
Jangan boom like ya Say!
...*Happy reading*...
"Zia di rawat di rumah sakit karena kamu, " gumam nya mengulang apa yang di katakan Papa mertua nya.
"Zain, kenapa? " tanya Jo melihat Zain terdiam cukup lama.
"Zain! " teriak nya di telinga Zain, dan itu berhasil membuat Zain menoleh.
"Ada apa? " tanya Jo, heran melihat wajah Zain langsung berubah saat menelpon entah dengan siapa.
"Zia masuk rumah sakit, " ucap nya lirih.
Deg!
"Kontak batin mereka memang kuat, " batin nya, yang mengira Zia masuk rumah sakit karena ikut merasakan apa yang Zain rasakan.
Ada benar nya juga pemikiran Jo tapi lebih tepat nya beda konsep, inti nya karena permasalahan yang sama.
"Pesan kan tiket sekarang Jo! kita pulang! " ucap nya tegas.
"Kalau kita pulang, masalah disini gimana Zain? bahkan kita belum mendapatkan bukti apa pun. " beber nya.
"Zia lebih penting dari apa pun Jo. " Sahut nya yakin, pikiran Zain hanya tertuju pada Zia tanpa memperdulikan apa pun.
"Baik lah, " jawab nya lemah, tapi meskipun demikian Jo tetap menyewa hacker paling handal tanpa sepengetahuan Zain sesuai rencana sebelum nya.
Sedangkan di rumah sakit, Mami baru sampai di depan ruang rawat Zia. Ya, Mami mendapatkan kabar dari Cindy kalau Zia masuk rumah sakit.
"Mami, " gumam Zia lirih saat melihat siapa yang masuk ke ruangan nya.
"Sayang... Kenapa ngak kasih tau Mami kalau kamu sakit? " tanya nya, kentara sekali wajah wanita paruh baya itu begitu cemas.
"Ponsel Zia ngak tau di mana Mi,jadi nya ngak ingat ngabarin Mami. Maaf! " ucap nya berbohong dengan senyum tipis, bahkan sangat tipis sampai Mami pun tidak melihat.
"Kata Dokter ngak ada yang perlu di khawatir kan, hanya perlu bedrest beberapa hari saja. " sambung nya lagi menenangkan mertua nya.
Ingin rasa nya Zia marah pada mertuanya melampiaskan kekesalan pada Zain, tapi Zia menyadari kalau beliau tidak tau apa apa.
Seharian menemani Zia bersama besan sekaligus teman nya itu, Mami memutuskan pulang karena waktu pun sudah beranjak sore.
__ADS_1
"Mami pulang dulu ya, jaga kesehatan nya. " Membungkuk kan badan mencium kening menantunya sekilas sebelum pergi.
"Zia pengen makan apa? biar besok pagi Mami bawakan? " tanya Mami penuh perhatian.
"Makan pasta boleh ngak ma? " tanya Zia melirik pada Mama nya.
"Kamu lagi ngak sehat Sayang, makan makanan yang bergizi biar kandungan kamu sehat, " ucap nya pelan.
"Tapi ini bayi nya yang mau Ma, nanti cucu mama ileran, mau? " sengaja menggunakan alasan anak nya, dan benar saja apa pun kalau sudah menyangkut bayi dalam kandungan Zia, pasti orang tua nya mengalah.
"Ngak papa Jen, biar pasta nya aku sendiri yang bikin. " Mami Sinta ikut membujuk besan nya. Mama menghela nafas kemudian mengangguk.
"Maaf ya Sin merepotkan! " ucap nya gak enak hati.
"Ngak usah ngomong gitu, bayi itu juga cucu ku, sudah sepatutnya aku ikut andil dalam memenuhi keinginan ibu nya. " sebelah tangan terulur mengusap bahu besan nya, kemudian melangkah keluar.
_ _ _
Malam hari nya di ruang perawatan Zia. Papa terlihat mengecek email dari orang suruhan nya yang menyelidiki terkait foto yang Zia terima.
"Gimana Pa? " tanya Mami yang beralih duduk di samping suami nya saat Zia sudah tidur.
