
"Seperti nya Tuan Zain mengidap penyakit istimewa, " ketiga nya kompak menatap pada dokter dengan mimik wajah bingung.
"Maksud nya? " tanya Zia yang berbuah cemas.
"Mungkin istri Tuan hamil, __" Ucapan dokter terputus.
"Memang saya lagi hamil, "
"Istri saya memang hamil, "
"Istri nya memang hamil, "
Jawab mereka kompak dengan kalimat yang hampir sama.
Dokter terdiam, menggaruk kepala nya.
"Kenapa ngak bilang dari tadi? " gumam nya yang masih bisa di dengar semua orang.
"Dokter ngak bertanya! " jawab mereka lagi, sedetik kemudian Jo tertawa merasa lucu melihat ekspresi dokter yang seperti orang bodoh.
"Dari gejala yang saya lihat, Tuan Zain mengidap penyakit coved syndrome atau yang biasa disebut kehamilan simpatik, di mana dalam masa kehamilan istri malah suaminya yang mengalami morning sickness, terkadang juga mengalami ngidam.
Dari hasil pemeriksaan semua nya normal, tidak ditemukan kelainan pada tubuh Tuan. "
"Sampai kapan suami saya seperti ini Dok? " tanya nya menatap pada Dokter.
"Biasa nya trimester pertama, kadang ada juga yang sampai melahirkan. " Ucap nya membuat mata Zia membulat.
Mengalih kan pandangan nya pada Zain dengan tatapan iba.
"Maaf Mas! " ucap Zia lirih, mata nya berubah sendu, Zain tersenyum seraya menggeleng kan kepala.
"Mas, gak papa Sayang, malah Mas senang bisa ikut berpartisipasi dalam masa kehamilan kamu, jangan merasa bersalah begitu. " Zia merasa speechless mendengar ungkapan perasaan Zain,mengusap pipi Zia dengan ibu jari nya.
"Jo, gue lagi pengen rujak, " ucap nya seperti merengek, Jo ingin muntah melihat Zain yang berubah drastis saat ini.
"Ogah! gue mau berangkat ke kantor. " Tolak nya tegas, melangkah keluar.
"Kak Jo, " panggil Zia, menyorot tajam penuh ancaman.
Jo bergidik melihat tatapan Zia mirip seperti Zain sedang marah.
"Aish.. Istri sama suami sama saja. " gerutu nya. Dengan berat hati terpaksa Jo mencari rujak di pagi hari.
__ADS_1
"Makan dulu ya Mas! " Zia menyiapkan bubur yang di masak oleh mami, biasa nya kalau sedang sakit Zain pasti minta di masakin bubur.
"Ngak mau Sayang! " tolak Zain dengan mimik memelas, menutup mulutnya nya seraya menggeleng.
"Kenapa suami ku jadi mirip anak TK begini? " tanya nya dalam hati.
"Ayo lah Sayang, kalau mau makan rujak harus makan bubur dulu! biar ngak sakit perut. " rayu nya, menyodorkan sendok yang berisi bubur di depan mulut Zain.
"Bau nya ngak enak! " Mami yang masih berada di kamar Zain pun ikut melongo melihat tingkah anak nya.
"Kamu pasti mengada-ngada Zain, biasa nya kalau sakit kamu pasti minta di masakin bubur, itu bubur seperti biasa nya Mami yang masak.Coba dulu! " tuding nya ikut kesal, menatap Zain dengan tatapan curiga.
"Zain serius Mi, ngak enak bau nya, kalau di paksain Zain bisa muntah. " sanggah nya, merasa tak terima dengan tudingan sang Mami.
"Apa mungkin efek kehamilan Zia ya Mi? " tanya nya melirik pada mertua nya, Mami mengangkat bahu nya tidak tau, karena baru kali ini Mami menemukan hal aneh seperti ini.
Zia menghirup nafas dalam kemudian mengeluarkan nya kembali.
"Mau nya makan apa? biar Zia masakin! " tanya nya lembut membujuk Zain.
Belum sempat Zain menjawab, Jo sudah muncul menenteng kantong plastik di tangan nya.
