TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Angkringan


__ADS_3

Dirga dan Felix sampai di apartmen milik Alexa. Felix mengetuk pintu dan tak berapa lama Alexa membukanya.


"Beib..." Kata Alexa lirih.


Alexa pun memeluk dirga, merangkulkan tangan panjangnya di leher Dirga dan mengecup bibir pria yang berada di hadapannya, tinggi tubuh mereka cukup sebanding, karena Alexa memang seorang model yang memiliki tubuh yang tinggi.


"Aku tidak akan lama ALexa?" Kata Dirga.


"Kalau gitu, ayo masuk dulu." Alexa mempersilahkan Dirga masuk ke dalam Apartmen dengan perasaan cemas.


Mereka pun masuk dan duduk santai di sofa dengan Felix masih berjaga di luar.


Sedangkan di tempat lainnya, Nindya pun sudah mengendarai motornya, ia menggunakan pakaian casual, meski ia tidak tahu harus kemana yang jelas kebiasaannya ketika pikirannya penat adalah menaiki motor dan hanya berputar-putar.


Setelah suasana hati nya bisa tenang, baru ia bisa pulang ke rumah. Dalam perjalanan, ia melihat Angkringan yang cukup sepi di bawah bukit dan berniat untuk minum sesuatu yang hangat.


"Wah sudah lama banget nggak minum wedang jahe." Kata Nindya yang berhenti dan memarkirkan motornya.


"Mas wedang jahe satu ya, minum sini." Sahut Nindya lagi sembari duduk dan menyomot gorengan serta sate usus dan sate keong di hadapannya kemudian meletakkanya ke dalam cawan plastik.


"Nggih mbak... Sendirian aja nih mbak malem-malem gini?" Kata Abang angkringan.


"Iya mas, rumah saya deket kok dari sini cuma tinggal naik dikit."


"Lhoh... Bukannya di bukit nggak ada rumah? Cuma ada pabrik?" Tanya abang pemilik angkringan lagi dengan terkejut sembari memegang leher nya seolah mengisyaratkan jika ia merasa merinding.


"Hahaha.... Saya bukan setan mas... Nih kaki saya nginjek tanah, lagian masak setan mau minum wedang jahe. Ada rumah baru di atas bukit, lagian kalau abang naik ke bukit yang lebih tinggi di sana cukup banyak villa."


"Ohh... Soalnya saya nggak pernah naik ke bukit yang paling tinggi paling cuma sampek pabrik aja..." Kata Abang angkringan senyam senyum sembari memberikan wedang jahe pada Nindya.


Tak berapa lama ketika Nindya menikmati sate nya, terdengar motor yang parkir di dekat angkringan, suara motor yang familiar di telinga Nindya.


Dan benar saja, ketika pria itu masuk wajah mereka saling beradu saling menunjukkan keterkejutan.


 "Nindya!"


 "Dino!"


Sahut mereka berdua saling memanggil satu sama lainnya.


"Ngapain kamu di sini." Kata Dino.


"Hehe... Lagi nyantai aja."


"Ini kan udah malem, kok sendirian, ayo ku anter pulang."


"Aku baru aja dateng kok mau di anter pulang lagian aku berani kok pulang sendiri." Nindya tersenyum canggung.


"Aduh gawat, gawat, gimana ini nanti aku pulangnya, Dino pasti bakal bersikeras ngaterin, kalau pun nunggu Dino pulang duluan nggak mungkin, dia nggak bakal pulang duluan pasti." Kata Nindya menggigit bibirnya.


"Bang susu jahe satu." Kata Dino dan kemudian duduk di samping Nindya.

__ADS_1


"Anu... Kamu kok bisa ke angkringan ini?" Nindya menggeser tubuhnya untuk memberi jarak dan terlihat sangat canggung dengan tangan mungil nya masih memegang sate usus.


Dino tertawa geli melihat reaksi Nindya.


"Aku biasa makan di sini, lagian aku juga habis dari pabrik Nin..."


"Lho... Ngapain, ini kan minggu?"


"Ada barang mentah datang dari luar negeri, dan aku harus ngecek, kalau Dirga nggak ada ya aku lah yang ngecek..." Kata Dino sembari menyeruput susu jahe nya.


"Tuan Dirga kan seharian cuma di rumah..." Kata Nindya dalam hati.


"Kapan kamu mau bayar hutang mu Nin..." Kata Dino.


"Hutang?" Nindya terkejut dan menghentikan untuk minum.


"Kamu janji bakal nemenin aku nonton, karena udah ngembaliin hape mu."


"Ooh... Yang itu..." Nindya tertawa canggung dan kaku.


"Malam minggu depan bisa?" Tanya Dino.


"Aduh... Kira-kira Tuan Dirga bakalan marah nggak ya... Eh bukannya dia juga lagi in the hoy sama yang namanya Alexa, di tanya mau kemana aja jawabnya nggak boleh mencampuri urusan masing-masing berarti aku juga boleh gitu dong..."