"Kata nya perempuan itu anak rekan bisnis Zain, dan selama ini tidak ada hubungan khusus di antara ke dua nya. "
"Belum tau juga Ma, bisa jadi Zain selingkuh selama ini tanpa sepengetahuan kita. " tuduh nya mendesah pelan.
"Kalau terbukti Zain sengaja selingkuh, Papa sendiri yang akan memisahkan mereka. "ucap nya mengepalkan tangan nya.
****
Tanpa memperdulikan semua mata yang memandang aneh pada nya, Zain langsung berlari masuk mobil yang sudah menunggu mereka.
"Tenangin diri lo Zain! " ujar Jo yang ngos-ngosan mengikuti langkah Zain.
"Gue harus memastikan keadaan Zia,Jo!"
Satu jam berkendara, mobil yang mengantar Zain dan Jo tiba di pelataran rumah sakit tempat Zia di rawat.
Setelah mendapatkan informasi dari resepsionis, mereka berdua langsung menuju ruang VVIP kamar perawatan Zia.
Ceklek,
__ADS_1
"Sayang! " Zain berlari menghambur memeluk tubuh Zia yang setengah duduk di ranjang.
Zia tersentak, sejurus kemudian air mata langsung menetes saat menyadari Zain yang memeluk nya. Zia memalingkan muka enggan menatap pria yang sebenarnya sangat ia rindukan.
"Minggir dulu Zain, Mami lagi menyuapi Zia sarapan. " Mami memukul bokong Zain yang pas di depan nya.
"Astaga.. Mami! " karena buru-buru Zain tidak menyadari keberadaan Mami nya.
"Sayang, mana yang sakit? " Zain beralih ke sisi ranjang sebelah kanan Zia.
Zia hanya diam mengabaikan kehadiran Zain, sesekali membuka mulut saat Mami menyodorkan makanan.
"Sayang, Hei.. Kamu kenapa? kamu marah karena Mas telat pulang? maaf, pekerjaan di sana belum selesai. " Zain menangkup pipi Zia dengan kedua tangan nya kemudian memutar wajah Zia supaya menatap nya.
Zain tertegun melihat sikap Zia menyambutnya bukan seperti yang dia bayangkan.
"Pekerjaan atau selingkuhan yang enggan di tinggal. " Zia membatin, mata nya terpejam merasakan sakit di hati nya.
"Sudah pulang? " Tanya papa sinis, berjalan masuk dengan mata tertuju pada Zain dengan tatapan penuh permusuhan.
"Pa! " sapa Zain ingin menjabat tangan mertua nya, tapi dengan cepat Papa memindahkan tangan nya ke belakang.
Kening Zain berkerut melihat perubahan istri dan papa mertua nya.
Papa tersenyum miring, berjalan mendekati lemari kecil di sudut ruangan, membuka laci nya mengambil sesuatu yang Zain tidak tahu apa. Kemudian kembali mendekati Zain dengan membawa amplop dan langsung meletak kan dengan kasar di dada Zain.
Deg!
Jantung Zain terasa berhenti berdetak dan mata terbelalak, saat melihat foto diri nya dan Angela tidur tanpa busana.
Zain terus membalikkan semua foto di tangan nya, kepala nya menggeleng kuat tidak percaya dengan hal ini.
"Kenapa? kaget? " Mami yang penasaran dengan apa yang di pegang Zain, berjalan dan mengambil alih foto itu, Mami tak kalah shock nya melihat foto Zain bersama wanita lain, lebih parah nya dalam keadaan tidak senonoh.
"Aku di jebak Pa, ini tidak seperti yang kalian pikirkan ! " sanggah Zain menjelas kan.
Mengalihkan pandangan nya pada Zia yang menangis tanpa suara.
"Mas mohon! percaya pada ku, aku tidak mungkin mengkhianati mu. " Zain berlutut dengan menggenggam tangan Zia, membisu bagaikan patung, yang tidak bergerak apalagi bersuara, hanya air mata yang mewakili betapa hancur nya ia saat ini.
"Ceraikan putri ku! "
__ADS_1
Jangan lupa like, dan tap love nya.💞