
"Sayang, "Zia menatap wajah tampan Zain yang memanggilnya. Saat ini mereka duduk berdua di kursi taman di belakang rumah Zain, dengan Zain yang berbaring dipangkuan Zia.
" Hmmm, "Zia berdehem menjawab panggilan Zain, tangan nyata masih mengelus kepala Zain dengan lembut.
" Besok kita mulai dipingit,"Zain menghela napas berat. "Mas rasa ngak kuat Yank," Zain dan Zia dipingit empat hari sebelum pernikahan digelar.Itu artinya Zain dan Zia tidak bertemu selama empat hari ke depan, rasanya begitu berat bagi Zain.
"Ya gak papa dong Mas, kan masih bisa telponan,video call juga," Zia tersenyum hangat menatap mata Zain.
"Tetap aja rasa nya beda." Protes Zain lagi keberatan ,"Pasti Mas sangat merindukan bidadari ku ini, "Zain mencubit lembut pipi Zia.
"Ya, memang itu salah satu tujuan nya di pingit Mas," Sahut Zia terkekeh membuat Zain mendengus kesal.
*****
Suara deringan ponsel mengusik tidur Zia, Dengan mata yang masih terpejam Zia berusaha meraba disekitarnya mencari dimana ponsel nya berada.
Dreett drettt...
"Siapa sih yang nelpon pagi-pagi begini? ganggu aja, " Zia menggerutu sambil tetap mencari ponselnya.
Setelah menemukan ponsel nya,mata Zia terbelalak melihat siapa yang menghubungi nya.Apakah ada hal yang penting sampai menelpon sepagi ini pikirnya.
"Halo Mas,kamu baik-baik aja kan? " dengan wajah khawatir Zia langsung memberikan pertanyaan pada Zain saat panggilan tersambung.
" Sayang, hei. Kok nanya nya gitu? "Wajah bantal Zain yang baru bangun tidur sedang tersenyum memenuhi layar ponsel Zia.
" Zia kaget Mas tumben nelpon sepagi ini, Zia khawatir Mas kenapa-kenapa. "Ucap Zia polos." Mas beneran baik kan? "Ulang Zia lagi mengkhawatirkan Zain.
" Mas baik Sayang, bahkan semakin baik setelah melihat wajah cantik calon istri ku ini. "Sahut Zain berbinar, kentara sekali kalau Zain sedang bahagia.
__ADS_1
" Ih, gombal. "Zia mendengus malas, padahal di dalam hati nya berbunga-bunga mendengar kata manis Zain.
" Bukan gombal Yank, Mas serius. " ucap Zain meyakin kan. "Boleh nanya Yank? " wajah Zain berubah serius.
Sama hal nya dengan Zain, Zia langsung menegakkan tubuh nya yang tadi masih berbaring menantikan pertanyaan dari Zain." Nanya apa Mas? "Sahut Zia juga tak kalah serius.
" Nanti kita mau punya anak berapa? "Wajah Zia merah merona mendengar pertanyaan Zain yang kata nya serius.
" Jangan nanya itu Mas, Zia malu,"Zia menutup wajah nya dengan selimut.
"Jangan ditutup Sayang, Mas suka liat kamu merona gitu, " Zain terbahak melihat ekspresi Zia.
"Mas pengen punya banyak anak dari kamu, biar rumah kita rame." Zain menceritakan rencana masa depan mereka."Kalau perlu hamil tiap tahun, "Ucapan terakhir Zain membuat mulut dan mata Zia membulat.
" Kamu pikir Zia mesin pencetak anak, Mas? " Zia tak habis pikir jalan pikiran Zain yang tidak masuk akal. Apa Zain tidak tau melahir kan itu sangat menyakitkan bahkan bertaruh nyawa.
"Ya ngak gitu juga maksudnya Sayang, " Zain mencoba meredam emosi Zia.
" Mi, Zain mau ke rumah Zia, boleh ?" Ucap Zain saat sudah menyelesaikan sarapan nya.
"Tidak boleh Zain, kalian itu lagi dipingit. " protes Mami menatap Zain jengkel.
