
Para laki-laki dan para pengurus desa tidak ada yang menggubris dan mendengarkan Nindya.
Dan rapat malam itu di balai desa pun di bubarkan, mereka semua kembali ke rumah masing-masing sembari
masih mencibir Nindya dan Dirga.
Setelah itu Nindya serta Dirga di arahkan untuk ke rumah yang sudah di tentukan masing-masing. Nindya membersihkan dirinya dan memakai baju milik Ibu Sarinah Ketua PKK.
"Owalah anak jaman sekarang kok ya pada tidak punya rasa malu dan iman yang kuat, gimana besok orang tua mu apa tidak pada malu!" Kata Sarinah sembari memperlihatkan mimik wajah yang menghina.
Nindya kemudian tidur di kamar yang sudah di sediakan, gadis itu memangis dan merebahkan tubuhnya, dia merasa sangat pusing.
Sedangkan Dirga sedang menunggu seseorang untuk membawakan perlengkapan mandinya agar pria itu bisa mengganti pakaiannya, dan tak berapa lama yang di tunggu pun tiba.
"Tuan Dirga... Ini perlengkapan yang anda minta." Kata Felix yang berlari dari mobilnya datang dengan tergesa-gesa.
"Kamu boleh pergi." Kata Dirga sembari mengambil perlengkapannya.
"Tuan kenapa anda menginap disini?" Tanya Felix.
Dirga hanya memandang Felix dengan tatapan dingin, pertanda bahwa Dirga tidak ingin menjawab dan Felix tidak berhak untuk bertanya.
Dirga memang tipe pria yang jarang memakai sopir dan memakai pengawalan super ketat, ia lebih leluasa bepergian sendirian lagi pula para pengawal semuanya kaki tangan dari Hartono yang setiap hari akan melaporkan segala aktifitasnya pada Hartono Jaelani.
Kemudian Dirga masuk ke dalam rumah dan membersihkan dirinya. Hingga tengah malam pria itu tidak bisa tidur, hanya suara detak jam dinding yang menemaninya.
Dirga tidak bisa mempercayai semuanya, bagaimana bisa ia menikah di usia yang masih terbilang muda dan masih ingin bersenang-senang.
Dalam keadaan seperti ini seolah semesta pun menolak mereka untuk membela diri karena waktu seolah memutar dengan sangat cepat.
Nindya sudah memakai baju pengantin warna putih ala kadarnya dari baju yang sudah di siapkan, baju yang memang sudah di siapkan sejak lama ketika peraturan di buat dan di tetapkan.
Dirga sudah memakai pakaian rapi, bagaimanapun pria itu sudah mengambil keputusannya, dan akan menyelesaikannya sampai akhir.
Dirga serta Nindya kini bertemu di balai desa, mereka duduk bersama.
"Mana wali dari pihak perempuannya." Kata seorang ulama yang akan menikahkan mereka.
"Sedang di jemput oleh Pak Jafar, Romo." Jawab Burhan sang pemangku desa.
Di balai desa pun sudah berkumpul para warga yang akan menjadi saksi dan beberapa warga juga berkumpul untuk menonton, para ibu-ibu tidak ingin ketinggalan acara itu, mereka yang memiliki anak sembari menggendong anak mereka.
Nindya benar-benar sangat malu menjadi bahan tontonan.
__ADS_1
"Kenapa mbak? Malu? Kalo lagi pas mau ngelakuin malu nggak?" Kata Sarinah dengan mulut pedasnya.
Sepanjang malam wanita itu memang selalu mencemooh Nindya.
"Sudah Bu Sarinah." Kata Pak Burhan.
"Biar mereka merasakan apa itu sanksi sosial Pak Burhan, apalagi dia itu masih remaja, harusnya bisa jaga diri sebagai wanita!" Sarinah melengoskan bibirnya.
Tak berapa lama sepasang orang tua paruh baya datang dan berteriak.
"Mana anak itu!" Teriak wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Tri Ningsih, amak Nindya.
Dengan cepat Ningsih naik ke balai desa dan menghampiri anaknya.
"PLAKKK!!!
"PLAAKKK!!!
"PLAAAKK!!!!"
