Terimakasih Telah Mengkhianatiku

Terimakasih Telah Mengkhianatiku
Gagal


__ADS_3

"Aku gak tahan lama-lama disini, " sungut Zain melangkah keluar. Badannya sudah panas dingin melihat baby Zac yang begitu lahap menyedot aset berharga milik pria itu.


Zia tergelak, menatap punggung pria itu yang sudah hilang di balik pintu walk in closet.


"Mau kemana? " tanya Zia bingung, beralih menatap bantal dan selimut di tangan suaminya.


"Mau ngungsi, " jawab Zain ketus. Hatinya masih dongkol mengingat tidak boleh bercinta. Menoleh pada Zia sekilas kemudian melangkah hendak pergi.


"Apa kamu tidak mencintaiku lagi? " wajah Zia berubah murung, menatap suaminya dengan sorot kekecewaan.


Baru saja ia habis melahirkan, Zain sudah banyak berubah. Tidak ada lagi kata-kata cinta seperti biasa, bahkan sekarang pria itu tidak ingin lagi tidur bersamanya.


Zain menghela nafas berat, berbalik menghampiri Zia yang duduk di atas ranjang.


"Kenapa nanya gitu? " turut mendudukkan tubuhnya di depan Zia. Sebenarnya Zain juga cemburu, melihat Zia yang selalu sibuk dengan putra mereka dan mengabaikan dirinya. Tidak mungkin juga pria itu mengatakan yang sebenarnya, bukan mendapatkan simpati yang ada malah antipati dari istrinya.


"Kamu berubah! " Zia berbaring kemudian menarik selimut membungkus seluruh tubuhnya.


Zain menghela nafas dalam mengeluarkan dengan perlahan. "Yank, aku gak tahan kalau dekat kamu te__."


"Gak tahan karena aku sekarang jorok, begitu maksudmu? " potong Zia cepat. menyingkap selimut yang menutupi wajahnya.


Memang Zia akui, selama menjadi ibu ia tidak terlalu merawat diri, mandi saja harus berburu waktu di saat Zac tidur. Badannya yang tidak sebagus dulu dan juga penampilan yang kucel.


"Astaga Sayang! bukan seperti itu, " Zain memijat ruang di antara alisnya. Tidak habis pikir dengan pemikiran wanita itu.


"Aku ngak tahan mau makan kamu, " ungkap Zain akhirnya. Kemudian memilih pergi meninggalkan Zia dengan mata dan mulut yang menganga.


"Memakan ku? apa suamiku sekarang berubah jadi drakula? " bisiknya lirih bertanya pada dirinya sendiri.


Mata Zia mengerjap mencoba kembali mencerna maksud suaminya, sesaat kemudian wanita itu terkekeh baru mengerti apa maksud Zain yang ingin memakannya.


Sedangkan Zain memilih pergi ke dapur, membuka kulkas berharap bisa mendinginkan otaknya yang terasa panas. Membuka pintu kulkas, ia lantas memasukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ah, dingin! " gumam Zain seraya menepuk-nepuk kepalanya yang terasa dingin . Dengan langkah ringan pria masuk ke dalam kamar baby Zac, membaringkan tubuhnya di atas sofa empuk yang sengaja letakan di sana untuk mereka bermain kelak.


"Ayo dong mata merem! " Zain menepuk pelan matanya, membolak-balikkan badan frustasi. Pria itu bangun lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Berharap setelah ini bisa tertidur.


"Kalau seperti ini bisa-bisa gue ngak tidur sampai pagi, " Zain melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Namun,mata pria itu masih terbuka lebar.


Dengan langkah gontai, pria itu masuk ke kamar dimana istri dan anaknya berada.


Turut membaringkan tubuhnya, dengan tangan melingkar di pinggang wanita itu.


"Apa pun keadaannya, kamu adalah tempat ternyaman ku untuk pulang, " Zain mencium pucuk kepala Zia. Kantuk pun mulai menyerang hingga mata pria itu mulai terpejam memasuki alam mimpi.


Pagi harinya.


Melihat Zain yang keluar dari kamar mandi, gegas wanita itu membantu suaminya bersiap. Mengambil pakaian kerja yang sudah di siapkan.


