Terimakasih Telah Mengkhianatiku

Terimakasih Telah Mengkhianatiku
Mau melahirkan


__ADS_3

"Yank, kamu ngompol? " tanya Zain mendongak menatap wajah cantik istrinya dari bawah.


Tangannya tanpa sengaja menyentuh kasur tempat duduk Zia. Gerakan Zia yang ingin ke kamar mandi terhenti matanya menatap kesal pada suaminya.


Bagaimana tidak kesal, setelah dokter bicara yang tidak masuk akal dan sekarang malah suaminya ketularan bodo dokter pria itu.


"Kamu gila, Mas. Mana mungkin ngompol siang bolong begini. Kamu pikir aku anak kecil yang buang air gak tau tempat, hah? " salaknya menatap tajam pada Zain.


Zain hanya bisa pasrah mendapatkan timpukan bantal dari amarah Zia yang menggebu-gebu, tangannya menunjuk pada kasur yang basah tepat di belakang Zia.


Zia dan juga semua orang yang di sana mengikuti arah tangan Zain, semua orang memandang Zia dengan tatapan aneh.


Zia yang jadi tersangka perlahan ikut memutar kepalanya mengikuti arah mata semua orang.


Pupil matanya sontak melebar, dan benar saja kasur bekas duduknya terlihat basah, kemudian tangannya menyentuh kain bagian belakangnya, basah.


Zia menggelengkan kepalanya menatap satu persatu semua orang yang ada di sana.


"Apa jangan-jangan Zia mau melahirkan? " celetuk mami mengejutkan semua orang termasuk Zia sendiri.


"Apa? " pekik Zain kuat, perutnya malah semakin sakit, entah karena serangan panik mendadak atau kembali kontraksi hanya Zain yang tau.


Zain langsung bangkit, dengan sisa tenaga yang ia punya pria itu langsung menggendong tubuh Zia menuju mobil.


"Mas! Zia masih sanggup jalan, " menolak halus apa yang Zain lakukan. Wajah Zia mendadak gelisah takut-takut perut pria itu kembali kontraksi saat menggendongnya.


Zain membisu dengan pandangan mata fokus pada anak tangga, melangkah hati-hati tetap membawa Zia dalam gendongannya.


Zia mendengus kesal karena Zain tidak mengindahkan ucapannya ia pun mengalungkan tangan di leher pria itu.


"Ah! sampai juga, " pria itu menghela nafas panjang merasa lega, melirik pada ibu hamil itu yang sudah berada di dalam mobil. Pria itu masuk kemudian mendudukkan tubuhnya di samping istrinya.

__ADS_1


*


*


"Mas, sakit! " keluh Zia lalu terisak-isak. Zia mulai merasakan sakit saat sudah masuk ruang bersalin. Dia tidak peduli ada dokter dan perawat di dalam ruangan itu. Rasanya dia benar-benar ingin menangis karena sakitnya tidak bisa ditahan. Apakah sebelumnya Zain juga merasakan sakit seperti yang kurasakan, pikirnya.


"Sabar ya, Sayang! aku yakin kamu bisa. Kamu harus kuat demi anak kita, " ucap Zain memberi semangat pada istrinya, mengusap kening wanita itu yang basah oleh keringat.


"Tapi ini sakit sekali, Mas! " mencengkram kuat tangan Zain hingga kuku- kuku panjang Zia menancap pada tangan kekar nan putih itu.


"Aduh, sakit sayang! " keluh pria itu, melihat tangannya yang luka karena ulah sang istri.


"Hanya luka seperti itu kamu sudah mengeluh, bagaimana dengan aku? sakitnya seperti nyawa di tarik paksa dari tubuh ku. Jangan giliran enaknya saja yang mau sakitnya juga harus mau, " gerutu Zia panjang lebar. Merasa kesal dengan suaminya.


 Zain menggaruk kepala yang tidak gatal, memalingkan wajahnya yang memerah malu. Mengingat di sana tidak hanya mereka berdua, dokter dan juga perawat ikut, tersenyum canggung mendengar perkataan Zia.


"Mas, Zia lapar! " ungkap Zia setelah beberapa saat.


