
Siang yang terik di luar hotel hawai, sebuah kamar mewah menjadi saksi dimana teriakan dan desahann Nindya menghiasi dan menambah indah pemandangan pantai hawai dari balik jendela kaca jendela yang lebar.
"Dino..." Sahut Nindya yang kala itu nafasnya kian cepat.
Tubuh Nindya makin menegang dan melengkung.
Dua pasang yang kini dalam keadaan polos saling menekan satu sama lain sedangkan Dino mempercepat gerakannya.
Tak berapa lama setelah permainan berjam-jam untuk kesekian kalinya, teriakan dan geraman secara bersamaan memenuhi ruangan hotel VVIP.
Dino kemudian mencium kening Nindya dengan lembut, dan merebahkan diri di samping Nindya. Memeluk erat tubuh kecil Nindya dan menyelimuti tubuh mereka berdua.
"Terimakasih sayang." Sahut Dino.
Nindya hanya mengangguk pelan sembari menutup mata dan tidur di atas dada Dino.
"Terimakasih untuk segalanya, terimakasih sudah mau percaya untuk memulai hubungan rumah tangga lagi dan itu denganku." Kata Dino.
"Aku minta maaf telah membuatmu menunggu lama, hanya saja trauma yang pernah ku jalani tidak semudah itu untuk melupakannya."
"Aku tahu, dan aku tidak akan memintamu untuk melupakan itu semua, aku akan berusaha mengobatinya dengan segala kebahagiaan yang akan ku berikan aku berjanji padamu, aku tidak akan mengecewakanmu."
"Sangat sulit bagiku dalam beberapa tahun ini untuk bilang aku bersedia menikahi denganmu, tapi melihat bagaimana kamu menunggu dan bagaimana kamu sabar dengan segala perjuanganmu untuk ku dan untuk Zidan, sedikit demi sedikit aku bisa membuka hati untuk percaya lagi." Kata Nindya.
"Aku tahu dan aku tidak pernah ingin memaksamu, kapanpun kamu siap aku akan selalu ada, dan terimakasih kamu memberikan jawaban yang selama ini aku nantikan. Aku akan membahagiakan kamu dan juga akan memberikan yang terbaik untuk Zidan." Kata Dino mencium bibir Nindya.
Ciuman yang lembut dan sangat pelan , kemudian Dino mulai menuruni leher Nindya dan berakhir di dada Nindya.
__ADS_1
"Dino..." Panggil Nindya dengan tersenyum.
"Sudah berapa kali dan kamu masih mau melakukannya?" Nindya tertawa.
"Aku sangat tergila-gila denganmu, aku menahan, aku menunggu dan sekarang tidak akan ku lewatkan meski hanya satu detik."
"Tapi tubuhku sudah sangat lengket." Kata Nindya tertawa.
"Aku punya ide." Sahut Dino.
Kemudian Dino menggendong Nindya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nindya.
"Aku akan memandikan seorang putri." Sahut Dino.
"Oh... Okey aku yakin urusan permandian akan berlangung lama." Tawa Nindya renyah mengisi ruang kamar mandi.
"Dingin atau hangat?" Tanya Dino.
"Aku berkeringat dan lengket, aku mau dingin." Kata Nindya.
Kemudian Dino memutar kran air dingin dan mengambil shower gel.
Nindya terus tertawa manakala tangan-tangan besar Dino menyabuninya.
"Dino hentikan... Itu geli." Kata Nindya sembari tertawa.
__ADS_1
"Aku akan membawamu jalan-jalan setelah ini, lalu makan malam, lalu kita mengelilingi hawai. Apa kamu mau?"
"Aku mau tapi sebelum itu aku ingin telfon Zidan, aku sangat merindukannya."
"Aku bisa menebak sekarang Zidan sedang bermain bola bersama Dirga." Kata Dino masih menyabuni Nindya.
"Hm... Zidan sangat lengket dengan Dirga dan kakeknya, bahkan dia tidak mau jika ku ajak pergi, dia lebih memilih bersama kakeknya, bukankah aku yang melahirkannya?" Kata Nindya pura-pura merasa kecewa.
"Aku ingin kita memiliki anak yang cukup banyak, agar Zidan tidak kesepian." Kata Dino.
"Berikan aku shampoo lagi, aku akan mengeramasimu lagi." Sahut Dino.
Kemudian Nindya mengambil shampoo dan di berikan pada Dino.
"Rambut mu sudah panjang."
"Aku lupa ingin memotongnya."
"Awal bertemu dulu rambutmu hanya segini..." Kata Dino mempraktekkan rambut Nindya yang hanya sebatas bahu.
"Dulu waktu sangat lambat, setelah sampai di titik sekarang, rasanya waktu berjalan dengan sangat cepat."
"Yah, dan aku pun masih tidak percaya kamu sekarang sedang mandi bersamaku." Kata Dino tersenyum.
"Tutup matamu, aku akan membilasnya."
Kemudian Nindya berdiri di bawah shower dan menyiram tubuhnya, perlahan Dino mencium Nindya.
__ADS_1
Tangan kekar Dino mulai merantai tubuh Nindya, di bawah air dingin mereka saling mencium dengan tubuh yang semakin memanas.
The end