"Sini rujak gue! " pinta nya tidak sabaran. Berulang kali Zain menelan ludah nya, melihat Zia membuka bungkusan rujak buah yang sangat menggiurkan.
"Sini sayang! " wajah Zain memberengut karena Zia terlalu lambat, segera menarik rujak yang ada di tangan Zia dan memakan nya sendiri.
"Aaarkk.. Enak nya! " Zain bersendawa membersihkan mulut nya dari sisa bumbu rujak.
"Selamat menikmati penderitaan menghadapi suami baru kamu Zia. " Jo menepuk pundak Zia sebelum pergi. Zia hanya mendengus, meskipun kesal tapi Zia juga membenarkan apa yang Jo katakan.
****
"Nama nya siapa Daren? " tanya Ibu tanpa mengalihkan mata nya dari wajah tampan cucu pertama nya.
"Elvio Darcel Sanjaya. " Ucap Daren tersenyum lebar. Sengaja menyematkan gabungan nama mereka, Daren ingin mengingat putra nya sebagai penyatu mereka berdua. Sementara Celine terlihat melengkung kan bibir merasa sangat bahagia. Celine berterima kasih pada Zia, berkat kemurahan hati Zia, mereka bisa bersatu menjadi keluarga yang utuh.
"Panggilan nya Baby El, bagus ngak? " meminta pendapat pada semua orang di sana.
"Bagus.Halo Baby El, ini Nenek! " Gurau nya mencium lembut pipi merah Baby El.
Terlihat baby El menggeliat seperti merespon ucapan nenek nya.
"Terima kasih, " Celine merasa terharu menatap pemandangan indah di hadapan nya.
__ADS_1
"Jangan berterima kasih terus, aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai kepala keluarga dalam keluarga kecil kita. " ujar nya tersenyum lembut, tangan Daren terulur mengelus pucuk kepala Celine. Celine tertegun, mendapatkan perlakuan lembut Daren yang baru kali ini terasa sangat tulus pada nya.
Celine hanya berharap, semoga kedepannya mereka bisa selalu bersama, mendayung sampan menuju kebahagiaan yang hakiki sampai maut yang memisahkan.
"Semoga mereka bisa bahagia selamanya. " Ibu pun ikut mendoakan anak dan menantu nya.
Tok tok tok..
"Assalamu'alaikum.. " Zia masuk menggandeng mesra tangan suami nya.
"Waalaikumsalam salam," jawab mereka kompak.
"Uluh uluh.. Cantik nya. " Zia mencubit gemas pipi merah itu.
"Ganteng Zia. Anak ku cowok! " Sahut Celine pura-pura kesal.
"Eh.. Ganteng ya? " Zain yang sedari tadi diam ikut menimpali, menatap takjub pada makhluk kecil nan merah itu.
"Ini hadiah untuk dedek nya! " Zia meletakkan box besar yang baru di antar oleh Jo.
"Terima kasih Aunty, " Ucap Celine menirukan suara anak kecil.
"Bu, Zia mau gendong, boleh? " pinta nya penuh harap. Ibu mengangguk kemudian membantu Zia menggendong baby El.
Zain gamang melihat tangan Zia yang kaku menggendong bayi mungil itu.
Daren memilih diam, meresapi rasa sakit dan juga cemburu yang masih setia hadir di hati nya melihat Zia dan Zain, berusaha ikhlas menerima takdir itu lebih baik.
Zia sengaja mengajak Zain ke rumah sakit, setelah mendapat kabar dari Celine kalau dia sudah melahirkan.
Sedangkan di luar negri, Angela kembali merengek pada ayah nya supaya di izinkan ke Indonesia.
"Sebentar lagi Zain sendiri yang akan ke sini! " Ujar nya tersenyum miring, kali ini Zain harus jadi milik putri nya.
"Angel udah ngak sabar Dad, " Rengek nya bergelayut manja.
"Jadi perempuan harus jual mahal Angel, kali ini Zain yang mengejar kamu. " teriak nya marah, melihat Angela yang tidak punya malu sedikit pun.
"Dady sudah menyiapkan rencana yang sempurna. "
****
To be Continued
__ADS_1