
"Akh, Zac! kenapa kamu tega pada Pipi, Nak? " Zain mengacak rambutnya frustasi. "Sekarang bukan hanya kepala atas yang pusing tapi kepala bawah juga pusing, " keluhnya lagi., Ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur menyusul Zia yang sedang menyusui putra mereka.
Wanita itu terkekeh kecil, sebenarnya ia juga kasihan pada suaminya. Tapi tidak mungkin juga ia mengabaikan bayi merah itu yang belum mengerti apa-apa.
"Sabar, Pi.. Zac mau mimik bentar, " ucap Zia menirukan suara anak kecil. Tangan wanita itu terulur mengusap kepala suaminya.
Zain terdiam dengan mata terpejam, menetralisir hasrat yang sudah di ubun-ubun.
Setelah menidurkan putra kecilnya, Zia kembali menghampiri Zain yang berbaring di atas kasur dengan tangan di letakkan di atas kepala.
"Pi, " panggil Zia lembut. Tidak mendapatkan jawaban dari pria itu.
"Mau di lanjutin yang tadi gak? Baby Zac udah tidur tuh, " tanya Zia. Mengubah posisinya menghadap Zain. Tangan Zia terulur menusuk-nusuk wajah tampan suaminya.
"Gak mau nih? jangan menyesal ya Pi, gak ada kesempatan ke dua loh, " Zia tersenyum penuh arti. Wanita itu beranjak mengitari ranjang. Baru satu langkah, tangan Zain menarik tubuh berisi istrinya.
Zain langsung mencium bibir Zia, rasa manisnya masih sama saat ciuman pertama mereka dulu, tangan nakal Zain tak tinggal diam, dengan lincah menggerayangi tubuh istrinya.
"Jangan! " Zia menahan wajah Zain yang akan melahap aset baby Zac. Mata pria itu menatap kecewa pada Zia, kecemburuannya pada baby Zac semakin menjadi.
"Kenapa? " tanyanya, pria itu mengangkat wajahnya. Kemudian
"Ngak boleh, Mas. Ini untuk anak kita, Zia akan berikan yang lebih dari ini. " Wanita itu tersenyum manis. Bangkit dari tubuh suaminya, kemudian memposisikan diri duduk di atas perut pria itu.
"Aku mencintaimu Ziandra Adhitama, " ucap Zain setelah mendapatkan pelepasannya. Meskipun tidak bisa memasuki tubuh Zia. Namun, wanita itu mampu memberikan kepuasan luar biasa untuk suaminya.
Zain mengecup seluruh permukaan wajah istrinya, yang masih mengatur nafas yang masih tersengal-sengal. Zia hanya mengangguk tanpa bersuara.
Zain menarik tubuh Zia kedalam pelukannya. Kedua insan itu terlelap dengan saling mendekap.
*
*
__ADS_1
"Gak kerja, Pi?" tanya Zia. Melihat Zain yang masih bermain sama baby Zac. Matanya beralih pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Dari rumah aja, Mi. Nanti malam jadikan acara makan malamnya? " tanya Zain tanpa menghentikan kegiatannya mencubit pipi baby Zac. Zia yang melihat hal itu, berjalan cepat mendekat pada anak dan suaminya.
"Ihh.. Jangan di gituin, Pi. Merah kan, " sungut wanita itu kesal. Menepis tangan Zain dari wajah baby Zac. Wanita itu mendelik kesal, mengusap pipi putranya.
"Jadi, " jawabnya singkat. Zia melotot tajam pada Zain saat tangan pria itu kembali terulur menjahili baby Zac yang sedang minum susu.
Pria itu cengengesan. Mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan. Mencium pipi wanita yang di cintainya itu sebelum beranjak ke kamar mandi.
...****************...
Waktu terus berjalan, siang pun berlalu berganti malam. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di mansion Adhitama. Jo datang bersama istrinya, di susul oleh Leo di belakang pasutri itu.
"Assalamu'alaikum, " Ketiganya masuk rumah dan mencium punggung tangan mami Zain yang sedang menggendong baby Zac.
