Terimakasih Telah Mengkhianatiku

Terimakasih Telah Mengkhianatiku
Keluar Negri


__ADS_3

Tak terasa waktu terus bergulir, Zain tidak lagi mengalami morning sickness semenjak usia kandungan Zia menginjak usia 3 bulan.Rumah tangga mereka pun semakin harmonis, meskipun terkadang ada kerikil kecil yang menganggu, mereka mampu menyelesaikan, membuat ikatan cinta mereka semakin kuat.


"Mi " panggil nya lembut. Saat ini Zain menemani Zia menonton drakor di kamar mereka dengan Zia yang berbaring berbantal paha suami nya.


"Tadi pas di kantor, Jo ngasih tau kalau proyek di Amerika bermasalah dan secepat nya harus di tangani, Mas harus ke luar negri bersama Jo." Ucap nya hati-hati.


"Kapan? " tanya Zia santai, tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar televisi.


"Besok, "


"Besok? " pekik nya, langsung duduk dan menatap pada Zain yang mengangguk.


"Zia mau ikut, " rengek nya kemudian, mengangkat bokong nya berpindah duduk di pangkuan Zain.


Zain menghela nafas berat, sebenarnya Zain juga ingin mengajak Zia, selain mengkhawatirkan Zia di tinggal, Zain juga akan merasa mual tanpa mencium aroma tubuh Zia.


"Ngak bisa sayang, kandungan kamu masih rentan, ngak boleh di bawa jalan jauh, apalagi ini mengudara. " Ucap nya lembut membujuk Zia, mengecup pipi Zia yang di pangkuan nya.


"Terus gimana dong? " sungut nya berubah lesu putus asa.


"Kamu harus tinggal sayang, ini yang terbaik demi anak kita. Lagian Mas juga bareng Jo, Mas janji ngak bakalan lama. " ujar nya lembut berusaha memberi pengertian.


Zia menimang-nimang apa yang Zain katakan benar ada nya, demi buah cinta mereka, lagian urusan pekerjaan bukan liburan.Zia menghela nafas berat, dengan terpaksa ia pun mengalah.


"Udah selesai drakor nya? "


"Udah, " jawab nya malas, mood Zia mendadak hancur setelah mendengar kabar akan ke luar negri, enggan melanjutkan drakor nya dan memilih untuk tidur.


"Minum dulu susu nya sayang! " menyodorkan segelas susu hamil pada Zia.


Tanpa bersuara Zia mengambil susu dan meminum nya sampai habis, setelah nya berbaring memunggungi Zain.


"Hadap sini dong, dosa lo ngasih punggung sama suami! " Zia bergeming, Zain menghela nafas panjang, menggeser tubuh nya memeluk Zia dari belakang.


"Sayang, Mas hanya bekerja buat kamu dan juga baby kita. Mas juga berat pisah sama kamu! Tapi ini demi kalian juga, kalau Mas jatuh miskin, gimana? " gurau nya,

__ADS_1


"Ngak papa, masih ada perusahaan Papa yang bisa Mas jalan kan. Zia kan anak tunggal, otomatis harta papa jatuh ke tangan Zia. " Balas Zia santai. Zain terkekeh mendengar jawaban polos istri nya.


"Ngak bisa gitu dong,bisa-bisanya Mas di pecat jadi menantu kalau ngak bisa memenuhi biaya hidup putri cantik nya ini, " Zain menggelitik perut Zia, membuat Zia tertawa kegelian.


"Ya udah yuk tidur! good night Baby. " Zain mengusap lembut perut Zia yang sedikit membuncit.


Zia membenamkan tubuh nya dalam pelukan hangat sang suami, tempat ternyaman bagi nya semenjak menikah dengan Zain.


Pagi hari nya, Zia sudah bangun lebih dulu,seperti biasa Zia akan menyiapkan semua kebutuhan suami nya, lalu memasukkan beberapa pakaian Zain ke dalam koper mini yang akan di bawa nya nanti.


"Yank, " Suara serak khas bangun tidur mengalih kan pandangan nya menatap pada Zain.


