
Setelah 2 hari menginap di hotel hari ini Zain dan Zia memutuskan untuk kembali ke rumah Zain.
"Sayang, kita ke rumah kamu duluan kan? " Zain membuka kan pintu mobil untuk Zia dan setelah nya Zain pun ikut masuk.
"Iya Mas, Zia mau ngambil barang-barang Zia sekalian pamitan. "
Zain pun mengemudikan mobil menuju kediaman Nugraha.
"As__" Suara Zia terhenti karena Zain menutup mulut Zia dengan tangan nya.
"Jangan teriak ngak baik, " setelah Zia mengangguk Zain pun melepaskan tangannya.
"Iya Mas suami, " Zia nyengir kuda.Zain gemas mengacak pelan rambut Zia.
"Assalamualaikum, Ma. "Zia berjalan menuju ruang tamu menggandeng mesra tangan suami nya.
"Waalaikumsalam , Loh kalian udah pulang? " Mama Jeni duduk di dekat anak dan menantu nya.
"Iya Ma, sekalian Zia mau pamitan. Mulai hari ini Zia akan ikut kemana pun Mas Zain membawa Zia, Mi." Wajah Zia berubah sedih. Berat sebenar nya berpisah dari orang tua nya, tapi mau bagaimana lagi sekarang semua nya tak lagi sama. Zia sudah menjadi seorang istri, memiliki tanggung jawab pada suami dan keluarga kecil mereka.
"Jangan sedih Sayang, " Mama mengusap lembut pipi anak nya dengan mata berkaca-kaca. "Kalian bisa datang kesini kapan aja,sekalian nginap disini, iya kan Zain? "menoleh pada menantu nya yang duduk di sebelah Zia.
" Iya Sayang.Kapan pun kamu mau kesini bilang sama Mas, kita akan nginap disini. "Zain mengusap lembut punggung istri nya.
" Kita makan siang disini aja ya Mas, nungguin Papa pulang. "Zia menatap suami nya penuh harap. Zain pun tersenyum seraya mengangguk.
" Sekarang kalian istirahat aja dulu di kamar! nanti kalau papa udah pulang mama panggil. "Ucap Mama menawar kan.
"Ayo Mas, Zia beres-beres dulu! " Zia menarik tangan suami nya menuju kamar.
__ADS_1
"Mas tidur aja dulu sambil nungguin Zia packing barang nya, " Zia membawa Zain masuk kamar nya. Kamar yang masih sama seperti dulu.Warna yang didominasi pink dan putih,mencerminkan seorang wanita yang lembut.
"Mas bantu kamu aja Sayang, " Zain menolak dan membuntuti kemana Zia berjalan.
Tok tok tok.
"Zia.... Ajak Zain turun! kita makan siang sekarang , " terdengar suara sang Mama dibalik pintu kamar.
"Iya Ma. " Zia menjawab dari dalam kamar tanpa membuka pintu.
"Ayo Mas! kita turun. "Zain dan Zia turun keluar kamar menuju ruang makan.
****
" Pa, Zain minta izin membawa Zia tinggal ke rumah Zain, "Zain duduk dihadapan papa mertua nya.
"Sekali lagi Papa ingat kan Zain, jangan pernah menyakiti hati dan fisik putri ku. Bila suatu saat kamu sudah tidak lagi mencintai nya, pulang kan padaku secara baik-baik sebagaimana kamu meminta nya pada ku. " Zain menunduk diam mendengarkan mertua nya bicara. "Papa membesarkan Zia dengan cinta dan kasih sayang ,Papa harap kamu pun bisa memberikan apa yang selama ini papa berikan untuk nya." Suara nya sedikit bergetar menahan tangis. Anak yang sedari kecil di besarkan kini akan pergi mencari kebahagiaan nya sendiri.
"Zain janji sama Papa.Tidak akan Zain biar kan Zia menangis kecuali tangis bahagia. " Zia menangis mendengar untaian kata Papa nya.Laki-laki yang menjadi cinta pertama nya, yang selalu memberikan kebahagiaan tanpa pamrih, setia mengulurkan tangan setiap kali anak nya terjatuh. Kini terlihat sangat rapuh melepaskan putri satu-satu nya pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya.
