
Nindya menangis dan meronta, memang benar dirinya telah menjadi istri sah Dirga secara agama. Namun bukan seperti ini yang ia mau, bukan dengan paksaan dan kekerasan. Malam pertama yang ia bahkan tidak pernah membayangkannya seblumnya selama ia melajang, mengapa akan menjadi seperti ini.
"Aku sudah katakan Nindya, jangan membayangkan kamu bisa mendapatkan kehangatan dari ku."
Dirga mencium bibir Nindya dengan kasar, menarik setiap lapisan bibir Nindya masuk ke dalam mulutnya, melumaatnya hingga berbunyi setiap sesapan Dirga, seolah ingin melampiaskan kemarahannya ketika pria itu tahu bibir mungil milik Nindya di cium oleh Dino.
Dirga yang sudah berada di atas Nindya kemudian beralih menyapu kan mulutnya dan lidahnya di telinga Nindya, ia mulai menuruni nya, menyapu dengan sedikit kasar dan menyesap disana sini. Sedangkan pria itu masih mencengkram pergelangan tangan Nindya dengan kuat.
"Sakit... Saya mohon jangan seperti ini..."
Dada Nindya berbekas, hingga membuat gadis itu kesakitan atas perlakuan kasar Dirga.
"Sekarang kamu tahu caranya memohon..." Sahut Dirga masih sibuk.
"Saya minta maaf..." Kata Nindya menangis.
Dirga masih memperlakukan Nindya dengan kasar. Namun justru Dirga sedikit banyak menikmati itu, tenggelam dalam permainannya sendiri.
"Sekarang kamu juga tau caranya meminta maaf? Jadi, kamu sudah sadar aku lebih kuat darimu, dan jangan sekali-kali mendikteku." Dirga geram dan mulai mempermainkan Nindya.
Nindya mengangguk pelan, dengan sebuah suara yang lolos dari mulutnya, suara yang aneh dan Nindya membenci itu.
Namun tiba-tiba pintu hotel di ketuk. Dirga yang kesal karena pintu di ketuk berkali-kali akhirnya memutuskan berdiri dan mengakhiri permainannya, dengan cepat Nindya membetulkan kimono handuknya, dan mengusap air mata yang telah membanjiri pipinya, dengan malas Dirga membuka pintu dan melihat Felix sudah datang membawa perlengkapan pakaian.
"Selamat sore tuan, ini perlengkapan yang anda minta." Kata Felix.
Sesaat lalu saat Nindya mandi, Dirga meminta Felix menyiapkan beberapa pakaian wanita untuk Nindya serta beberapa pakaian lagi untuknya pula.
"Tunggu di bawah." Kata Dirga tegas dan mengambil tas yang di bawa oleh Felix.
"Baik." Felix pun turun lebih dulu.
Dirga menutup pintu dan melemparkan travel bag atau tas jinjing ke atas ranjang, tanpa banyak kata pria itu bersiap memakai pakaiannya sendiri dengan setelan jas rapi lalu pergi meninggalkan Nindya yang ia tahu pasti gadis itu bersembunyi di dalam kamar mandi, Dirga pergi tanpa melihat dan tanpa berkata sepatah kata pun.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, Nindya merasa seluruh dadanya di penuhi oleh asap yang menyesakkannya, berkali-kali gadis itu menarik nafas dan membuangnya secara perlahan mengontrol dirinya agar tidak menangis, namun justru ia semakin tidak sanggup menahan air matanya yang terus saja mengalir, pada akhirnya bak bendungan yang jebol Nindya menangis terisak dengan suara yang cukup keras.
Dirga duduk di dalam mobil mewahnya untuk pulang ke rumah utama dengan Felix yang menyetir. Setelah sekitar satu jam perjalanan sampailah mereka dan melihat mobil sang ayah terparkir di garasi.
"Jangan kata kan apapun." Kata Dirga memberikan peringatannya pada Felix.
"Baik Tuan."
Dengan langkah mantap pria itu masuk ke dalam rumah besar yang mewah, dan mendapati pria paruh baya sedang duduk di sofa membaca koran.
"Pah..." Sapa Dirga masih berdiri.
Hartono Jaelani pun berdiri.
"Anak kurang ajar kamu!"
Dirga sontak terkejut melihat sikap papa nya yang tiba-tiba di penuhi amarah.
"Pah, tunggu dulu biar aku jelaskan." Kata Dirga yang sontak melihat ke arah Felix dengan tatapan nanar dan tak percaya. Felix sudah ia anggap sebagai kaki tangannya sendiri.
"Mau jelaskan bagaimana! Kamu sudah menganggap papahmu ini bodoh!"
