
Saat itu para pengawal Dirga menemukan mereka. Tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan memukul kepala para pengawal satu per satu menggunakan sebuah tongkat.
Felix mengeluarkan pistolnya dan mendorong mereka semua masuk ke dalam ruangan, di bantu oleh Dino Kemudian Felix mengunci mereka di dalam ruangan.
"Kita kembali ke atas dan lari melalui lift cleaning service..." Kata Felix.
Dino kemudian hendak menggendong Nindya namun Nindya menolak dan memilih untuk berjalan sendiri.
Setelah mereka sampai di basement tempat parkir VIP milik Dino, terlihat para pengawal sudah merusak mobil-mobil milik Dino.
Felix maju dan mereka berkelahi, Dino juga membantu sedangkan Nindya berlari masuk ke dalam ruangan mengambil sapu yang memiliki tongkat panjang.
Nindya memukul dan mencoba membantu. Namun kekuatannya tidak cukup dan pengawal itu memukul balik Nindya. Sebuah tamparan melesat keras di pipi Nindya membuatnya terjatuh dan bibirnya kembali mengeluarkan darah. Pipi yang masih lebam kembali di pukul.
Dino melihat itu dan berlari, dengan cepat menendang punggung sang pengawal, hingga pengawal itu terjerembab. Dino memukul membabi buta membuat wajah sang pengawal sudah penuh dengan darah, kemudian Dino juga menendangi tubuh pengawal tersebut.
Felix tidak berani mengeluarkan senapannya untuk menembak, mereka ada di negara yang memiliki hukum, apalagi Felix sudah lama mengenal para pengawal itu.
Setelah perkelahian itu selesai, Dino melihat tidak ada mobil yang bisa di gunakan, kemudian ia membuka garasi yang tersembunyi, menekan beberapa pin dan garasi itu terbuka, di dalamnya ada ruangan mewah yang berisi motor-motor dan banyak onderdil mahal.
Dino mengeluarkan salah satu motor CBR nya dari garasi mewahnya, kemudian memberikan kode helm pada Nindya agar naik, Nindya memakai helm nya dan perlahan menaiki motor, Dino memegang tangan Nindya agat tidak terjatuh.
"Kalian pergi dulu biar saya yang urus."
"Felix ini bukan saatnya menjadi pahlawan, Dirga bukan orang yang mudah, pakai motor ku yang lain." Kata Dino melemparkan kunci pada Felix.
"Kalian pergi dulu, aku akan menahan yang lainnya." Kata Felix masih pada pendiriannya.
Terlihat Dirga sudah datang dengan para pengawal yang lainnya.
"Pergilah jaga Nindya..." Kata Felix.
Pria itu menelan ludah nya dengan kasar dan memandangi wajah polos Nindya yang sudah begitu banyak lebam. Ini adalah pertama kalinya ia memiliki rasa iba pada seorang wanita, pertama kalinya ia merasa sangat ingin melindungi wanita.
"Pergilah!!!" Teriak Felix.
Kemudian Dino memutar gasnya, sedang Nindya memegang erat tubuh Dino. Pria itu pergi melesat.
Dirga serta para pengawal masih berlari dari arah yang jauh, ingin mengejar namun sudah terlambat. Kini hanya tawa yang mengembang di wajah Dirga, ia melihat pemandangan tersebut, bagaimana Felix mengkhianatinya dan lebih memilih memihak pada Dino.
__ADS_1
Pria itu mendekati Felix dengan santai, namun wajahnya terlihat marah sesekali juga menyeringai tak kuasa menahan amarah.
"PLAKK!!!"
Tamparan panas penuh tenaga di bumbui rasa amarah di rasakan pipi Felix.
"BUGH!!"
Kini tendangan kaki kanan Dirga pun meluncur ringan di perut Felix, membuat pria itu jatuh di lantai.
"Pukul dia sampai semua tulangnya patah." Perintah Dirga pada para pengawal dan meninggalkan Felix masih di basemant VIP milik Dino.
Sedangkan di sisi lain, Dino membalapkan motornya, melesat menuju tempat yang masih belum terpikirkan olehnya, dan saat perjalanan sudah jauh dari apartmen, ia terpikirkan satu tempat yang paling aman.