"Lapar? " Zain cukup tercengang, mendengar istrinya yang mengeluh lapar di saat seperti ini.


"Dokter,apa tidak masalah kalau istri saya ingin makan dalam kondisi seperti ini? " tanya Zain, pandangan matanya beralih pada dokter perempuan itu.


"Tidak apa-apa, Pak. Itu malah bagus bisa menambah stamina ibu buat melahirkan dedeknya. Bu Ziandra masih bisa makan sambil menunggu pembukaannya lengkap, " terang dokter perempuan tersebut sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu saya keluar dulu sebentar, tolong jaga istriku! " tukasnya, menatap pada dokter yang sedang mengangguk sebelum pergi.


Diluar ruangan, tawa Jo langsung meledak melihat sosok yang muncul saat pintu ruang bersalin terbuka dari dalam. Rambut yang berantakan, wajah dan juga tangan yang luka akibat cakaran Zia. Serta pakaiannya juga sedikit rusak, penampilan yang biasanya rapi kini berganti seperti orang yang habis di amuk binatang buas.


"Belikan makanan buat Zia, dia lapar! " titahnya tegas, menyodorkan beberapa lembar uang bewarna merah ke hadapan Jo.


Tawa langsung mereda menatap jengkel pada Zain, dengan berat hati tangan Jo terulur mengambil uang tersebut dan segera berlalu dari sana, sebelum mendapatkan amukan dari Zain.

__ADS_1


"Biar Mas suapin! " Zain menarik kursi sebagi tempat duduknya, kemudian mulai menyuapi istrinya yang makan begitu lahap.


Zain mengulum senyum melihat keadaan Zia lebih baik, tidak lagi berteriak dan marah-marah seperti tadi. Sebenarnya dia berteriak karena sakit atau karena lapar? tanyanya dalam hati.


"Dokter, kenapa sakitnya bisa hilang timbul? " tanya Zain dengan polosnya.


"Itu adalah hal yang wajar, " terang dokter perempuan itu tersenyum ramah.


"Auwwh, " rintih Zia kembali, mengalihkan atensi sang suami pada Zia yang kembali kesakitan.


Dokter yang melihat Zia kembali merasakan kontraksi, segera memposisikan dirinya di depan kaki Zia melihat jalan lahir.


"Sebaiknya tahan dulu pembukaannya belum lengkap, jangan mengejan meskipun ada dorongan dari dalam." Dokter menjelaskan sedikit, karena terlalu berbahaya mengejan ketika belum waktunya. Dikhawatirkan nanti akan memperlambat proses persalinan.


"Tapi rasanya sudah tidak tahan, " rengek Zia sembari mencengkram baju yang di pakai suaminya. Melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan, entah kenapa ibu hamil itu sangat ingin marah pada suaminya.


"Dok, apakah tidak ada obat untuk meredakan sakit saat kontraksi? " tanya Zain, ia berharap ada obat yang bisa meredakan sakit pada istrinya. Tidak tidak melihat Zia yang kesakitan dan nafas yang sudah tersengal-sengal.


"Tidak ada, setelah dedeknya lahir rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Kelahiran pertama memang seperti ini karena belum berpengalaman, " terang dokter perempuan itu lagi. Zain hanya bisa menghela napas panjang. Menggenggam erat tangan istrinya menyalurkan kekuatan.


"Lihatlah! istriku sangat kesakitan, " ucap Zain dengan wajah sendu.


Dokter mulai jengah dengan reaksi Zain yang terlalu berlebihan, yang namanya melahirkan tentu saja sakit.


"Kalau kasihan padanya karena menderita jangan berhubungan intim, dengan begitu dia tidak akan hamil dan merasakan sakitnya melahirkan, " sahut dokter dengan wajah santainya.


Zain mendengus kesal mendengar jawaban dokter perempuan itu. Menikah tanpa melakukan hubungan suami istri itu adalah hal yang mustahil, kecuali pasangan itu tidak normal.


"Dok, kapan bayinya akan lahir? aku sudah tidak sanggup, " rengeknya dengan gelisah.


Zain yang berada di dekat wanita itu terpaksa menjadi sasaran pelampiasan sakit yang Zia rasakan.

__ADS_1


***


Tb Continued.


__ADS_2