
...~ Happy reading~...
"Ini sakit sekali, " rintih Zia kembali. Wajah putihnya menjadi merah padam merasakan sakit yang luar biasa. Tiba-tiba saja ada keinginan yang mendorongnya untuk mengejan lebih kuat. Reflek Zia menggigit tangan Zain hingga gigi putih itu menancap pada kulit suaminya.
"Akhh, " pekik Zain ikut merasakan sakit di tangannya. Suara teriakan Zain dan Zia saling bersahutan di dalam ruang bersalin.
Dokter memberikan aba-aba pada Zia saat kepala bayi sudah mulai terlihat.
Sebisa mungkin Zia mengikuti arahan dokter perempuan itu, meskipun rasa sakitnya tidak bisa di gambarkan lagi. Namun, tenaga wanita itu masih kuat menarik dan menjambak rambut suaminya. Bahkan setiap mengejan Zia terus menggigit tangan Zain. Apa pun ia lakukan pada tubuh pria itu sesuka hatinya.
Dokter dan perawat yang ada di sana bergidik sekaligus kasihan melihat nasib Zain yang mengenaskan.
Tak berselang lama, tangis bayi memecah di penjuru ruangan bersalin. Zain menghela nafas pelan, merasa lega sudah melewati masa tersulit dan juga penyiksaan fisiknya.
Sama halnya dengan Zia, Zain juga merasa nyawanya hampir melayang, kulit kepalanya pun seakan ingin lepas.
Rasa sakit itu terbayar lunas saat pandangan mata Zain tertuju pada bayi merah yang sedang di letakkan di atas dada Zia.
"Terima kasih sayang, " Zain mengecup kening Zia yang basah oleh keringat. Wanita yang sudah bergelar seorang ibu itu hanya mengangguk lemah sebagai jawaban, tak sanggup lagi rasanya bicara walau hanya mengeluarkan sebuah kata iya.
Zain begitu terharu, saat melihat bayi mungil yang begitu rakus menyedot ASI dari sumber kehidupan miliknya.
*
*
"Mi, " Zain langsung menghambur memeluk tubuh wanita yang melahirkan dirinya.
Mama dan papa Zia saling pandang, pikirannya mendadak cemas. Takut-takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada anak dan cucu mereka. Kemudian mama beralih melirik besannya seolah bertanya, mami mengangkat bahu seraya menggeleng.
"Zia gimana Zain? " tanya mami, mengendurkan pelukannya menatap wajah sang putra.
__ADS_1
"Zia sama dedeknya baik-baik saja Mi, sekarang sedang di bersih kan. " Terang Zain dengan wajah berbinar.
Senyum lega terbit di bibir ke tiganya mendengar kabar dari Zain.
"Silahkan di azani dulu baby boynya! " titah dokter, menyerah bayi mungil itu ke pangkuan Zain.
Dengan suara bergetar Zain mengumandangkan azan di telinga sang putra, terakhir melabuhkan ciuman di seluruh wajah mungil nan merah itu.
"Aku dulu ya Sin yang gendong, " seloroh mama Jeni di iringi kekehan kecil. Mami mengangguk seraya mengusap sudut matanya yang basah. Terharu melihat kebahagiaan putranya yang kini sudah bergelar seorang ayah.
Saat ini semua keluarga besar mereka berada dalam ruang perawatan Zia.Ya, Zia sudah di pindahkan beberapa menit yang lalu.
Senyum merekah tak pernah pudar dari bibir pasangan suami istri itu, sejak mereka mendapatkan kebahagiaan dengan lahirnya pangeran penerus Adhitama. Bahkan rasa sakit saat melahirkan sudah terlupakan oleh Zia berganti dengan kebahagiaan.
"Kalian mau kasih namanya siapa? " tanya papa, tanpa mengalihkan pandangan dari wajah mungil yang sudah berpindah di gendongnya. Begitu mengagumi ketampanan cucunya.
Zia dan Zain saling pandang, kemudian tersenyum penuh arti. " Rahasia! " seru keduanya kompak.
