Terimakasih Telah Mengkhianatiku

Terimakasih Telah Mengkhianatiku
Penikahan Joshua dan Clara


__ADS_3

Hari terus berlalu banyak hal yang sudah terlewati, begitupun dengan Clara dan Jo.


Hari ini di mana dua insan yang saling mencintai satu sama lain, akan mengikrarkan janji suci sakralnya sebuah pernikahan, menghalalkan hubungan kedua nya mengikuti sunnah rasul.


"Saya terima nikah dan kawin nya Clara Saputri binti Sutomo dengan mas kawin tersebut di bayar tuna... i. " Sahut Jo lugas menjawab ijab dari ayah Clara.


Saaahh.


Kata sah menggema di ballroom hotel mewah milik keluarga Adhitama.


Ya, pernikahan Jo dan Clara di adakan di hotel keluarga Adhitama sesuai permintaan Zain.


Setelah semua ritual selesai, kedua pengantin kembali di bawa ke kamar mengganti gaun pengantin, untuk acara pesta yang akan di adakan satu jam ke depan.


"Kamu nangis, Sayang? " tanya Zain tanpa sengaja melihat Zia mengusap mata nya.


"Zia jadi ingat waktu kita nikah dulu, Mas! " Tutur nya lembut, merebahkan kepala nya di bahu sang suami.


"Jangan nangis lagi ya, nanti dedek nya ikut sedih loh kalau Mimi nya baperan gini! " seru Zain mengelus perut buncit istri nya yang sudah menginjak usia 8 bulan.


"Wah! dedek nendang, Sayang! " seru Zain berbinar, merasa bahagia saat mendapatkan respon dari anak nya.


"Dedek setuju kan sama apa yang Pipi bilang? " tanya nya lagi, kali ini menunduk menempelkan telinga nya di perut Zia.


"Jangan kuat nendang nya Sayang, perut Mimi ngilu. "Ucap Zia lembut terdengar seperti rintihan.


" Kita ke rumah sakit aja, Sayang! " Seru Zain yang sudah membungkuk bersiap menggendong tubuh sang istri.


"Ngak usah, Mas. Kadang sering gini juga kalau dia lagi aktif gerak! " terang Zia mengulas senyum, mengusap wajah Zain yang berubah murung.


"Maaf! " cicit nya penuh penyesalan.


"Maaf udah buat kamu kesakitan karena mengandung anak ku! " lanjut nya lagi menatap iba pada istri nya.


"Suttt! jangan bicara seperti itu. Ini udah kodrat nya seorang perempuan, Mas.


Zia bersyukur bisa merasakan yang nama nya hamil itu gimana, tidak semua perempuan bisa seberuntung Zia. " Tutur nya lembut, menempelkan jari telunjuk nya di bibir sang suami.

__ADS_1


"Udah ah, jangan sedih-sedih. Ini acara nikahan bukan melayat, semua orang sedang bahagia! " seru Zia mengundang gelak tawa di bibir Zain.


Zain menggandeng tangan Zia menuju pelaminan, dimana ke dua insan yang baru saja menjadi pasangan suami istri itu duduk bersanding. Binar bahagia tercetak jelas di wajah kedua nya, menebarkan senyum manis pada setiap tamu undangan yang datang mengucapkan selamat untuk mereka.


"Selamat ya, Bro! " ucap Zain memeluk Jo, menepuk pelan punggung sahabat nya.


"Butuh obat kuat, ngak? " tanya Zain berbisik di telinga Jo, yang langsung mendapatkan pukulan dari Jo.


"Lo kira gue lemah syahwat? " tanya Jo lantang tanpa sadar. Clara dan Zia saling pandang kemudian beralih menatap suami mereka masing-masing.


"Jangan bicara yang aneh-aneh, Mas. Malu kedengaran sama tamu yang lain. " Tegur Zia memukul bahu suami nya.


"Iya, Sayang. Becanda! " seru Zain sedikit meringis, beralih menatap tajam pada Jo yang sedang menertawakan nya.


"Cla, selamat ya! akhir nya lo nyusul gue sama Jesika juga.Semoga lo berdua bahagia selamanya, menua bersama sampai maut memisahkan." Seru Zia memeluk sahabatnya. Menempel kan pipi nya pada kedua pipi Clara bergantian.