"Bukan begitu pah, tapi kejadian ini sangat cepat dan aku tidak..."
"Bawa dia kemari dan segera lakukan pernikahan secara resmi!" Kata Hartono Jaelani.
"Apa!!!" Dirga benar-benar terkejut.
"Kenapa kamu terkejut! Papa merestui hubungan kalian, Papa memintamu menikahi Alexa, kenapa kamu sembunyikan hubungan kalian, Alexa wanita yang cantik dan baik, kami bertemu di Singapore." Kata Hartono Jaelani meraih punggung anaknya dan mengajaknya duduk.
"Kamu benar-benar pintar memilih istri, keluarga Alexa sangat dekat dengan kita, dan sebentar lagi 2 group perusahaan besar akan saling bergabung. Papa bangga padamu."
Dirga tersenyum canggung.
__ADS_1
"Cepat resmikan pernikahan kalian dalam seminggu ini, sebelum papah kembali ke Singapore." Kata Hartono Jaelani menepuk bahu anaknya dan pergi.
Dirga memijat kepalanya, ternyata pulang kerumah justru membawanya pada masalah baru.
"Tuan, permintaan anda sudah terkonfirmasi, rumah anda sudah siap." Kata Felix kemudian.
"Besok saja, biar kan dia tetap di hotel, kamu ikut dengan ku."
Akhirnya malam itu Dirga ada di rumah utama dan menceritakan semuanya pada Felix,sedangkan Nindya berada di hotel sendirian. Nindya tidur di temani sepi nya kamar hotel, gadis itu tidak bisa memejamkan matanya, pikirannya terus menerawang bagaimana keadaan amak dan apaknya.
Nindya memakai dress tidur cukup minim, pakaian-pakain yang ada di tas bukan gaya Nindya, terlalu seksi dan mempertontonkan paha serta dada nya.
"Apa boleh buat, daripada telanjang lagi pula ini di dalam kamar hotel, tidak akan ada yang melihat, apa lagi pria kasar itu juga paling tidak akan pulang dan tidak akan tidur di sini." Nindya kemudian kembali membaringkan tubuhnya, ia terlelap cukup cepat karena lelah dengan semua kejadian yang beruntun menimpanya.
Namun tak di sangka dan tak di nyana, pukul 02.00 dini hari terdengar suara pintu hotel di buka, dan itu adalah Dirga. Pria itu melihat tubuh Nindya yang tidak memakai selimut, paha putih mulus yang jenjang, dada yang putih menyembul mulus, apalagi bibir Nindya yang ranum, leher putih jenjang milik Nindya yang penuh bekas merah membuat Dirga juga seolah ingin menciumnya kembali.
Seketika gairah pria itu memuncak, dengan kasar menelan ludahnya sendiri, dan tertawa.
"Aku tertarik dengan gadis desa itu? Otak ku sedang salah! Alexa jauh lebih cantik dan seksi aku bahkan tidak tertarik!" Dirga menertawai dirinya.
Pria itu kemudian mengganti pakaian casual dan tidur di samping Nindya. Namun gairahnya semakin naik dan tubuhnya makin panas. Berulang kali Dirga membalik tubuhnya ke kiri dan ke kanan, bahkan menyelimuti Nindya hingga kepala gadis itu tenggelam dalam selimut. Tetap saja pikiran, otak serta tubuhnya resah tidak bisa ia kendalikan.
Dirga mencengkram rambut kepalanya, pria itu beranjak turun dari ranjang dan memilih tidur di sofa ruangan lain. Tidur dengan sangat tidak nyaman, dan hingga akhirnya pagi datang, sinar matahari mulai meninggi memperlihatkan betapa megah serta gagahnya sang surya di ufuk timur, membuat Nindya menggeliat manja betapa nikmat nya ia tidur. Terlihat Dirga juga masih tidur di sofa.
"Oh, dia tidur di hotel, kapan baliknya, aku mandi dulu saja, sebelum singa itu bangun." Kata Nindya lirih.
Gadis itu beranjak turun dan memasuki kamar mandi, membuka seluruh pakaiannya dan melihat dirinya dalam pantulan cermin. Banyak bekas merah yang sudah membiru di tubuh Nindya.
Nindya menitikkan air matanya lagi, melihat dirinya di dalam pantulan cermin dan mengingat bagaimana perlakuan Dirga padanya kemarin ketika pria itu di liputi rasa amarah karena dirinya menantang semua perkataan Dirga.
“Aku tidak percaya hidupku seperti ini. Aku tahu ini semua hanya mimpi dan saat ku buka mataku, semua akan kembali seperti sedia kala.”
~bersambung~
__ADS_1