"Bentar kok Mi ngak lama,Zain kangen Zia " Zain berusaha merayu Mami nya,merengek seperti anak kecil meminta es krim. Ameera pengen muntah melihat tingkah abang nya itu.
"Uweek.. " Zain langsung menatap Ameera tajam yang dibalas Ameera senyum meledek pada abang nya.
"Kalau dibilangin itu nurut Zain. Kamu udah mau nikah bukan anak kecil lagi bok yo nurut dibilangin sama orang tua, " Tidak hanya Ameera yang geli melihat tingkah Zain, Mami pun geram menghadapi Zain yang keras kepala.
Sementara dikediaman Zia, ketiga teman nya baru tiba di rumah Zia.Karena hari ini bertepatan hari minggu, mereka sepakat menemani Zia full seharian.
__ADS_1
"Wiihh, yang bakal jadi istri tambah cantik aja, aura pengantin nya kelihatan banget, " Ayu menyenggol bahu Zia menggoda nya.
Zia hanya tersenyum. "Lo bisa aja,"Menepuk pelan lengan Ayu, " Ayok semua nya masuk dulu, bentar lagi orang salon nya datang. "Zia berjalan lebih dulu di susul ke tiga temannya di belakang.
" Ma! nanti kalau orang salon nya datang, suruh langsung ke kamar Zia aja ya, " beritahu Zia pada Mama nya yang sedang membuat kue di dapur. Setelah memberitahu Mama Jeni Zia dan teman-temannya langsung naik ke kamar Zia.
"Gimana rasa nya mau jadi pengantin? " Tanya Clara menutup pintu kamar Zia.
"Gimana ya? senang, gugup, pokok nya campur aduk deh, " Sahut Zia mendeskripsikan bagaimana perasaan nya saat ini.
Tok tok tok.
"Permisi Non, ini orang salon nya sudah datang."Salah satu pembantu datang bersama 3 orang pegawai dari salon yang akan membantu Zia melakukan perawatan.
" Terima kasih Bik.Tolong bawa kan lagi minuman untuk Mbak-mbak nya ya Bik, "Zia mengajak ke tiga pegawai salon masuk ke dalam kamar nya.
Karena terlalu asik dengan acara perawatan nya,Zia mengabaikan ponsel nya yang entah dimana keberadaan nya. Hal itu berhasil membuat Zain kusut semeraut, sedari tadi mencoba menghubungi Zia tidak di angkat dan sekarang malah tidak aktif.
" Mungkin Kak Zia lagi sibuk, Bang. " Ameera risih melihat Zain mondar mandir didekat nya.
"Sibuk ngapain? udah dari tadi pagi dan sekarang udah sore Ame, " Zain geram menghempaskan tubuh nya disamping tempat duduk Ameera.
"Mungkin sibuk dengan teman-temannya nya atau urusan yang lain nya, Bang." Sahut Ameera asal, Zain yang tidak tenang pun memilih menghubungi nomor telpon rumah Zia.
"Halo,"pembantu mengangkat telpon rumah yang berbunyi.
" Bik, Zia ada di rumah? "Tanya Zain tidak ingin bertele-tele.
"Tuan Zain ya? Non Zia lagi perawatan dikamar sama teman-temannya,Tuan. "Ucapan bibik pun membuat Zain bernafas lega. Padahal sedari tadi pikiran nya kacau, semenjak Zia di culik oleh Daren membuat Zain selalu negatif thinking kalau Zia tidak ada kabar.
__ADS_1
Note :Pingitan merupakan salah satu tradisi yang sering dilakukan adat jawa menjelang pernikahan. Tradisi ini berupa larangan calon mempelai wanita bertemu dengan mempelai pria. Salah satu tujuan melakukan pingitan adalah menghindari diri dari marabahaya.
Mampir dong di karya Author, kasih like dan hadiah nya juga ya. Bantu support nya juga biar Author semangat nulis. Jika cerita nya tidak sesuai ekspetasi readers ku, harap dimaklumi. Ini karya pertama Author masih tahap belajar. Kasih masukan ya biar Author bisa memberikan yang terbaik.