Setelah menyapa wanita paruh baya itu, Leo dan Jo menyusul Zain yang berada di dapur.
Kedua pria itu menahan tawa saat melihat Zain yang mondar mandir membantu Zia. Celemek melekat di tubuh pria itu.
"Bukan suami takut istri, lebih tepatnya suami sayang istri, " sela Zain. Mencuri ciuman di pipi Zia.
"Ngak tahu tempat, lo! " gerutu Leo. Jiwa jomblonya meronta melihat Zain yang sengaja mengumbar kemesraan di depan mereka.
Dengan perasaan dongkol Leo keluar dari dapur. Karena matanya sibuk mencari keberadaan gadis pujaan hatinya, tubuh pria itu menabrak seseorang.
"Yaahh, pecah! " keluhnya. Menatap nanar pada wadah yang terbuat dari kaca, berserakan di lantai.
"Sorry, gue gak sengaja! " Leo turut mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu.
Ameera mendongak, seketika pandangan kedua mata itu beradu. Jantung Leo berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.Mata pria itu tak berkedip memandang wajah yang sedari tadi ingin ia lihat.
"Kak, " panggil Ameera. Memecahkan suasana canggung di antara mereka.
__ADS_1
"Hah? " Leo tersenyum kaku, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf! aku gak sengaja, " ujarnya kikuk.
Suasana kembali terasa canggung. Padahal sebelum itu, Leo sudah menyiapkan banyak kosakata untuk bicara dengan gadis pujaan hatinya. Tapi otak pintar Leo yang merupakan seorang pengacara sekaligus pengusaha itu mendadak bodoh di hadapan Ameera.
"Kita beli yang baru aja, gimana? " tawar Leo, mengikuti arah mata gadis itu yang sesekali melihat pada serpihan kaca di lantai.
"Gak papa, Kak. Besok aja, " tolak Ameera lembut. Gadis itu bangkit di ikuti oleh Leo yang masih setia mengekori kemana Ameera pergi.
"Bik, tolong bersihin itu ya! " pintanya, seraya menunjuk pecahan kaya pada salah satu pekerja di rumah itu.
"Kakak mau kemana? " tanya gadis itu, menoleh ke belakang.
"Mengejar cinta mu, " jawab Leo tersenyum tanpa dosa, menampilkan deretan gigi putih pria itu.
Wajah Ameera memanas, mendengar gombalan Leo. Meskipun Ameera di kelilingi pria tampan, tapi tak satupun yang bisa membuat hatinya bergetar. Berbeda dengan Leo, ada rasa berbeda yang gadis itu rasakan.
Kepala Ameera menggeleng, menepis apa yang sedang ia pikirkan.
"Pepet terooosss, " suara Clara mengejutkan dua insan itu.
Clara dan mami yang ingin ke kamar baby Zac, langkah mereka tertahan saat melihat Ameera dan Leo di dekat anak tangga.
Ameera yang kepalang malu, berlalu begitu saja meninggalkan tiga orang itu yang masih menggodanya.
"Bolehkan, Tan? " tanya Leo ambigu.
Bibir pria itu tertarik sempurna, membingkai senyum lebar melihat mami Sinta yang mengangguk.
"Udah dapat restu, tinggal tancap gas! " kelakar Clara, memancing gelak tawa di bibir dua orang itu.
Meja panjang dengan kursi yang bersusun rapi, semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Selain keluarga besar Adhitama, orang tua Zia juga datang memenuhi undangan makan malam bersama dari keluarga besan sekaligus sahabat mama Jeni.
"Ngomong-ngomong makan malam dalam rangka apa nih Zain? " tanya papa Zia, beralih menatap menantunya.
__ADS_1
"Dalam rangka acara lamaran aku sama Ameera, Om! " celetuk Leo yang menjawab.
Semua mata kompak tertuju pada pria itu. Ameera yang di sebut namanya seketika mematung. Jantungnya seakan berhenti berdetak, membuat nafas gadis itu terasa tercekat di tenggorokan.