Meskipun ketiga orang tua itu keberatan dengan keputusan Zain. Namun, dengan terpaksa ketiganya harus mengangguk untuk memendam rasa penasaran sampai waktu aqiqah baby boy tiba.
"Buruan Mas! udah nangis kejer ini, " gerutu Zia kesal melihat gerakan Zain yang terlalu lamban. Zia yang masih kesulitan bergerak, membuatnya kesulitan saat memberi ASI.
Karena terlalu panik mendengar suara tangis sang anak, membuat Zain kelimpungan tidak tau harus melakukan apa. Saat ini hanya ada mereka berdua, semua orang tua Zain dan Zia sudah pulang sejak tadi pagi.
"Huftt! baru juga umur 2 hari udah bikin senam jantung bapaknya, " gerutu Zain yang langsung di hadiahi pukulan dari sang istri.
"Jadi kamu keberatan bantuin kita, gitu? " Zia mendelik tajam. Merubah posisi tubuhnya membelakangi Zain, menggendong baby boy yang masih sibuk menyedot sumber makanannya itu.
Zain menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus bagaimana menjelaskan. Maksud hati ingin bercanda malah di tanggapi serius oleh ibu baru itu.
"Sayang, bukan begitu maksud, Mas. Mas panik saat dengar anak kita nangis kenceng gitu, " terang Zain hati-hati. Memberikan usapan lembut di bahu sang istri.
__ADS_1
Zain sedikit bingung dengan sikap istrinya. Semenjak melahirkan Zia semakin sensitif melebihi saat hamil muda dulu. Zain menghela nafas kasar, melihat Zia yang diam tidak menanggapi ucapannya.
"Sepertinya aku harus menambah stok kesabaran melebihi saat dia hamil, " gumam pria itu dalam hati. Tanpa mengalihkan atensi dari dua objek yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Holla.... Aunty datang! " suara cempreng seiring dengan suara pintu di buka membuat Zain tersentak. Pria itu langsung berlari menghadang orang yang ingin masuk tanpa permisi itu. Mengingat Zia sedang menyusui. Sungguh Zain tidak ingin tubuh istrinya di lihat oleh pria lain.
"Eits, jangan masuk dulu! " sekuat tenaga Zain menahan pintu yang sudah terbuka sedikit.
Seperti dugaan papa muda itu, di sana tidak hanya ada Clara tapi ada Jo, dan kedua sahabatnya.
"Lo apa apaan, sih! kita mau jenguk anak sama bini lo, " kali ini Jo yang bersuara, melongok dari sebelah badan sang istri.
"Anak gue lagi minum ASI, kalian tunggu di luar dulu! " seru Zain dari balik pintu. Tanpa menghiraukan protes teman-temannya, Zain langsung mengunci pintu.
Pria itu berjalan menghampiri Zia yang sedang mengancingkan baju, pandangan matanya tertuju pada sang anak yang sudah terlelap dengan mulut sedikit terbuka. Membuat bibir pria itu melengkung sempurna mengukir sebuah senyuman.
Meskipun masih kaku, dengan hati-hati Zain membaringkan tubuh mungil anaknya ke dalam box yang ada di samping bed Zia.
"Sekarang baru boleh masuk, awas jangan ribut anak gue tidur! "
"Posesif banget, " sungut Clara, berjalan melewati Zain begitu saja. Ia masih kesal dengan pria itu.
"Woaahhh...Tampan banget, " puji Clara mengagumi wajah tampan anak sahabat mereka. Menyentuh lembut pipi merah yang begitu menggemaskan, membuat bayi merah itu menggeliat merasa tidurnya terusik.
"Pasti, ini anak bibit unggul sudah pasti tampan. Mak sama bapaknya good looking gini masa anaknya ngak, " seloroh Zain menepuk dada dengan bangga. Mengedipkan matanya pada sang istri.
"Ck, narsis lo! " cibir Jo menimpuk kepala Zain dengan bantal sofa.
Ketampanan bayi mungil itu tidak diragukan lagi, copyan wajah Zain versi bayi.
***
__ADS_1
Tbc.