
"Loh! kok kamu disini? " tanya Zia, menatap pada Daren penuh selidik.
"Iya.. Celine mau melahirkan, " jawab Daren sedikit canggung setelah apa yang sudah terjadi.
"Cewek apa cowok? " tanya nya dengan berbinar.
"Belum tau, Ini masih mau memanggil Dokter! " beritahu nya jujur.
"Biar aku yang panggilin, kamu temani Celine aja!" ucap nya berniat pergi, tapi tertahan oleh tangan Zain. Zain menatap Zia dengan tatapan sulit di artikan, dada Zain terasa sesak melihat perhatian Zia pada Daren, sampai melupakan keberadaan nya.
"Biar Daren saja! kita pulang sekarang, kamu harus istirahat! Jaga kandungan kamu! " ucap Zain dingin penuh penekanan.
Tanpa memberikan Zia kesempatan bicara pada Daren, Zain merangkul Zia berjalan meninggalkan Daren yang masih menatap mereka dengan tatapan terluka.
"Kamu sudah hamil, aku benar-benar sudah kehilangan mu kali ini.Tapi aku bahagia, kamu bersama pria yang tepat, tidak pecundang seperti ku. " gumam nya tertawa kecut.
"Izin kan aku tetap mencintaimu dalam diam. " Batin nya menatap sendu punggung Zia yang sudah hilang di balik tembok.
Disaat seseorang sudah pergi, di situlah baru kita menyadari betapa dia sangat berarti.
Zain mulai melajukan mobil nya setelah memastikan Zia duduk dengan nyaman, meskipun merasa kecewa, Zain tetap mengutamakan Zia di atas segalanya.
"Kamu kenapa Mas? " melirik Zain sekilas, karena sedari dari rumah sakit Zain hanya diam dengan wajah dingin.
"Kamu masih mencintai Daren? " bukan nya menjawab, Zain memilih mengutarakan hal yang mengganjal di hati nya.
Deg,
Zia terkejut mendengar pertanyaan suami nya. Sejurus kemudian Zia malah tertawa, membuat Zain mengernyit dengan alis bertaut menatap Zia.
"Mencintai Daren? atas dasar apa kamu menanyakan hal itu pada ku Mas? " tanya Zia setelah menghentikan tawa nya.
Zain menggaruk kepala, bingung harus menjawab apa.
"Jawab saja," tegas Zain mendesak Zia.
"Tidak! " Jawab Zia mantap. Zia tersenyum sumringah, ternyata suami nya sedang cemburu.
"Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini, Mas " Zia memutar tubuh nya, mencium lembut pipi Zain.
__ADS_1
Ingin rasanya Zain membalas mencium Zia, tapi ia terlalu gengsi dan juga masih sedikit kesal karena Zia mengabaikan nya saat bersama Daren.
"Zia itu hanya berusaha menjalin silaturahmi dengan mereka Mas, biar tidak ada dendam dan saling menyakiti. Jadikan masa lalu sebagai guru. " Ujar Zia bijak, senyum mengembang di bibir Zain, bukan nya meragukan cinta Zia pada nya, tapi yang nama nya cinta pertama sulit di lupakan.
Pagi menjelang, tidur Zia terusik saat mendengar suara muntah seseorang. Tangan Zia meraba sisi tempat tidur di sebelah nya, tapi tidak menemukan keberadaan sang suami.
"Mas! " Zia mengedarkan pandangan nya sekeliling ruangan, mata nya tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka.
"Kamu kenapa Mas, " Zia menopang tubuh lemah Zain yang hampir terjatuh ke lantai,Menatap cemas pada wajah Zain yang pucat pasi dan badan yang basah mandi keringat.
Dengan sekuat tenaga Zain mencoba berjalan ke tempat tidur di bantu oleh Zia.
"Minum dulu Mas, " Zia menyodorkan gelas yang berisi air putih, dan membantu Zain berbaring.
Setelah Zain tertidur, beranjak mengambil ponsel nya dan menghubungi asisten Zain.
"Halo Kak Jo! "
"Ada apa Zia? " Tanya Jo sedikit heran, ngak biasa nya Zia yang menghubungi nya.
