Terimakasih Telah Mengkhianatiku

Terimakasih Telah Mengkhianatiku
Pelaku


__ADS_3

Bugh,


Zain langsung menghadiahi Daren dengan bogem mentah membabi buta, Zain tidak lagi bisa menahan emosi nya saat melihat wajah Daren.Bayangan Zia yang hampir saja kehilangan nyawa terlintas di kepala Zain. Dengan sigap Jo memegang tubuh Zain dari belakang menghentikan pukulan nya pada Daren yang sudah terluka.


"Maaf kan teman saya Pak, ini hanya salah paham! " Jo meminta maaf pada pihak kepolisian yang melerai perkelahian mereka.


"Ada apa? " Tanya Daren mengusap sudut bibir nya yang berdarah. Kini hanya ada mereka bertiga, sedangkan polisi mengawasi dari jauh.


"Setelah lo hampir membunuh Zia, lo nanya ada apa? otak lo dimana Daren? " ucap Zain meninggi, Jo menepuk bahu Zain supaya tenang.


"Membunuh Zia? " tanya Daren terkejut dan bingung. "Maksud nya gimana? " Daren memilih bertanya pada Jo yang duduk di samping Zain.


"Lebih baik lo jujur! sebelum kasus ini gue laporin ke polisi! " Ucap Zain tegas.


"Begini! " Jo melirik Zain sebelum kembali bicara. "Kemarin Zia kecelakaan, dan hasil penyelidikan, mobil yang menabrak Zia terdaftar atas nama lo, " Jo menceritakan duduk perkara permasalahan nya, Daren semakin kaget mendengar cerita Jo.


"Sumpah! gue ngak tau, " kilah Daren jujur membela diri. " Silahkan kalian selidiki lebih lanjut, jika aku terbukti bersalah! Aku rela mendekam di penjara seumur hidup. "Ujar Daren tidak main-main.


" Tolong jaga Zia buat gue! "Ucap Daren menoleh pada Zain, sebelum berlalu kembali masuk ke dalam.


"Seperti nya lo benar Jo, bukan Dia pelaku nya. " Ujar Zain menatap Daren yang menjauh.


Zain dan Jo keluar dari kantor polisi, sebelum balik ke kantor, Jo lebih dulu mengantar Zain ke perusahaan Zia. Zain berjalan menuju ruangan Zain dengan menenteng paper bag berisi makanan pesanan Zia.


Tok tok tok.


"Masuk! " Terdengar suara merdu sang istri dari dalam. Dengan Senyum mengembang Zain menghampiri Zia yang masih sibuk dengan pekerjaan tanpa menghiraukan siapa yang masuk ruangan nya.


Zain langsung memeluk Zia dari belakang, hal itu sukses membuat Zia terjingkat kaget.


"Sibuk banget sampai suami datang gak di sambut! " Zain meletakkan dagu nya di ceruk leher Zia, sesekali di sesap nya lembut.


"Maafkan istri mu ini wahai suami ku, " Ujar Zia terkekeh, mengelus tangan Zain yang melingkar di perut nya.


"Pesanan Zia mana? " Tanya Zia menoleh ke samping, Zain sengaja sedikit memajukan wajah nya, alhasil saat Zia menoleh bibir kedua nya menempel.

__ADS_1


"Ihh.. Kamu genit, " Ucap Zain pura-pura meledek Zia.


"Kamu sengaja biar di cium? "Sahut Zia tak terima di salah kan.


" Ini sayang, "Zain mendekatkan paper bag pada Zia.Dari luar sudah tercium aroma khas rujak cingur, Zia meneladan ludah nya tidak sabaran menunggu saat Zain selesai membuka nya.


Zain tersenyum melihat Zia yang makan begitu lahap nya, Ada perasaan bangga di hati Zain, saat bisa memenuhi keinginan Zia, terlebih saat ini Zia sedang hamil.


" Mas mau?" tanya Zia baru mengingat Zain saat melihat sisa makanan nya tinggal sedikit.


"Buat kamu sama baby saja, " Ucap Zain mengelus lembut pipi Zia yang mengembung terisi makanan.