Kemudian Zia beralih pada pengantin pria, Jo merentangkan tangan nya berniat memeluk Zia, dengan cepat di tahan oleh Zain.


"Eits.. Tidak ada acara peluk-pelukan! ini bini gue. " Larang Zain tegas, menjauhkan tubuh Zia dari Jo.


"Ya elah Zain, gue tau Zia bini lo! gue juga udah punya bini. Ngak usah berlebihan gitu. " Sahut Jo ikut kesal melihat Zain yang masih saja posesif.


"Ayo, Sayang. Kita pulang! " seru nya mengajak Zia, menuntun Zia dengan sangat hati-hati turun dari pelaminan.


"Gue pulang dulu, ya! " pamit nya mengikuti langkah sang suami.


Didalam mobil Zia lebih banyak diam, merebahkan kepala nya di bahu Zain dengan tangan nya terus memainkan kancing kemeja suami nya.


"Capek, Sayang? " tanya Zain melirik istri nya sekilas.


"Mas! Zia pengen minta sesuatu, boleh? " tanya Zia sedikit merengek, mendongak menatap wajah tampan suami nya yang masih fokus dengan setir mobil.


"Boleh, Sayang! " seru Zain lembut mengusap kepala Zia penuh kasih sayang.


Wajah Zia langsung berbinar, dengan gerakan cepat langsung merubah posisi duduk nya.


"Zia pengen bulan madu lagi, " celetuk nya tiba-tiba, membuat Zain tersedak ludah nya sendiri mendengar permintaan istri nya.

__ADS_1


"Mau apa, Sayang? " lagi Zain bertanya memastikan kalau apa yang ia dengar tidak salah.


"Mau bulan madu lagi! " jawab nya tersenyum lebar mengulang perkataan nya.


Mata Zain melebar menatap tak percaya dengan permintaan istri nya.


"Apa ini bisa di katakan ngidam? ini mah bukan keinginan baby tapi Mimi nya. " Gumam Zain dalam hati.


"Serius nih? " lagi-lagi Zain bertanya.


"Ihhh... Iya Mas. Kamu ngak mau? " tanya Zia memberengut kesal, karena Zain sedari tadi bertanya terus.


"Eh, bukan gitu sayang! " sanggah Zain cepat.


"Di tunda dulu bisa ngak, Sayang? Jo kan masih cuti bulan madu. Gimana kalau kita pergi nya kalau Jo udah masuk kantor, ngak mungkin juga Mas nyuruh Mami buat handle perusahaan kan? " terang Zain hati-hati.


"Baiklah, " sahut Zia lirih, kembali menyandarkan tubuh nya di kursi mobil.


"Maaf ya Sayang! Mas ngak bisa memenuhi keinginan kamu. " Sesal nya, menatap lekat wajah damai istri nya yang tertidur pulas, mengelus lembut surai panjang istrinya.


Zain menggendong tubuh Zia yang tidak langsing lagi melangkah dengan hati-hati menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


"Mas, " panggil Zia serak, merasa tidur nya terusik saat Zain membuka gaun nya.


"Iya, Sayang! " seru nya lembut, menghentikan kegiatan nya kemudian beranjak duduk di samping Zia.


"Peluk, " rengek nya manja. Zain mencubit hidung Zia gemas, kemudian ikut naik ke tempat tidur membaringkan tubuh nya di samping Zia.


"Zia gendut kan, Mas? " tanya Zia mendongak menatap wajah suami nya.


"Iya, eh bukan! " Zain kebingungan menjawab pertanyaan Zia.


"Maksud Mas, sedikit berisi karena sedang hamil anak kita. " Terang Zain sedikit gagap, mengulas senyum lembut dengan tangan nya mengusap punggung Zia lembut.


"Mas tetap mencintaimu apa ada nya, Sayang. Jangan terlalu di pikir kan. " Ucap Zain lembut.


Sebuah ide terlintas di benaknya untuk memberikan kejutan pada Zia. Mengukir kebahagiaan dalam keluarga kecil mereka.

__ADS_1


****


Jangan lupa likeđź’•


__ADS_2