"Bisa... Ayo kita nonton." Kata Nindya sembari tersenyum.


Mendengar jawaban Nindya, Dino puas dan merasa senang.


Dalam perjalanan pulang di dalam mobil nya Dirga sekilas melihat plat motor yang tidak asing, karena memang plat motor itu memiliki arti bagi nya.


"Baik Tuan..."


Mobil pun berputar balik dan melihat 2 motor terparkir sejajar di depan angkringan. Dirga keluar dari mobil di susul oleh Felix. Pria itu menerobos masuk dan terlihat Nindya sedang asyik tertawa dengan Dino.


"Tuan Dirga..." Kata Nindya terkejut.


Seketika itu Dino memutar tubuh nya dan melihat Dirga sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan dingin.


"Sedang apa di sini..." Kata Dirga ketus.


"Sejak kapan kamu ikut campur dan mengurusi hidup ku..." Jawab Dino.


"Bukan Kamu... Tapi dia..." Tangkis Dirga sembari menunjuk Nindya dengan isyarat dagu nya yang sedikit di angkat.


Dengan santai Dirga memandang lekat wajah Nindya, tangannya berada pada kedua saku celana.


"Pulang..." Kata Dirga ketus.


"Punya hak apa kamu pada Nindya pulang, sampai nyuruh-nyuruh dia untuk pulang!" Dino kesal dan memicingkan mata pada kakak laki-laki nya, dengan tangannya yang mencengkram pergelangan tangan Nindya agar tidak pergi kemanapun.


"Punya hak apa?" Dirga tertawa sinis.

__ADS_1


"Dia..."


"Aku kerja di rumahnya Tuan Dirga sebagai pembantu..." Sahut Nindya dengan cepat dan cukup keras membuat sang pemilik Angkringan pun ikut terkejut.


"Apa...!!!" Sahut Dino yang tak kalah terkejut.


Dirga melenguhkan nafas sembari tertawa penuh rasa tak percaya. Bahkan seringainya seolah mengejek pernyataan Nindya.


"Kamu kerja di rumah Dirga? Sejak kapan?" Tanya Dino.


"Waktu mu 10 detik, kalau nggak keluar juga jangan salahkan kalau motornya ada di tempat pembuangan sampah." Kata Dirga menatap Nindya dengan raut wajah kesal.


"1..."


"2..."


"3..."


"Anu.. Dino maaf ya aku pulang duluan..." Kata  Nindya panik.


"8...!!!" Teriak Dirga yang saat itu sudah berada di luar dan membuka pintu mobil.


"I...Iya..." Jawab Nindya dan keluar dari angkringan diikuti oleh Dino.


"Felix bawa motornya." Kata Dirga.


Tanpa harus menunggu perintah, dengan cepat Nindya mengikuti Dirga dan masuk ke dalam mobil. Kemudian pria itu mulai menginjak gas ketika Nindya sudah selesai memasang sabuk pengamannya dan meninggalkan Angkringan. Dino hanya berdiri kaku di tempatnya melihat Nindya yang pergi satu mobil dengan Dirga.


"Ada sesuatu yang mereka sembunyikan." Kata Dino curiga.


Mobil melaju dengan cukup cepat, membuat Nindya harus berpegangan erat. Setelah sampai di rumah Dirga membuka pintu mobil dan menyeret Nindya masuk ke dalam rumah.


Dirga menarik tangan Nindya dengan kasar, membuat Nindya harus berteriak-teriak memohon pada Dirga agar melepaskannya. Pak Purbo serta Mbok Winarsih saling memandang takut.


Dirga membawa Nindya masuk ke dalam kamarnya dan melemparkan nya ke ranjang dengan kasar.


"Pergi tanpa seijinku, pacaran di luar dengan adik ipar mu sendiri! Sekarang kamu merasa hebat ada di tengah-tengah kami?!!!" Bentak Dirga.


"Bu...Bukan begitu... Saya cuma cari angin tiba-tiba Dino datang,saya juga tidak tahu kalau dia akan datang..." Nindya membela diri.


"Alasan klasik...!!!" Kata Dirga sembari mencengkram rahang Nindya.


Seketika itu juga Nindya merasa ketidakadilan.


"Bukannya anda sendiri yang bilang jika kita tidak boleh saling mengurusi dan ikut campur dengan urusan pribadi masing-masing...!" Suara Nindya samar-samar rancau karena rahangnya di cengkram.


"Kamu tidak punya hak untuk mendikte ku...!!!"


"Sampai hari ini saya menghormati anda masih sebagai atasan saya, dan anda tidak boleh sewenang-wenang terhadap saya, memangnya hanya anda yang bisa punya pasangan lagi?!"


"Apa maksudmu...!" Mata Dirga membelalak.

__ADS_1


"Saya tahu anda akan menikahi seorang wanita secara resmi dan di akui negara, dia bernama Alexa..."


~bersambung~


__ADS_2