
...~ Happy reading ~...
"Aunty Ame yang cantik sejagat raya, datang......" pekikan itu merusak ketenangan dalam ruang perawatan Zia.
Ya, Ameera yang sudah menyelesaikan studi segera pulang ke tanah air saat mendengar kabar kelahiran keponakannya. Tiba di bandara gadis itu langsung menuju rumah sakit tanpa ke rumah lebih dulu.
"Stop! "Zain mengangkat tangan supaya adiknya itu berhenti. Dan benar saja, Ameera berhenti dengan mengangkat kedua tangan di atas kepala. Sesaat kemudian gadis itu tersadar dengan kebodohannya menuruti perkataan pria itu.
" Aiihhh...," sungutnya. Kembali melanjutkan langkah mengabaikan larangan sang kakak.
"Woahhh.. Comel mirip sama Aunty, " ucapnya, mengagumi paras tampan putra Zain dan Zia.
"Jangan di sentuh! sebelum cuci tangan, " Zain sigap menahan tangan Ameera yang akan menyentuh anaknya.
"Abang apa apaan, sih! tangan Ame bersih udah di lap pakai tisu, " pekiknya tidak terima dengan apa yang Zain katakan.
Zain mengangkat tubuh gadis itu dari belakang, membawanya ke dalam kamar mandi.
"Mandi dulu, ganti baju! baru boleh pegang, " kata Zain tegas. Menutup pintu kamar mandi yang sudah ada Ameera di dalamnya.
Zain mengabaikan gedoran pada pintu kamar mandi, melangkah menghampiri anak dan istrinya yang jadi penonton drama adik dan kakak itu.
Sedangkan dalam kamar mandi, Ameera memulai ritual bersih-bersihnya dengan cepat, tidak sabar ingin menyentuh bayi mungil yang mirip dengan dirinya menurut gadis itu.
"Mas jangan di jahilin terus! kasian Ame baru datang pasti capek kan? " sungut Zia yang ikut merasa kesal pada suaminya.
"Gak papa, Sayang. Mas ngak mau anak kita sakit, Ame dari bandara loh! pasti banyak virus yang menempel pada tubuhnya, " ungkap pria itu. Biarlah Zain di anggap terlalu posesif pada anaknya, pria itu hanya ingin yang terbaik.
Zia mendesah berat, kalau sudah begini Zia pun tidak dapat menyangkal lagi.
"Sekarang boleh kan? " tanya Ameera berdiri di samping box bayi. Dengan penampilan baru yang pasti sudah bersih dari yang namanya kuman dan virus.
"Tunggu Mami dulu! Abang gak berani ngambil dedek dari box takut jatuh, " ungkap Zain jujur. Memang benar apa yang Zain katakan, melihat anaknya yang kecil dan lemah itu membuat pria itu takut.
Baru saja Zia menurunkan sebelah kakinya ingin membantu Ameera, pintu lebih dulu terbuka dari luar. Mami datang dengan membawa sayur untuk Zia.
__ADS_1
Ya, karena asi ibu muda itu tidak lancar. Jadi lah mami pulang untuk memasak sayur daun katu, konon katanya sayur tersebut bisa melancarkan asi bagi ibu yang baru melahirkan.
"Panjang umur. Ayo Mi ambil dedeknya Ame mau gendong! " pintanya manja, menarik mami ke dekat box bayi. Sebelumnya sudah menyalami tangan wanita itu yang melahirkan dirinya.
"Dedeknya mirip Ame ya kan, Mi? hidung, bibirnya juga tipis seperti bibir Ame. " Kelakarnya, tanpa mengalihkan pandangan dari wajah mungil bayi yang dalam gendongannya.
Zain mendelik kesal, dia yang bapak bayi itu kenapa malah mirip Ameera yang notabene bibi dari bayi itu.
"Mirip kalau di liat dari ujung sedotan, " seloroh Zain tertawa terpingkal-pingkal. Ameera mendengus. Sebelah tangan gadis itu sudah terangkat ingin memukul Zain, tapi urung saat mendengar suara tangis begitu melengking memekakkan telinga. Seolah protes dengan apa yang aunty nya lakukan.