"Ya Mas, " mengayun kaki nya mendekat ke tempat tidur.


"Sini dulu, mau peluk! " rengek nya manja, dengan senang hati Zia membungkukkan badan nya memeluk Zain, mengusap sayang kepala suami nya.


Zain menghirup dalam aroma tubuh Zia yang akan dia rindukan selama mereka berpisah.


"Mulai hari ini Cindy akan kembali bertugas 24 jam selama Mas pergi. "


"Oke, " tanpa membantah Zia pun menyetujui.


"Iya Dad, " Angela tidak berjanji bisa menahan diri bila sudah bertemu Zain, pria yang sangat dia inginkan selama ini.


Sengaja Demian membuat kekacauan di perusahaan Zain, yang mengharuskan Zain datang ke Amerika dalam waktu dekat. Semua rencana licik nya sudah tersusun rapi,tinggal menunggu kedatangan Zain.


"Bagaimana? " tanya pria tua yang di panggil Demian itu lewat sambungan telpon.


"Dari yang saya dengar Tuan Zain akan tiba besok pagi. " jawab mata-mata Demian yang ada di perusahaan Zain yang di Amerika.


Setelah mendapatkan informasi yang sangat memuaskan, Demian pun memutuskan sambungan telpon. Senyum smirk terbit di bibir nya.


"Kali ini rencana ku harus berhasil, demi menyelamatkan perusahaan ku dan juga kebahagiaan Angela. " Gumam nya menatap lurus ke luar jendela.


Di bandara Zia masih enggan melepaskan tubuh suami nya.

__ADS_1


"Ingat apa yang Mas katakan tadi, __"


"Jangan kelelahan, jangan lupa minum susu dan juga vitamin, jaga kesehatan kamu dan baby kita, " Zia langsung memotong ucapan Zain, kata yang sama yang selalu Zain katakan.


Zain terkekeh, memeluk erat tubuh Zia yang semakin berisi.


"Kamu juga harus ingat Mas, jaga mata dan hati, ingat di sini kami menanti mu! " ucap nya menatap Zain serius.


"Walaupun tidak kamu ingat kan, Mas akan slalu mengingat separuh jiwa ku ini. " sahut nya terkekeh kecil mengapit hidung Zia gemas.


"Zain, kita berangkat sekarang! " Jo datang mendekati pasangan suami istri yang masih enggan berpisah.


"I love you so much, " Zain mencium kening Zia lama,mata Zia terpejam tanpa sadar air mata nya mengalir.


"Jangan menangis, Mas pasti cepat pulang. "mengusap pipi Zia yang basah oleh air mata.


" Janji? " Zia mengacungkan jari kelingking nya, Zain tersenyum ikut mengaitkan jari kedua nya.


Zain menunduk mensejajarkan tubuh nya dengan perut Zia.


"Jaga Mimi selama Pipi ngak ada, jangan rewel ya! " seolah mengajak anak yang dalam kandungan Zia bicara, tangan nya terulur mengusap lembut perut buncit Zia dan mencium nya.


"Mas pergi dulu! " Mencium seluruh wajah istri nya, terakhir ******* lembut bibir Zia.


Waktu terasa lambat bagi Zia tanpa kehadiran Zain di sisi nya. Tak terasa 4 hari sudah Zain di luar negri, dan selama itu Zain selalu meluangkan waktu meskipun hanya untuk sekedar memberi kabar.


"Kamu kemana sih Mas, seharian ini ngak ada kabar! " Zia memberengut kesal.


Dengan malas Zia pun mengambil tas nya dan melangkah keluar.


"Maaf Bu, ini ada titipan paket atas nama Ibu. " Salah satu OB datang menyerahkan amplop coklat pada Zia.


"Dari siapa Pak? " Tanya Zia bingung.


Zia membolak balik kan amplop tersebut, tapi tidak menemukan nama pengirim nya.

__ADS_1


"Saya ngak tau Bu, saya hanya di suruh oleh resepsionis mengantar ke sini, kata nya ada driver ojol yang menitipkan. " jelas nya dengan terperinci.


Jangan lupa kasih like ya Sayong💞


__ADS_2