
"Perfect, " Zia berdecak kagum. Matanya mengitari setiap sudut kamar yang sudah di dekorasi hasil karya mertua dan juga teman-temannya. Dilengkapi dengan balon berbentuk hati berwarna merah mengambang di langit-langit kamar.
"O iya, fotonya udah jadi di kirim, Cel?" tanya Zia, beralih menatap pada Celine yang sedang menidurkan anak nya.
"Udah! ponselnya juga gue matiin sesuai rencana lo, " sahutnya, Zia mengangguk semangat, berharap rencananya akan berhasil.
Kemudian Zia beranjak ke balkon kamar memeriksa persiapan dinnernya nanti malam bersama sang suami. Setelah melihat semua persiapannya telah selesai, dengan sesekali mengusap perut buncitnya kembali bergabung dengan semua orang .
Sedangkan di dalam mobil Zain masih betah diam tanpa suara, wajahnya mengeras dengan kedua tangannya mengepal kuat menyalurkan emosinya yang kian menumpuk.
"Kita ngapain ke hotel ini, Zain? " tanya Jo memilih pura-pura tidak tau.
Baru saja mobil yang membawa Zain berhenti melaju, ia langsung keluar tanpa menunggu Jo membukakan pintu seperti biasanya.
Jo yang ikut panik melihat keadaan Zain ikut berlari menyusul atasannya itu.
Dengan memberikan sedikit ancaman akhirnya Zain mendapatkan nomor kamar istrinya.
Matanya menyorot tajam pada angka yang tertera sebagai nomor kamar, yang ia duga tempat dimana istrinya dan Daren berada.
Mengingat nama Daren membuat emosi Daren tak terbendung lagi. Zain langsung membuka pintu kamar dengan kasar dan kebetulan tidak terkunci, membuat tubuh Zain hampir terjerembab ke lantai.
Gelap dan sunyi suasa menyambut kedatangan Zain, matanya menelisik setiap sudut ruang gelap itu tapi tidak merasakan adanya kehadiran Zia dan Daren di sana.
"Apa resepsionis salah memberi kan nomor kamarnya, Zain? " tanya Jo, yang baru tiba dengan nafas terengah-engah karena berlari mengikuti langkah Zain.
Zain tidak menjawab kaki nya melangkah masuk berusaha mencari saklar lampu, baru saja tangan Zain menyentuh dinding sebuah suara menghentikan gerakan tangannya.
" Meeting you was fate, becoming your friend was choice,but falling in love with you was completely put of my control. I love you so much."
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta padamu benar-benar di luar kendaliku. Aku sangat mencintai mu. "
Rahang Zain mengetat dengan tangan terkepal kuat saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Kata cinta yang Zia ucapkan terasa berdengung di telinganya, membuat emosi nya kian menggebu-gebu.
__ADS_1
"Zia, " panggil Zain dengan suara meninggi, menggelegar di dalam kamar hotel tersebut.
Seketika lampu hidup seiring dengan suara Zia yang menyanyikan selamat ulang tahun untuk suami nya.
"Happy birthday too you, my hubby." Kata Zia terakhir menyelesaikan lagunya.Tersenyum manis menyambut kedatangan Zain yang ia tunggu sedari tadi.
Zain membeku seperti orang linglung namun matanya menatap satu persatu orang yang hadir di sana, ada mami dan ke tiga teman Zia. Zain semakin terkejut saat matanya bersirobok dengan Daren dan juga Celine berdiri di sampingnya. Menggendong seorang bayi kecil.
Daren tersenyum kaku mengangkat dua jari sebagai simbol kata maaf tanpa suara hanya dengan gerakan bibir.
Zia menyodorkan kue ulang tahun yang bertuliskan angka 29 itu kehadapan suaminya.
Namun sialnya Zain hanya diam menatap dingin pada istrinya. Kali ini Zia yang membeku. Ya, Zia tau kalau suaminya kecewa padanya dari sorot mata Zain yang menatapnya begitu terluka.