"Uhh...Suami ku ini memang suami idaman, " Sahut Zia mengecup pipi Zain,kemudian melanjutkan kembali makan nya. Setelah merasa kenyang, mata Zia pun mulai terasa berat. Zain pun membantu Zia berbaring di kamar kecil yang ada di dalam ruangan Zia.


Dreettt dreettt..


Ponsel Zain berdering, setelah melihat ID yang menghubungi nya, Zain pun segera menggeser tombol hijau di ponsel nya.


"Ya Jo, " sapa Zain saat panggilan terhubung.


"Baik lah, gue kesana sekarang! " Sahut Zain langsung memutuskan panggilan nya, dan bersiap untuk pergi. Baru saja Zain membuka pintu, Zia malah terbangun.


"Mas.." Panggil Zia manja, Zain pun kembali berbalik dan duduk di samping Zia.


"Ada apa hmmm? " tanya Zain lembut mengelus kepala Zia, mengecup kening istri nya penuh sayang.


"Mas mau kemana? " Zia menggeser kepala nya kedalam pelukan Zain.


"Pelaku yang nabrak kamu kemarin udah di tangkap, Mas mau ke kantor polisi. " Meskipun berat mengatakan nya, Zain lebih memilih jujur.


"Zia ikut Mas! " Zia langsung beranjak duduk, merapikan pakaian nya yang sedikit kusut karena bangun tidur.


"Kamu tidur lagi aja ya! banyak istirahat biar baby nya sehat, " Zain menolak halus keinginan Zia, Zain khawatir tidak bisa mengendalikan diri di hadapan Zia, saat melihat orang yang sudah mencelakai istri nya.


"Tapi baby nya pengen ikut kemana kamu pergi! " Rengek Zia lagi memeluk lengan Zain.

__ADS_1


"Alasan! Baby apa mama nya? " tanya Zain penuh selidik, menatap Zia dengan menarik turun kan alis nya.


"Baby nya Mas. " Sahut Zia manja, Zain menarik hidung Zia gemas, kemudian menggelitik perut Zia, membuat Zia tertawa kegelian.


"Udah Mas, ampun! perut Zia keram. " Zain spontan menghentikan tangan nya saat mendengar ucapan Zia.


"Maaf Sayang, " wajah Zain berubah murung merasa bersalah, mengelus pelan perut Zia yang masih datar.


Setelah melalui perdebatan sengit, akhirnya Zain pun mengalah mengajak Zia untuk ikut bersama nya.


"Zain.. " teriak Jo memanggil Zain dan Zia yang baru tiba. Kedua nya menoleh dan berjalan menghampiri Jo.


"Lo udah tau siapa pelaku nya? " Zain melongok menatap Jo yang berjalan di belakang nya.


"Belum, gue nungguin Lo. " Sahut Jo santai.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang sedang hamil besar berjalan ke arah mereka, tangan di borgol dengan di antar oleh seorang polisi wanita.


Deg,


"Celine, " gumam Zia saat Celine berdiri di hadapan mereka.


"Kamu? " Seru ketiga nya kompak dengan mata melotot.


"Kenapa? kaget? tapi sayang nya dia masih hidup, " Ucap Celine terkekeh menatap sinis pada Zia, hal itu sukses memancing emosi Zain.


"Celine sialan, " Teriak Zain marah, muka nya merah padam menatap tajam pada Celine. Kepalan tangan nya terangkat ingin memukul Celine, tapi tertahan oleh tangan Zia.


"Jangan Mas! kasihan dia sedang hamil, " Zia menggeleng kuat menatap penuh harap pada suami nya.


"Tapi dia udah mencelakai kamu, Sayang! " Ujar Zain tak habis pikir dengan pemikiran Zia.Zain mendelik tanda tidak suka dengan keputusan yang Zia katakan.


*******


Jika **kejahatan di balas kejahatan, itu adalah dendam. Jika kebaikan di balas kebaikan itu biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan itu adalah Zalim. Tetapi jika kejahatan di balas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji. **

__ADS_1


Like, komen dan vote ya. Kasih terus dukungan nya untuk karya Author, Terima kasih.


__ADS_2