"Kak, tolong bawa dokter ke rumah, Mas Zain sakit! "
"Ok, "
Sedangkan di rumah sakit, Celine baru saja selesai melahirkan setelah perjuangan panjang nya yang hampir 24 jam.
"Maafkan aku Celine, " Daren menunduk menangis di tangan Celine yang baru saja selesai melahirkan anak pertama mereka.
"Jangan menangis, kami baik-baik saja. " Celine mengusap Sayang kepala Daren menggunakan tangan yang satu nya.
"Aku berjanji akan berusaha mencintaimu," Daren berjanji dalam hati,
Hati Daren begitu teriris melihat perjuangan Celine yang bahkan hampir kehilangan nyawa nya demi melahirkan keturunan Daren.
"Silahkan di azani bayi nya Pak, " perawat datang menyerahkan Baby boy di tangan Daren.
Daren pun mulai mengadzani anak nya, dengan suara bergetar menahan tangis, menatap pada wajah bayi merah di gendongan nya. Bayi yang sempat dia tolak mentah-mentah, dan kini terlahir menjadi sosok mungil yang mewarisi 90% wajah Daren.
"Ini anak kita! " Daren memperlihatkan wajah anak nya pada Celine.
__ADS_1
"Ah curang.. Aku yang hamil, aku yang ngidam kenapa malah mirip ayah nya. " Celine pura-pura kesal, padahal dalam hati nya senang bukan main melihat wajah anak nya copy an Daren.
Daren terkekeh kecil, wajah nya berubah murung, mengingat bagaimana ia dulu mengabaikan Celine.
"Jangan terlalu di pikiran, semua sudah berlalu. " Mengusap lembut bahu Daren.
***
"Mas, bangun dulu! kita periksa dulu ya, Dokter nya udah datang, " menepuk lembut pipi Zain supaya bangun.
"Huumm.. " Zain hanya bergumam, kemudian membuka mata nya yang terasa berat.
"Apa yang Tuan rasakan? " tanya dokter mulai menempel kan stetoskop di dada dan perut Zain.
"Mual dan muntah, pas bangun tidur perut saya rasa nya ngak nyaman, padahal kemarin ngak ada makan makanan yang aneh-aneh. " Beritahu Zain lemah, tenaga terkuras habis memuntahkan semua isi perut nya.
"Kondisi tubuh Tuan baik-baik saja, tidak ada kelainan atau apa pun, mungkin asam lambung nya naik, " papar Dokter menjelaskan diagnosa nya.
"Yank, makan rujak kayak nya enak. " Zain menatap penuh harap pada Zia yang duduk di dekat kepalanya. Zia membulat kan mulut nya mendengar keinginan Zain.
"Lo bandel banget Zain, udah tau asam lambung malah mau makan rujak." Jo mendekati Zain yang berbaring di tempat tidur.
"Jangan mendekat! " Zain mengulurkan tangan nya isyarat supaya Jo tidak melanjutkan langkah nya. Jo menaikan sebelah alis nya menatap pada Zain.
Tanpa mengindahkan ucapan Zain, Jo malah tersenyum miring berjalan semakin dekat. Dan benar saja, masih jarak 1 meter, Zain menutup mulut nya menahan gejolak yang kembali muncul karena mencium parfum Jo yang menyengat.
"Kak, menjauh dulu! " Zia menatap Zia yang benar-benar merasa mual.
"Dia aneh, ngapain juga mual dekat gue.Gue ngak bau! " gerutu Jo kesal sepertinya sedikit tersinggung.
"Maaf, Kakak wangi kok. " Zia sengaja mengendus-endus Jo yang di sebelah nya.
"Mi! " teriak nya memanggil Zia, terasa geram melihat Zia yang terlalu dekat pada Jo.
Zia dan Jo menghela napas berat, bingung melihat sikap Zain yang aneh dari biasa nya.
Dokter yang sedari tadi memperhatikan, dapat menyimpulkan sesuatu dari gejala yang terlihat.
"Seperti nya Tuan Zain mengidap penyakit istimewa. "
__ADS_1
💫✨💫💫✨💫
Jangan lupa kasih like ya Say💞