Terimakasih Telah Mengkhianatiku

Terimakasih Telah Mengkhianatiku
Di jebak


__ADS_3

Sedangkan di belahan dunia lain, perlahan Zain mulai mengerjapkan mata terganggu oleh suara tangis seorang perempuan.


"Siapa yang menangis? " gumam nya serak.


"Ini di mana? " Zain mengedarkan pandangan nya sekeliling ruangan, menyadari kalau ini bukan lah kamar nya.


Zain beranjak duduk dari pembaringan, mata nya membulat sempurna melihat sosok perempuan yang duduk di ujung tempat tidur. Zain menyingkap selimut, semakin shock melihat tubuh bagian bawah nya yang hanya memakai celana kolor.


"Tidak.. Tidak mungkin, ini tidak mungkin! " Zain menggeleng kuat menolak mempercayai apa yang terjadi. Tidak mungkin Zain bisa berdekatan dengan perempuan lain apalagi bercinta, Zain masih mengingat kebiasaan nya yang akan muntah saat berdekatan dengan perempuan lain selain istri nya.


Mata Zain kembali terbuka lebar saat melihat sosok wanita yang dikamar nya adalah Angela, sosok wanita yang selalu berusaha mendekati nya selama ini.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" teriak nya marah menatap tajam pada Angela yang menangis.


"Setelah merenggut kesucian ku, kau malah bertanya apa yang aku lakukan? " Angela tersenyum sinis,


"Kau pasti menjebak ku! "pekik nya tak terima mendengar jawaban dari mulut Angela.


" Kau memang pria kejam, setelah memaksa ku melayani mu dan sekarang malah kau menjebak ku. " Sanggah nya, menunjuk wajah Zain penuh amarah.


"****** sialan, " Zain menyeret tubuh Angela keluar.


"Kau harus bertanggung jawab Zain! atau aku akan melaporkan perbuatan mu pada polisi, dan kamu pasti tau akibat nya, reputasi mu akan hancur. " Suara Angela tertelan oleh pintu yang lebih dulu sudah di tutup Zain.


Angela menyunggingkan senyum licik, mengusap ke dua pipi yang basah oleh air mata buaya nya.


"Ini baru permulaan Zain, kamu boleh menolak ku, tapi aku akan pastikan kau akan jadi milik ku. " Gumam nya tersenyum, kemudian melangkah pergi.


Sedangkan di dalam kamar, Zain berusaha mencari keberadaan ponselnya. Zain menghela nafas saat menemukan ponselnya di lantai dalam keadaan mati, kemudian memutuskan untuk segera mengisi daya. Pikiran Zain kalut, memikirkan bagaimana hal ini bisa terjadi, belum lagi keberadaan Jo yang belum diketahui .


"Jo kemana sih? kenapa bisa lengah seperti ini, memberi kesempatan pada Angela dan Demian menjebak ku. " Zain memilih ke kamar mandi dengan harapan pikiran nya bisa lebih tenang setelah mandi.


Zain kembali menghidupkan ponsel nya saat sudah terisi daya, ponsel Zain berdering banyak pemberitahuan yang masuk, Zain memilih abai dan segera menghubungi Jo.


Tuuuttt...


Panggilan tersambung pada Jo, tapi tidak satu pun dari panggilan nya yang mendapatkan kan jawaban.

__ADS_1


Sedangkan di kamar lain masih di hotel yang sama, Jo berusaha melepaskan lilitan tali di tubuh nya. Ya, Jo di sekap oleh anak buah Demian.


"Ahh.. Akhirnya lepas juga." Jo bernafas lega kemudian melangkah menuju pintu yang juga terkunci.


Mengandalkan alat seadanya, Jo berusaha membobol pintu yang terkunci dari luar.


Tak,


Usaha Jo berhasil, membuka pintu dengan hati-hati melongok kan kepala nya mengintai musuh yang bisa saja menyerang tiba-tiba.


Melihat keadaan sekitar sudah aman, Jo mulai melangkah pergi, tujuan nya saat ini mencari keberadaan Zain, yang semalam sempat ia lihat di bawa oleh pria berpakaian serba hitam, Jo terlambat menyelamatkan Zain karena dia juga di bius.