Motor melesat dengan cepat, Nindya memegangi perut Dino sangat kencang, menempelkan tubuhnya di punggung Dino, merasakan angin menerpa tubuhnya.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di sebuah gerbang besar yang mewah. Gerbang besar itu menutup dengan gagah sempurna dan tak berapa lama gerbang pun terbuka.
Dino melajukan motornya masuk, melewati jalan beraspal yang sekelilingnya di tumbuhi rumput hias yang segar, dan setiap beberapa meternya pepohonan berbaris dengan rapi dan rindang.
Terdapat air mancur dan beberapa binatang kelinci sedang berlarian. Lalu burung-burung merpati juga berterbangan. Nindya melihat itu dan cukup membuatnya terpesona dengan pemandangan yang seolah sedang berada di alam bebas.
"Dino, ini rumah siapa... " Kata Nindya.
"Seharusnya rumah kita. Ayo masuk." Ajak Dino.
Mereka masuk dan kini Nindya semakin di buat terpana, wajahnya tidak dapat di sembunyikan dari terpukaunya melihat megahnya rumah itu dan segala isinya.
Rumah yang memiliki pajangan guci-guci besar yang mahal, lalu tangga yang lebar dan seolah berlapis emas membuat tubuhnya merinding.
"Ayo kita aman di sini..." Ajak Dino.
"Tapi kenapa sepi..." Kata Nindya.
Rumah mewah dan megah itu hanya di huni oleh beberapa penjaga serta tak terlalu banyak pelayan, para penjaga ada di taman dan gerbang. Lalu para pelayan juga sedang sibuk membersih kan setiap ruangan, mereka semua menunduk dan memberikan salam.
"Aku akan menambah penjaga dan pelayan, agar tidak terlalu sepi, mungkin karena rumah ini besar." Kata Dino.
Nindya masih mendongakkan kepalanya terhenyak kagum, melihat kubah besar yang ada di rumah tersebut.
__ADS_1
"Ayo ku tunjukkan kamarmu." Ajak Dino lagi.
Nindya hanya pasrah mengikuti Dino, berjalan menaiki tangga satu demi satu, pijakan demi pijakan dengan Nindya masih mengamati sekeliling, memutar kepala dan mendongak.
Sampai di lantai dua, mereka berjalan di lorong yang cukup panjang, kemudian di ujung lorong itu terdapat sebuah pintu berwarna putih yang sepadan dengan warna cat di lorong yang mereka lewati.
"ini kamar mu Nindya..." Dino membuka kamar tersebut.
"Besar sekali..." Kata Nindya.
"Sini biar ku obati dulu luka mu." Dino menarik pergelangan tangan Nindya untuk duduk.
Pria itu kemudian mengambil kotak P3K dan mengoleskan obat luka di ujung bibir Nindya.
"Obatmu masih tertinggal di Apartmen biar nanti Mbok Winarsih di jemput pengawal dan membawanya. Maafkan aku Nindya, aku tidak berfikir Dirga akan berani datang ke apartmen?" Kata Dino.
"Rasa sakitnya menghilang ketika keinginanku lepas dari Dirga lebih besar, tapi aku tidak tahu kalau ternyata pernikahan kami sah di mata hukum dan negara." Kata Nindya menunduk.
"Apa kamu menyesal?" Tanya Dino meletakkan obat-obatan itu ke dalam kotak.
Nindya dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku sangat ingin lepas darinya, aku tidak tahu jika tidak ada kamu Dino, bagaimana lagi aku harus melepaskan diri dari Dirga, terimakasih Dino... Kamu selalu membantuku." Kata Nindya menitikkan air mata.
"Sudah jangan menangis lagi, kamu istirahatlah dulu..." Dino membelai lembut rambut Nindya.
"Aku tinggal dulu Nindya, aku harus telfon Farel untuk memeriksa kondisimu." Kata Dino lagi.
Dino kemudian berdiri dan pergi, sedangkan Nindya berbaring di atas ranjang yang besar dan memiliki tekstur empuk.
Melepaskan kepenatan dan lelah serta perasaan cemasnya setelah melarikan diri dari Dirga.
Sedang Dino kini berada di ruangan lain, menelfon beberapa orang kepercayaannya.
"Noel bagaimana kabar Felix?" Tanya Dino.
"Sudah di bawa ke rumah sakit, hanya saja... Saat kami temukan, ada beberapa luka serius di tubuhnya."
~bersambung~
__ADS_1