
...~ Happy reading ~...
Setelah dari ruangan dokter Zain kembali masuk ke dalam ruangan istrinya.
Mami dan kedua mertuanya masih di sana menunggu Zia.
"Zia belum sadar Ma? " tanyanya menoleh pada mama mertua yang duduk di samping ranjang putrinya.
"Belum, kita tunggu sebentar lagi! " sahutnya lesu, mama menggeleng lemah menatap wajah lelap anaknya.
"Zain panggil dokter dulu, " wajah Zain kembali khawatir, karena istrinya tidak kunjung tersadar.
Baru saja Zain mencapai pintu langkah kakinya terhenti mendengar teriakan mama.
"Zain, Zia sudah sadar! " seru mama antusias, senyum lega terukir dibibir wanita paruh baya itu yang melihat Zia mulai membuka matanya.
"Mas, " panggil Zia lirih hampir tak terdengar. hanya gerakan bibirnya yang sedikit terbuka.
"Mas disini, Sayang? mana yang sakit?" tanyanya beruntun dengan perasaan panik, mengusap lembut kepala istrinya.
Zia tersenyum seraya menggeleng lemah, merasa tubuh yang tidak bertenaga."Maaf! udah buat Mas khawatir, " Zain menggeleng tidak menyukai apa yang Zia katakan.
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, hari ini Zia sudah di perbolehkan pulang.
"Mas! Zia mau cilok, boleh? " tanya Zia menatap penuh harap pada suaminya.
Saat di lobby rumah sakit tanpa sengaja Zia melihat pedagang cilok yang berdiri tidak jauh dari sana. Zia sudah mencoba menahan keinginannya sedari tadi, tapi semakin di tahan ia malah semakin ingin.
Zia harap-harap cemas menunggu jawaban suaminya yang masih tetap diam. Sebenarnya Zain ingin melarang, tapi melihat wajah memohon Zia membuatnya tidak tega.
Tanpa menjawab, Zain kembali keluar dari mobil berjalan menuju pedagang kaki lima yang menjual cilok sesuai keinginan istrinya.
"Seberapa pun tegasnya seorang Zain Putra Adhitama akan tunduk di hadapan perempuan satu ini, " ucap Zain menyerahkan makanan keinginan Zia.
Zia tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, memberikan kecupan di bibir pria itu sebagai tanda terima kasihnya.
Mobil yang di kendarai supir keluarga Zain itu berhenti di depan mansion mewah milik keluarga Adhitama.
__ADS_1
Zain keluar dari mobil, mengambil kursi roda dari bagasi mobil setelahnya membawa Zia masuk rumah dengan mendorong kursi roda istrinya.
"Istirahat dulu ya! " pintanya lembut, menarik selimut sebatas dada. Kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping Zia dengan sebelah tangan mengusap lembut perut besar wanita itu.
"Sehat-sehat terus sayang. "
*
*
Pria itu dengan telaten merawat istrinya, selalu siaga setiap Zia membutuhkan bantuannya.
Seperti halnya pagi ini, setelah membantu Zia mandi kemudian menyiapkan sarapan dan juga susu hamil untuk istrinya. Meskipun kadang Zia protes merasa tidak enak hati selalu menyusahkan suaminya. Apalagi sekarang Zain memilih bekerja dari rumah, dan hal itu membuat Zia semakin merasa tak berguna. Karena seharusnya Zia lah yang mengurus suami bukan sebaliknya.
Namun, Zain tidak peduli akan hal itu. Ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak dan istrinya dengan tangannya sendiri.
"Hati-hati, Sayang! " pinta Zain lembut, menuntun Zia turun menuruni anak tangga keluar dari rumah.
"Iya, Sayang. " Sahut Zia terkekeh, melihat sikap posesif Zain yang semakin menjadi semenjak Zia keluar dari rumah sakit.
Saat ini keduanya tengah olahraga pagi dengan berjalan santai berkeliling sekitar komplek perumahan mereka.
"Istirahat dulu yuk, " ajak Zain yang langsung disetujui oleh ibu hamil itu, yang sudah letih. Terbukti dari wajahnya yang basah oleh keringat.