"Kamu sarapan aja dulu, ini biar aku aja! " tutur Zain, yang sudah hampir selesai memakai pakaiannya.


Semenjak kehadiran baby Zac, hanya sedikit waktu yang mereka punya untuk momen seperti ini. Zia menepuk dada suaminya seraya tersenyum kecil.


"Selesai, " mata Zia terpaku menatap kagum pada pria itu. Zain adalah sosok sempurna. Tidak hanya wajah yang tampan tapi ia juga mapan. Memiliki suami idaman banyak wanita, ada rasa takut tersendiri dalam dirinya. Apalagi sekarang badan wanita itu tidak sebagus dulu lagi.


"Ada apa? " tanya Zain, melihat Zia yang melamun. Ujung jarinya mengangkat lembut dagu Zia. Membuat Zia mendongak.


"Apa kamu akan mencari wanita lain? " suara Zia begitu berat.


"Kamu ngomong apa sih? " Zain langsung menarik tubuh Zia ke dalam pelukannya. "Bagaimana pun kamu, aku tetap mencintaimu apa adanya. Jadi, tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting. Aku bangga sama kamu, yang mau merelakan tubuhmu yang bagus ini demi mengandung anak ku. Bahkan kamu rela bertaruh nyawa demi menghadirkan buah cinta kita. Terima kasih, wanita hebatku, " ungkap Zain panjang lebar.


Sedikit menunduk menjangkau bibir ranum yang selalu terasa manis bagi Zain. Mengecup dan ******* bibir wanita itu sejenak.


"Kan? langsung on dianya, " sungut Zain. Mengarahkan tangan Zia sesuatu yang sudah mengembung di balik celananya.


"Ihh..mesum, " Zia mengerucutkan bibirnya. "Mau di puaskan dengan cara lain? "tanya Zia dengan nada sensual. Mengusap rahang pria itu sembari mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Gimana caranya? "


"Rahasia! " pekik Zia tertahan mengerlingkan matanya nakal.


Pria itu langsung menangkap tubuh Zia yang hendak pergi. Zia berjinjit membisikkan sesuatu di telinga Zain.


Mulut dan mata pria itu membulat bersamaan, sesaat kemudian pria itu berjingkrak mengangkat kedua tangan di atas kepala berseru kata yes seperti anak kecil.


Dengan langkah ringan Zain memasuki perusahaan besar Adhitama. Bibirnya melengkung membentuk senyuman, kebahagiaan bersinar di matanya.


"Lo kenapa? happy banget, " tanya Jo menatap Zain dengan bingung.


"Kepo! " tukasnya, seraya memutar mata kesal. Kemudian mulai menyibukkan diri dengan berkas yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.


Jo mendengus kemudian melangkah keluar, setelah meletakkan beberapa dokumen di atas meja Zain.


"Halo jagoan, Pipi pulang! " Zain mencium pucuk kepala Zia kemudian beralih mencium kedua pipi anaknya.


"Kenapa cepat pulangnya? " tanya Zia. Melihat jam dinding menunjukkan pukul 3 sore, itu artinya Zain pulang 2 jam sebelum waktunya.


Zain tersenyum penuh arti, sedikit mencondongkan badan. "Mau mempersiapkan diri untuk nanti malam. " Zia termangu sejenak, matanya menyorot tajam pada Zain.


Malam mulai menyapa, Zain duduk di sofa dengan tap di tangannya. Sesekali mencuri pandang pada Zia yang sibuk menyusui baby Zac.


"Sekarang waktu untuk kita berdua, " ujar Zain berbisik.


Zain membalikkan badan wanita itu. Sentuhan lembut dari bibir Zain, membuat mata wanita itu terpejam. Ciuman itu perlahan turun ke leher jenjang Zia, menyesap leher putih Zia hingga menyisakan bekas merah.


Zain menuntun Zia ke atas ranjang tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.


Memposisikan diri di antara ke dua kaki Zain. Baru saja Zia bersiap untuk melakukan aksinya, tangisan baby Zac menghentikan kegiatan panas mereka. Zain mengeram kesal, menahan hasrat yang sudah di ubun-ubun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2