Dreeet...


Zain langsung menjawab panggilan yang masuk setelah melihat siapa yang menghubungi nya.


"Lo dimana Jo? " tanya nya marah.


"Gue di hotel tempat acara tadi malam, Lo dimana?" Jo langsung menuju kamar yang di sebut kan oleh Zain.


Bugh,


"Bangsat.. Kenapa lo mukul gue? " pekik nya marah, mengusap sudut bibir nya yang berdarah akibat pukulan Zain.


"Kesalahan lo fatal! memberi kesempatan Demian menjebak gue, "


"Gue di sekap Zain, semalam gue sempat ngeliat pas lo di bawa, tapi baru aja gue mau ngejar lo, gue di hajar dan salah satu dari mereka menyuntikkan sesuatu di leher gue, setelah nya gue ngak ingat apa pun lagi, setelah sadar kaki dan tangan ku terikat, dan mulut gue di sumpal. Gue hampir mati Zain. " Jelas nya.


"Demian! " Teriak Zain penuh amarah.


"Demian menjebak gue menggunakan anak nya, dan memanfaatkan keadaan untuk menjatuhkan gue, dan parah nya Angela juga minta pertanggung jawaban sama gue. "


"Gue yakin, kalau semalam tidak terjadi apa-apa. " sambung nya meyakinkan, tapi ada sedikit keraguan saat bercak darah yang ada di sprei. tapi dengan cepat Zain menepis asumsi nya itu.


"Selidiki semua nya Jo, kumpulkan semua bukti perbuatan mereka. "ujar nya berapi-api.


Jo membeku saat mendengar cerita Zain.Pikiran nya langsung tertuju pada Zia. Jo menggeleng menolak kemungkinan buruk yang ada di pikiran nya.

__ADS_1


****


Zia berbalik masuk ruangan nya kembali.


Gugup tiba-tiba menyerang, dengan tangan bergetar membuka amplop di tangan nya.


" Foto? "gumam Zia menatap banyak foto di dalam nya.


Deg,


Jantung nya berpacu kencang, melihat foto seorang wanita terlelap di samping seorang pria yang wajah nya tidak terlihat karena posisi miring.


Tubuh Zia terhuyung, tangan nya meremas kuat foto di tangan nya yang jelas memperlihatkan wajah pria itu.


" Tidak, ini tidak mungkin. Ini pasti rekayasa! " Zia menggeleng kuat dengan air mata sudah mengalir di pipi nya. Zia terus menggeser foto di tangan nya.


Zia tergugu meremas dada nya yang terasa sesak.


Kilasan adegan panas Daren dan Celine saat itu, kembali melintas di pelupuk mata nya yang terpejam.


Hal yang sama terulang kembali, ingin rasa nya Zia menyangkal kalau yang di foto itu bukan suami nya, tapi melihat tanda lahir yang ada di bahu Zain, seketika menghancurkan harapan yang ada.


Meskipun posisi mereka tidak seintim itu, Zia bukan lagi anak kecil, yang tidak mengerti apa yang di lakukan dua orang yang berbeda jenis dalam satu kamar yang sama.


Zia mengambil ponsel nya, mencari kontak sang suami, tapi lagi-lagi nomor Zain tidak aktif, kemudian beralih pada Jo, panggilan nya terhubung tapi tidak mendapatkan jawaban.


"Kalian kemana sih? " tanya nya lirih, terus menghubungi dua manusia yang bisa menjawab kegelisahan nya.


Zia meringis memegang perut nya yang tiba-tiba sakit, dengan sisa tenaga yang ada, Zia memilih menelpon papa nya meminta bantuan.


"Halo Pa, "


"Kamu kenapa Zia? " tanya nya yang mendengar suara Zia yang berbeda tidak seperti biasa.


"Tolong Zia Pa! " ucap nya terbata, setelah menyelesaikan kalimat nya, tubuh Zia merosot di lantai dan pandangan nya menggelap.


****

__ADS_1


To be continued.


Kasih like dong💞


__ADS_2