Mata Zia beralih pada Jo menatap seolah meminta pertolongan, tapi Zia harus kecewa karena Jo hanya mengangkat bahu seraya menggeleng lemah.
"Biarlah Zia berusaha sendiri membujuk Zain yang hampir mati berdiri karena ulahnya, " gumam Jo mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Melihat istrinya yang akan menangis, Zain segera membawa Zia ke pelukannya. Memang Zain kecewa pada Zia tapi melihat wanitanya menangis Zain akan merasa lebih kecewa pada dirinya sendiri.
"Jangan di ulangi lagi jika kamu masih menginginkan aku hidup! " serunya lirih cenderung memohon, Zia hanya mengangguk membalas pelukan suaminya.
Meletakkan dagu di ceruk leher Zia dan menghirup dalam wangi tubuh istrinya yang selalu bisa menenangkan.
"Maaf kan Zia yang udah kelewatan bercandanya, " sesalnya, merenggang pelukannya kemudian sedikit berjinjit Zia melabuhkan sebuah kecupan mesra di bibir Zain.
"Kali ini Mas maafkan! " Zain mengapit hidung Zia gemas melihat wajah memelas istrinya yang mirip anak kecil.
"Jangan lupa make a wish dulu, Mas! " tegur Zia. Melihat wajah semangat suaminya yang sudah bersiap ingin meniup lilin yang menyala.
"Oh iya lupa, " sahutnya cengengesan, kemudian memejamkan matanya serta tangan yang menyatu di depan dada, berdo'a dalam hati semoga rumah tangganya selalu bahagia selamanya.
"Kue pertama buat bidadari surga ku, " ucapnya tersenyum, menatap bangga pada wanita yang tidak langsing lagi seperti dulu, dan itu semua pengorbanannya sebagai seorang istri dan juga ibu untuk buah cinta mereka.
__ADS_1
Zia membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya.
"Ini buat Mami, wanita hebat ku!" lanjutnya, beralih menyodorkan kue pada mami, pahlawan wanita yang rela bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia.
Zia menarik tangan suaminya menuju balkon kamar hotel.
Lagi-lagi Zain mendapatkan kejutan dinner romantis dari istrinya.
Sebuah meja bundar berhiaskan lilin dan juga bunga mawar, dua piring yang berisi hidangan pembuka dan gelas yang berisi minuman bewarna merah, tersusun rapi di atas meja.
"Duduk, Mas! malam ini kau adalah rajanya. "
"Terima kasih Sayang, " Zain mencium bibir Zia sebelum mendudukkan bokongnya.
"Istri ku yang biasanya cuek bisa romantis juga ternyata, " Zia hanya tersenyum menanggapi sindiran halus dari suaminya.
Kemudian mengambil sesuatu dan menyodorkan ke hadapan suaminya.
"Wow! hadiah lagi? boleh dibuka sekarang?" Zia mengangguk mantap, dengan perasaan berbunga-bunga Zain kembali dibuat jatuh cinta berkali-kali pada istrinya.
Sebuah arloji mewah namun terkesan elegant terbungkus rapi di dalam kotak yang begitu indah.
Zia beranjak dari duduknya memposisikan tubuhnya di samping sang suami. Tangannya mulai melepaskan arloji di tangan suaminya menggantikan dengan arloji hadiah ulang tahun Zain yang ia berikan.
"Aku ingin di setiap waktu dalam hidup mu selalu mengingat ku yang selalu mencintaimu. Selamat ulang tahun suami ku, jadilah imam dan ayah yang baik untuk keluarga kecil kita. Aku sangat mencintaimu, suami ku. "
"Aku lebih mencintai mu! " sahut Zain speechless dan juga bahagia secara bersamaan. Zain mengusap sudut matanya yang basah, bukan karena sedih melainkan terharu merasa beruntung memiliki Zia dalam hidupnya.
Zia pun ikut melingkarkan tangannya di leher sang sang suami, keduanya mulai tenggelam dalam rasa bahagia yang sulit di jabarkan.
***
Tb continued.
__ADS_1