*
*
"Mi, udah belum? " tanya Zain, terus menggoyang badan berusaha menenangkan bayi kecil di gendongannya yang sedang menangis.
Beralih menatap Zia yang buru-buru memakai pakaian sehabis mandi.
"Uluh uluh anak Mimi, ganteng siapa sih ini? " Zia mengambil alih anaknya dari sang suami.
"Dedek curang, masa iya di gendong Pipi malah nangis. Sama Mimi anteng! " sungut Zain, wajahnya berubah cemberut.
Zia terkekeh mendengar ocehan suaminya.Tangannya menepuk-nepuk bokong bayi mungil itu hingga terlelap..
"Zia, " suara mertuanya yang memanggil terdengar seiring dengan pintu dibuka. "Eh, tidur ya? " beralih menatap sang cucu.
"Mami mau kasih tau orang salonnya udah datang, " terangnya, sesaat kemudian masuk lah dua orang perempuan yang merupakan karyawan salon yang akan membantu merias Zia.
Hari ini usia baby boy itu genap 10 hari. Sesuai yang di rencanakan aqiqah sekaligus pemberian nama akan di lakukan di hari yang sama.
"Tunggu sebentar ya, Mbak! " Zia tersenyum sopan. Kemudian beranjak meletakkan anaknya kembali ke dalam box bayi.
"Ayo Zain, Mami bantu kamu siap-siap di kamar sebelah! " ajaknya, menarik tangan Zain ke kamar sebelah.Kamar baby boy yang langsung terhubung dengan kamar utama.
"Mi, Zain puasa sampai kapan? " Zain mengeluarkan pertanyaan yang menjadi beban pikiran selama beberapa hari ini.
__ADS_1
"1 tahun! "
"Apa? " pekik Zain, membuat wanita paruh baya yang sedang mengancingkan kemejanya, menutup telinga menggunakan kedua tangan.
"Sakit telinga mami, Zain! " memukul bahu anaknya. Telinga wanita paruh baya itu terasa berdengung mendengar suara Zain yang sangat kuat.
Air muka Zain mendadak jadi mendung dengan pikiran berkecamuk.
Perkataan mami terus terngiang di telinganya. Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar, 10 hari saja tidak menyentuh Zia sudah membuatnya pusing. Apalagi satu tahun? bisa-bisa Zain mati berdiri.
"Mas, kamu kenapa sih? dari tadi wajahnya kusut terus. " Zain hanya melihat Zia sekilas tanpa bersuara. Kembali mendengarkan acara pengajian yang sedang berlangsung. Acara terus berlanjut sampai acara do'a dan sholawat pencukuran rambut bayi.
"Zachery Putra Adhitama, " terdengar suara ustadz menyelipkan nama bayi kecil Zain dan Zia di dalam do'anya.
Kemudian di lanjutkan oleh pencukuran rambut, Zain berdiri sambil menggendong anaknya di dampingi oleh Zia.
Setelah acara selesai, semua tamu undangan berangsur meninggalkan kediaman keluarga Adhitama. Tersisa anggota besar keluarga Zain yang sedang berkumpul.
"Kak arti nama Zachery itu apa? " tanya Ameera penasaran.
"Zachery itu artinya, memiliki keyakinan yang tinggi. Cerdas, berjiwa petualang. Optimis, jujur." Mulutnya melengkung membentuk sebuah senyuman. "Kita panggil dia dengan nama Zach, " imbuh Zia lagi, tanpa mengalihkan pandangan matanya dari wajah tampan baby Zac.
"Bagus banget artinya, " pujian itu silih berganti datang untuk bayi kecil itu.
Sedangkan ditempat lain masih di ruangan yang sama. Zain dan teman-teman sedang berkumpul tidak jauh dari Zia.
"Kenapa wajah lo kusut banget? udah kek baju keluar dari mesin cuci, " kelakar Juna. Semua mata kompak beralih menatap Zain.
"Kata Mami, gue harus puasa satu tahun ngak boleh nyentuh Zia. "
Tawa mereka seketika pecah saat mendengar pengakuan Zain. Semua orang mengolok-olok Zain, membuat pria itu semakin kesal.
***
To be continued.
__ADS_1