
"Aku mencintaimu, " kata-kata cinta terus Zain ucapkan di sela-sela ciuman panas mereka.
Zain membaringkan tubuh Zia ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. Keduanya menyalurkan segala rasa dalam percintaan yang begitu menggairahkan.
Saling membelit melepaskan kerinduan beberapa hari berpisah. Meskipun terhalang oleh perut besar Zia hal itu tidak menyurutkan gairah keduanya.
"Terima kasih, " Zain mencium kening Zia, kemudian beranjak membersihkan tubuh istrinya dari sisa-sisa percintaan mereka.
Keduanya terlelap dengan posisi Zain yang memeluk Zia dari belakang.
*
*
"Ssstt, sakit sekali! " rintihnya dengan tangan meremas selimut dengan kuat.
"Mas, " panggil Zia lirih membangunkan suaminya.
Namun, usaha Zia sia-sia karena Zain tidak terusik sama sekali.
Zia berusaha bangkit meraih ponselnya di atas meja samping tempat tidur, tujuan pertamanya fokus menghubungi Jo untuk meminta pertolongan.
"Astagfirullah, " pekiknya terkejut tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas hingga terjatuh ke lantai.
"Sayang! " Zain pun ikut terkejut langsung bangun dari tidurnya.
Wajahnya langsung panik melihat wajah Zia yang pucat pasi bahkan tubuhnya basah oleh keringat dingin.
"Sakit, " Zain begitu panik melihat Zia yang kesakitan, kemudian menggendong istrinya keluar dari kamar.
"Ke rumah sakit, Pak! " pinta Zain pada supir taksi.
__ADS_1
Pak supir itu pun hanya mengangguk kemudian mulai melajukan mobilnya.
"Sakit, Mas! " ucap Zia, suaranya semakin lemah dan matanya mulai terpejam menahan rasa sakit pada perutnya yang semakin menjadi.
"Sabar sayang, bertahanlah aku mohon! " pinta Zain menatap khawatir pada istrinya, mengusap lembut keringat yang membasahi wajah Zia yang semakin pucat.
"Sayang, jangan tutup matanya! " pinta Zain lagi suaranya berubah serak menahan tangis tak kuasa melihat keadaan Zia, menepuk lembut pipi Zia yang mulai kehilangan kesadarannya.
Pak sopir yang melihat kedua penumpangnya dari spion mobil, ikut panik dan juga kasihan melihat Zia tidak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit, Zain langsung menggendong Zia ke dokter kandungan untuk memastikan kondisi istri dan calon anak mereka.
"Zain, " panggil ke tiga orang itu serentak.
Orang tua Zia dan mami Zain datang bersamaan setelah mendapatkan kabar dari Zain.
Zain yang begitu gelisah berjalan mondar mandir di depan ruangan dokter itu pun menoleh, terlihat wajah ketiga orang tuanya tak kalah khawatir sama dengan dirinya.
"Kenapa bisa Zia kesakitan begitu? Tadi malam berapa kali? " cerca mami menatap Zain penuh selidik. Mami yakin semua ini terjadi karena ulah Zain yang tidak bisa mengendalikan diri padahal Zia sedang hamil besar.
Mama dan papa Zia saling pandang sesaat kemudian beralih menatap Zain dan maminya bergantian.
"Pas bangun tidur perutnya tiba-tiba sakit, Zain sempat mengira dia mau melahirkan tapi HPLnya kan belum Mi, " ungkap Zain menerangkan, menatap takut pada mertuanya dengan perasaan bersalah karena kembali gagal menjaga putri mereka.
"Maafkan Zain Ma, Pa! tolong jangan pisahkan kami lagi, " ucap Zain lirih dengan kepala tertunduk. Ada rasa takut di hati pria calon ayah baru itu mengingat kesalahannya kali ini, mertuanya akan murka dan kembali memisahkan mereka seperti beberapa bulan yang lalu.
"Tidak! tidak, itu tidak boleh terjadi! " Zain menggeleng kuat dengan wajah ketakutan.
"Kamu kenapa? " tanya papa menyentuh bahu Zain.