Nindya mendapatkan tamparan berkali-kali, seolah emaknya sedang melampiaskan kemarahannya pada anaknya. Tidak hanya tamparan namun Nindya juga mendapatkan pukulan di kepala dan di tubuhnya.
Hingga Dirga pun harus menarik Nindya mendekat padanya seolah ingin melindungi gadis itu, sedangkan bapak Nindya juga sedang menenangkan istrinya.
Nindya yang ingin membuat orang tua nya bangga, dan Nindya yang ingin membantu menyokong ekonomi keluarga terpaksa menikah muda dengan seorang pria yang bahkan Nindya tidak pernah memikirkannya.
Apalagi ini bukan pernikahan impiannya, di nikahkan secara paksa dan menikah di bawah tangan tanpa di akui oleh negara.
"Bu... Bisa anda tenang?" Kata pak Burhan.
"Bagaimana saya bisa tenang! Jelaskan! Bagaimana saya bisa tenang! Dia anak semata wayang yang saya besarkan agar menjadi anak yang berguna sekarang justru berzina!" Teriak Tri Ningsih.
"Acara nya akan segera di mulai, jangan ada keributan." Kata Kyai Romo Zahlan dengan tegas.
Tri Ningsih hanya duduk dengan lemas di atas tikar dan menyaksikan anaknya menikah dengan laki-laki yang bahkan wanita paruh baya itu tidak mengenalnya.
Sang Kyai sudah membaca data para pemuda dan pemudi terlebih dahulu sebelum sang Kyai menikahkan mereka, dan kini tibalah Kyai membacakan doa-doa sebelum akad dimulai, pria tua dengan sorban yang melingkar di bahunya menaruh tangannya di atas meja, Dirga dengan gagah menyambut tangan keriput tersebut.
"Dirga Hartono Putra Jaelani!"
"Ya, saya!"
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Nindya Ayu Sukmawati Binti Wagiman dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai!"
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Nindya Ayu Sukmawati Binti Wagiman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" Kalimat Dirga mantap dengan satu kali tarikan nafas.
"Sah?" Kata Kyai bertanya pada para saksi.
"SAH!"
"SAH!"
"SAAHHHH" Teriak para warga yang menyaksikannya.
Nindya menitikkan air matanya, lemah dan tidak bisa berkata-kata.
"Walah anaknya Wagiman yu..." Kata seorang wanita paruh paya yang menggendong cucu nya.
"Iya, itu kan Tri Ningsih yang rumah nya di desa sebelah to... Kerjanya buruh tempat Pak RT."
Kasak kusuk bisik-bisik dan gosip mulai menyebar ke seluruh penjuru, bahkan pesan berantai dari WA dan dari status WA yang berisi foto pernikahan mereka langsung menjadi kabar paling heboh di beberapa desa, meski foto tersebut hanya dari belakang dan tampak samar serta terlihat kecil, para tetua desa tidak memperbolehkan pengambilan foto.
Setelah acara selesai, Dirga mengantar Nindya serta orang tua gadis itu pulang ke rumah. Sedangkan hal yang tidak pernah di duga dan terpikirkan sebelumnya, para warga di desa Suka Gendang sudah berkumpul di rumah Wagiman.
Orang tua Nindya turun dari mobil dan di susul Dirga dan Nindya.
"Ada apa ini Pak RT, kenapa ada banyak warga berkumpul di sini..." Tanya Wagiman.
"Usir para pezina!!! Usir para pezina!!!" Teriak seorang laki-laki paling belakang.
Teriakan itu membuat para warga tesulut dan tersetrum, kalimat provokasi yang membuat kemarahan warga semakin meradang.
"Ya.. Usiiiir!!!" Teriak para warga.
"Kami tidak mau menerima pezina di sini!!!" Teriak ibu-ibu yang lainnya lagi.
"Tenang... Tenang ibu-ibu dan bapak-bapak semuanya..." Kata Pak RT melerai.
Dirga yang melihat itu menggondok, ia berfikir betapa kolot dan primitif nya orang-orang ini. Sekarang jaman modern semua serba canggih toh mereka tidak di rugikan sama sekali.
Pria itu mencengkram dan mengepalkan tangan.
"Andai di negara ini tidak ada hukum, habis kalian semua!" Geram Dirga dalam
hatinya.
~bersambung~
__ADS_1