Zain dan Zia sampai dikediaman Adhitama sore hari nya. Senyum sumringah wanita paruh baya menyambut kedatangan anggota baru keluarga mereka.
"Selamat datang di rumah kita Sayang, " Sebuah pelukan hangat menyambut kedatangan Zia. "Ayo masuk! " Menggandeng tangan menantu nya berjalan memasuki rumah, dan disusul oleh Zain yang membawa koper besar Zia.
"Zain.. Kamu bawa Zia ke kamar dulu! " tanpa membantah Zain membawa Zia menuju kamar Zain yang berada di lantai 3 kediaman Adhitama.
"Ayo masuk Sayang! " Zain membuka pintu kamar dan mempersilahkan Zia masuk lebih dulu."Sekarang ini kamar kita, "Zain meletak kan koper Zia ke walk in closet yang ada di kamar nya. " Kalau mau, kamu bisa mengganti apa pun sesuai yang kamu inginkan termasuk cat dan juga perabot nya, "Zia tersenyum hangat berjalan mendekati Zain dan memeluk suami nya.
" Terima kasih Mas, Zia sangat bersyukur mendapat kan suami seperti kamu. "Zia melabuhkan sebuah kecupan di bibir suami nya.
__ADS_1
" Mas yang seharusnya lebih bersyukur, memiliki bidadari surga seperti kamu. I love you my wife, "Zain pun mencium seluruh wajah istri nya.
" I love you too my handsome husband. "Mereka larut dalam suasana romantis selanjutnya, saling menyalurkan rasa sayang kedua nya meskipun belum bisa melakukan sunnah rasul.
Pagi-pagi sekali Zia sudah berada di dapur, meskipun tidak terbiasa memasak tapi Zia akan belajar untuk menjadi istri yang baik untuk Zain.
" Masak apa Bik, "Suara Zia mengejutkan pelayan yang sedang berkutat dengan masakan nya.
" Eh, Nyonya. Saya masak bubur sum sum sama oatmeal banana Nyah, " jawab pelayan kikuk. "Nyonya membutuhkan sesuatu biar saya ambilkan? " tawar pelayan. Sedikit heran kenapa nyonya muda mereka masuk ke dapur biasa padahal bisa memanggil pelayan lewat interkom yang ada di kamar.
"Saya mau bantu masak Bik, " Jawab Zia santai membuat pelayan dihadapan nya melongo.
"Tidak usah Nyonya, nanti Tuan marah. " Pelayan takut tuan nya marah karena membiarkan istri nya memasak.
"Tidak akan Bik, Mas Zain biar saya yang urus. "Zia tersenyum lembut. Zia pun mulai mengambil bahan yang di perlukan.
'Beruntung sekali Tuan Zain memiliki istri seperti Nyonya Zia, udah cantik, pintar, baik lagi. 'Pelayan menatap kagum pada istri tuan nya.
Sedangkan di dalam kamar Zain bangun tidak menemukan Zia disamping nya.
" Zia kemana? "Zain langsung terduduk menelisik setiap sudut kamar mencari istri nya, tapi setelah mencari ke seluruh ruangan tetap tidak menemukan keberadaan Zia. Zain pun memutuskan untuk mencari Zia diluar kamar.
" Mami liat Zia? "Zain bertanya saat melihat mami nya duduk di ruang keluarga.
" Zia di dapur," menunjuk ke arah pintu dapur. Zain langsung mencari keberadaan istrinya, terlihat Zia sedang menyajikan masakan nya kedalam piring. Sedangkan pelayan menunduk takut.
"Sayang.. " Zia tersenyum melihat suami nya. Zain berjalan mendekat sebelum nya sudah mengambil tisu,mengelap keringat yang membasahi pelipis Zia.
Maaf kalau Cerita nya tidak sesuai ekspetasi readers ku, tolong masukan nya biar Author nulis nya lebih baik lagi.
__ADS_1