Zain menyodorkan sebotol air mineral untuk istrinya, kemudian menyapu keringat Zia menggunakan sapu tangan.
Sungguh Zia sangat beruntung memiliki Zain dalam hidupnya. Tidak hanya menjadi sosok suami yang ideal, Zia juga yakin suaminya akan menjadi sosok ayah yang baik bagi anak-anak mereka kelak.
"Udah ngak sabar nunggu dia keluar, Mas. " Pandangan mata Zia tertuju pada pasutri muda yang sedang mengajari anaknya berjalan. Wanita itu mengulas senyum lima jari serta tangan mengusap perut besarnya.
Zain hanya terkekeh pelan matanya mengikuti arah pandangan Zia. Senyum lebar terpatri di wajahnya, membayangkan dia dan Zia berada di posisi mereka saat ini.
oh astaga, membayangkannya saja membuat Zain begitu tidak sabaran.
"Kita pulang aja ya! kamu udah kelelahan apalagi nanti sore harus senam hamil, " bujuknya, merasa kasihan pada Zia yang kesusahan berjalan membawa perut besarnya.
"Wajahnya jangan gitu dong, Zia baik-baik saja, Mas. Support Zia terus dong biar semangat. Demi anak kita! " seru Zia berbisik di ujung kalimatnya. Tangan jahilnya mengusap wajah Zain yang murung.
__ADS_1
"Mas takut, " lirihnya menunduk dalam. Zain berusaha menyembunyikan ketakutannya, apalagi sebuah artikel ada yang memuat seorang ibu meninggal saat melahirkan. Hal itu semakin membuatnya resah saat mengingat HPL Zia sebentar lagi.
*
*
Tak terasa waktu terus berlalu tak ingin terpaku di satu waktu. Begitu pun dengan kehidupan yang tetap berjalan melalui alurnya masing-masing.
Pagi-pagi sekali semua orang yang ada di mansion Adhitama di buat blingsatan karena ulah Zain, si calon papa muda.
"Gimana Zain? " tanya mami melihat Zain yang berjalan keluar dari kamar mandi.
"Masih mules, Mi. Di suruh eek gak bisa! " keluh Zain sesekali meremas perutnya yang terasa begitu melilit.
"Mi, kita bawa Mas Zain ke rumah sakit aja, gimana? " usul Zia yang merasa cemas melihat keadaan suaminya.
Zia mengusap wajah Zain yang basah oleh keringat. Memegang erat tangan suaminya untuk menyalurkan kekuatan.
"Panggil dokter aja, Mi. Zain ngak mau ke rumah sakit takutnya Zia ngak nyaman, " tolak Zain cepat. Mami berfikir apa yang dikatakan Zain ada benarnya juga. Mami pun memutuskan untuk menghubungi dokter keluarga Adhitama.
Tak berselang lama, seorang dokter yang kerap di panggil pak Hasan itu masuk ke dalam kamar Zain.
"Suami saya sakit apa, Dok? " tanya Zia dengan perasaan gelisah melihat dokter yang diam terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Saat trimester pertama kehamilan Nyonya Zia, apa Tuan Zain mengalami kehamilan simpatik? " bukannya menjawab, dokter itu malah balik bertanya.
"Iya, " belum sempat Zia menjawab, Zain lebih dulu menyela. Mengingat masa-masa dimana setiap pagi Zain harus memuntahkan isi perutnya di awal kehamilan Zia.
"Kondisi tubuh Tuan baik-baik saja. Menurut hasil pemeriksaan saya Tuan ikut merasakan sakit saat Nyonya melahirkan, " terang dokter menjelaskan, membuat semua orang terkejut.
"Maksud dokter? suami saya akan merasakan sakitnya melahirkan? " tanya Zia ingin meyakinkan.
Dokter mengangguk, membenarkan pertanyaan ibu hamil itu.
Kening Zia berkerut dengan mata memicing, menatap curiga pada dokter di depannya yang terkesan mengada-ngada.
**
__ADS_1
Tbc.