Tanpa menjawab pertanyaan Tuan Nugraha tubuh Zain langsung merosot bersimpuh seraya memegang kaki mertuanya, air matanya pun sudah tak terbendung lagi.
__ADS_1
"Zain mohon Pa! jangan pisahkan kami, " pintanya lirih terdengar pilu, menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Papa membantu Zain berdiri di tatapnya wajah basah menantunya itu. Ia merasa sangat bersalah saat melihat Zain seolah trauma dengan tindakannya dulu.
Tuan Nugraha yakin, Zain adalah sosok laki-laki yang baik serta bertanggung untuk anak dan cucunya kelak. Pria paruh baya itu begitu menyesali keputusannya waktu itu.
"Tidak akan, kita sama-sama berdoa semoga cucu dan putri papa baik-baik saja! " seru papa meyakinkan, menepuk dua kali bahu menantunya itu seraya tersenyum memberi semangat.
"Terima kasih, Pa! "
Pelukan mertua dan menantu itu telerai saat mendengar pintu ruangan dokter terbuka.
Zain berlari menghampiri dokter perempuan tersebut yang baru melepaskan sarung tangan karetnya.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok? " tanya Zain cepat, dengan perasaan ketar ketir menanti jawaban dokter perempuan tersebut. Wajah Zain yang sangat cemas kini semakin tegang dan ketakutan saat dokter diam seraya menggeleng.
"Tadi sempat kritis karena kontraksi yang dialami Bu Ziandra cukup parah, sekarang semuanya sudah kembali baik-baik saja dan alhamdullilah semuanya sudah kembali normal, " terang dokter perempuan tersebut menjelaskan. Semua orang menghela nafas lega, terlebih Zain.
"Dan untuk Bapak! tolong kerjasamanya supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi, " Zain yang menjadi tersangka hanya bisa mengangguk dengan senyum malu menatap ke 4 pasang mata yang menyorot tajam padanya.
"Saya boleh masuk, Dok? " tanya Zain lagi, belum sempat dokter menjawab Zain lebih dulu berlari masuk keruangan Zia. selain tidak sabar ingin melihat keadaan istrinya, pria itu sengaja lari dari suasana yang terasa mencekik baginya.
"Kamu di panggil dokter ke ruangannya, " beritahu Mami ikut masuk melihat kondisi menantu kesayangannya itu. Zain yang sudah tenang sekarang malah kembali khawatir lagi saat mendengar perkataan maminya.
"Mas tinggal sebentar ya! " seru Zain tidak mendapatkan jawaban dari istrinya karena Zia belum sadarkan diri. Mencium lembut kening Zia kemudian bergantian dengan perut buncit Zia dimana calon anaknya berada.
"Zain titip Zia, Mi! " pintanya sebelum keluar dari ruangan Zia.
Setelah beberapa saat saling diam, dokter tersebut mulai menjelaskan kondisi Zia pada pria di hadapannya yang berstatus sebagai suami dari pasien.
"Bukankah dokter sendiri yang bilang waktu itu saat trimester akhir berhubungan badan itu sangat dianjurkan, kenapa bisa berakibat fatal seperti ini? " kesal Zain malah menyalahkan dokter perempuan tersebut, tidak terima dengan tuduhan dokter yang menyalahkannya atas apa yang menimpa Zia. Bagaimanapun juga Zain sangat mencintai Zia, ia akan selalu memberikan yang terbaik untuk mereka.
"Pak, saya memang menyarankan demikian dengan catatan harus tetap hati-hati, disini meskipun bayinya sudah besar dan sebentar lagi siap dilahirkan, tapi berhubungan badan durasi lama dan sering juga dilarang. Apalagi Bapak mengeluarkan cairannya di dalam, hal ini yang paling utama pemicu kontraksi yang terjadi pada bu Ziandra, " jelas dokter panjang lebar dan dengan kesabaran ekstra tentunya untuk menghadapi pria seperti Zain.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dokter membuat Zain seolah tertampar oleh kenyataan, seringkali dokter mengingatkan saat cek kandungan, karena ia terlalu bersemangat membuat Zain melupakan poin penting yang satu itu.