelelahan, hindari hal yang bisa membuat pikiran kita stres. " Terang nya menjelaskan.
"Baiklah, Dokter! sekali lagi terima kasih. " ucap Zain lagi, kemudian membantu Zia berjalan keluar dari ruangan dokter kandungan.
"Gimana sama Angela, Mas? " tanya Zia di sela langkah nya, menoleh pada Zain yang di sebelah nya merangkul pinggang istri nya.
"Dia terpaksa di penjara. Kejiwaan Angela terganggu, Sayang. Dengan terpaksa polisi juga membawa nya. Seandainya dia ngak berulah, rencana nya dia mau aku bawa menemui kamu untuk membersihkan nama baik ku. " terang Zain, sengaja tidak menceritakan semua nya, karena Zain tidak ingin membebani pikiran Zia.
"Kasihan ya, Mas! " sahut Zia merasa iba.
Mereka berdua langsung masuk mobil, fan melaju menuju kediaman Nugraha.
Malam hari nya,
"Mas, lama banget sih! " ketus Zia saat melihat Zain keluar dari kamar mandi. Zain tersenyum berjalan menghampiri Zia yang sudah berbaring di atas ranjang.
"Ada apa, humm? " Tanya nya lembut. Zain langsung membawa Zia ke pelukan nya, saat Zia merentangkan ke dua tangan nya.
__ADS_1
"Kangen? " tanya Zain mengerlingkan mata nya, Zia mendengus kesal. Tidak perlu di tanya, Zain pasti sudah tau.
"Ini semakin berisi yank? " tanya nya lagi seraya mengecup leher Zia, tangan nya sudah bermain di bukit kembar istri nya.
"Mas! " Panggil Zia serak, karena sudah terpancing ulah Zain.
Mendengar suara berat Zia, membuat Zain tidak bisa menahan lagi. Kerinduan karena lama berpisah, membuat gairah semakin membara.
Zain langsung mengubah posisi tubuh mengungkung Zia, erangan menggema dari mulut ke dua nya saat senjata tumpul itu tertanam sempurna.
"Pelan-pelan, Mas.Nanti baby nya tergencet! " tegur Zia dengan nafas memburu di saat Zain terus memompa tubuh nya.
"Mas akan hati-hati Sayang! " balas nya, mengubah posisi Zia yang aman untuk istri dan anak nya.
Peluh bercucuran dengan nafas memburu, kedua nya terkulai lemas saat gelombang kenikmatan itu tiba.
"Terima kasih, Sayang. " Zain mengecup kening Zia lama, kemudian membaringkan tubuh nya di samping sang istri.
Zia membenamkan wajah nya di dada bidang suami nya.
"Mas! " panggilnya menepuk wajah Zain yang damai dalam tidur nya.
"Iya, Sayang! " jawab nya serak, dengan mata yang masih terpejam.
"Zia lapar," rengek nya manja menggoyangkan tubuh Zain.
"Makan, Sayang!" Sahut nya, mengubah posisi tubuh nya memunggungi Zia.
"Mas! " panggil Zia kuat di dekat telinga Zain. Dengan terpaksa Zain bangun mengusap kuping nya yang berdengung akibat suara Zia.
"Zia mau makan nasi goreng, tapi Mas yang masakin. Sekarang! "
"Apa? " pekik nya dengan mata melotot. Sejurus kemudian tersenyum kikuk menatap Zia.
"Kita beli aja ya, Sayang! Mas ngak pernah masak, takutnya kalau di paksakan malah bikin kamu sakit perut. " Ungkap nya jujur. Seumur hidup Zain tidak pernah memegang peralatan dapur, karena terlahir dari keluarga kaya kalaupun Zain jauh dari keluarga nya, sudah pasti ada pembantu yang akan melayani.
"Ngak mau! kalau tidak__" ucapan Zia terhenti menatap lekat wajah suami nya.
__ADS_1
****
Tbc