
Nindya masuk lengkap menggunakan baju apd, di temani Dino Nindya akhirnya memutuskan untuk menengok Dirga.
Ruangan itu sangat Dingin, bau obat-obatan kimia sangat mendominasi dan menyeruak masuk ke dalam hidung hingga menuju paru-paru.
Bunyi monitor jantung pun terdengar terputus-putus, pertanda detak jantung Dirga masih ada. Lalu alat-alat selang terpasang masuk ke dalam mulut serta hidung Dirga, terdengar bunyi oksigen atau entah apapun itu yang seolah mengikuti suara tarikan nafas pasien.
"Dirga..." Sapa Nindya sembari menangis, wajahnya sudah penuh dengan air mata.
"Dirga aku mohon maafkan aku..." Nindya menangis dan menyentuh serta menggosok pelan punggung tangan Dirga, dimana jari Dirga pun di pasangi beberapa alat.
Dino membelai bahu Nindya, seolah ingin menenangkan.
"Cepatlah bangun, Zidan sudah bisa memanggil papa..." Nindya tercekat dan menangis sejadinya.
Nindya tidak tahan dan memilih keluar dari kamar pasien tersebut.
Namun Dino masih berdiri memandangi tubuh kakaknya yang tak bergeming, dimana selang membuat mulut sang kakak terus terbuka.
"Hei... Bro..." Sapa Dino.
Mata Dino kian memerah dan berair.
"Jangan terlalu lama membuat kami menunggu, aku tahu kamu kuat." Dino menghapus air matanya.
"Aku tahu kamu mendengarnya, jika kamu bangun, aku bersedia melepaskan Nindya untuk kamu." Kata Dino pada sang kakak dengan air mata yang terus menetes.
Dino berusaha menahan segala air matanya, namun ia tidak dapat membendungnya, hantaman air mata dan gejolak emosi di dalam dadanya kian bergemuruh karena merasakan kesedihan teramat dalam.
"Jangan terlalu lama tidur, kami semua ada di sini." Kata Dino menyentuh tangan kakaknya.
__ADS_1
Sebelum keluar dari kamar tersebut Dino pun menghapus air mata dan mengatur nafas serta emosinya lebih dulu.
Perlahan Dino menutup pintu, terlihat ayah dan ibunya masih saling berpelukan, Nindya duduk dengan menundukkan kepala dan menyangganya menggunakan kedua tangannya.
Dino melepaskan pakaian apd nya di bantu oleh sang suster.
"Kalian tidur dulu, biar aku yang menjaga Dirga." Kata Dino pada orang tuanya.
"Tidak Dino biar aku tetap menjaganya."Sahut Yasmine.
"Ini hampir pagi dan kalian harus tidur." Kata Dino lagi.
"Nindya kau juga harus tidur." Perintah Dino.
"Mama dan Papa tidur lah biarkan aku dan Dino yang menjaga Dirga." Kata Nindya mengangkat wajahnya.
Sekuat apapun Nindya menahan namun air matanya tetap jatuh juga.
"Maafkan Nindya mah..." Kata Nindya penuh penyesalan.
"Tidak, tidak ada yang perlu di maafkan dan tidak ada yang perlu meminta maaf." Kata Yasmine.
Kemudian Yasmine menangkupkan telapak tangannya pada wajah Nindya.
"Kamu anak baik, kamu juga menjalankan kewajibanmu sebagai istri, dan kamu juga ibu yang baik. Jangan pernah mengatakan itu lagi." Kata Yasmine mencium kening menantunya.
Hartono kemudian berdiri dan mengajak Yasmine untuk pergi ke kamar tunggu pasien tepat di sebalah kamar Dirga.
Dino duduk di dekat Nindya dan kemudian memeluk Nindya.
__ADS_1
"Kamu juga harus pulang, Zidan pasti mencarimu."
"Pengasuh akan menelfon jika Zidan mencariku." Kata Nindya menyandarkan kepalanya di bahu Dino.
Hingga pagi datang dan Nindya sempat tertidur di bahu Dino, kemudian sesuatu memekakkan telinganya.
" Ciiiitttt..... BRAKK!!"
"Dirga!" Sahut Nindya dengan tubuh yang tiba-tiba bangun dan tangannya maju ingin menggapai Dirga.
"Kamu bermimpi?" Tanya Dino.
Nindya melihat kesekeliling dan masih menghirup bau khas obat di rumah sakit.
"Aku bermimpi melihat Dirga..." Kata Nindya tanpa melanjutkan kalimatnya.
Dino memeluk Nindya kembali.
"Katakan semua ini hanya mimpi, dan kita sedang berada di alam mimpi " Kata Nindya.
Dino tidak bisa mengatakan apapun dan hanya diam membelai kepala Nindya.
Tak berapa lama Felix datang.
"Tuan Dino, anda harus melihat ini." Kata Felix menyerahkan tabletnya.
Dino meraih tablet tersebut dan melihat rekaman CCTV.
Mencermatinya dan terus me-replay dan men-stop kemudian me-replay lagi. Itu adalah gabungan beberapa rekaman CCTV di mana terdapat di jalanan yang di lalui Dirga dan akhirnya merekam saat Dirga kecelakaan.
__ADS_1
~bersambung~