TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Permintaan Nindya


__ADS_3

Saat karyawan bergosip, Dino yang baru saja keluar dari kantor Dirga dan melewati divisi QC barang mentah pun mendengarnya.


Seketika itu Dino merasa dunia dan istana impian yang ingin ia bangun untuk Nindya runtuh. Entah mengapa meski bukan 100% yang para karyawan itu bicarakan adalah Nindya dan Dirga tapi feelling dan otaknya mengatakan demikian.


Terlepas gosip itu benar atau tidak pun faktanya sekarang Nindya ada di rumah Dirga. Dino bahkan takut untuk memikirkan pikiran yang ia miliki sekarang tentang mereka adalah kebenaran. Pria itu kemudian mengeluarkan hape nya dan berulang-ulang menghubungi Nindya. Namun tidak ada jawaban.


"Tenang Dino... Kamu harus tenang dan harus berfikir jernih." Kata Dino pada dirinya sendiri.


Jam kerja telah usai pukul 4 sore, Dirga bersiap pulang setelah mengemasi barang-barangnya dan menenteng laptopnya. Pria itu menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Dino sudah bersiap di atas motornya, pria itu sudah tidak nyaman bekerja dari beberapa jam yang lalu, dan ia diam-diam akan mengikuti kemana Dirga pergi.


"Akan ku bunuh kamu jika berita itu benar Dirga" Geram Dino.


Dirga melajukan mobilnya di susul oleh Dino di belakangnya, tidak butuh waktu lama jarak Pabrik dengan rumah baru milik Dirga yang terletak di atas bukit yang lebih naik.


Pagar besar yang terbuat dari kayu dengan arsitektur modern pun terbuka, terlihat Pak Purbo yang telah sigap membukanya.


Tidak ada kata dan tindakan dari Dino, pria itu hanya diam menunggu di jalan yang cukup jauh, namun instingnya masih terus mengamati dan mengawasi duduk di atas motornya. Setelah cukup lama dan tidak ada tanda-tanda Nindya keluar rumah, Dino memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Di dalam rumah, seperti biasa Nindya tetap menjalankan tugas nya sebagai istri, melayani Dirga ketika sepulang bekerja. Hari ini Nindya harus ijin tidak bisa bekerja dan sudah memberitahu pada Supervisornya.


"Besok tidak usah kerja lagi..." Kata Dirga.


Nindya menengadah memandang Dirga.


"Mulai besok kamu di rumah..." Sahut Dirga lagi.


"Tapi..." Nindya hendak menjawab pernyataan Dirga namun dengan cepat Dirga menyambar.


"Tidak ada tapi... Masih kurang hukuman semalam?" Kata Dirga menatap Nindya santai namun justru menusuk, menandakan tidak ada boleh penolakan.


Nindya ambruk terduduk di atas sofa ruang ganti dengan memegang pakaian kemeja milik Dirga. Rasa sakit dan remuk tubuhnya hilang seketika mendengar pernyataan Dirga.


"Dia tidak tahu alasan kenapa aku kerja keras siang dan malam selama ini, dan sekarang seenaknya nyuruh-nyuruh aku untuk berhenti kerja."


Nindya berjalan menuju kamarnya sendiri dan membuka hape nya, melihat rekening tabungan melalui mobile m-banking.

__ADS_1


"Tabungan terakhirku, tapi lumayan untuk emak dan bapak. Gimana kabar mereka sekarang ya... Mereka makan pakai apa, hutang-hutang mereka gimana..." Kata Nindya menghapus air mata nya yang jatuh.


"Maakk... Pakk... Maafkan Nindya... Seandainya waktu bisa di putar ulang..." Nindya menutup matanya dengan kedua telapak tangan, gadis itu menangis terisak-isak membuat bahunya berguncang.


Makan malam berjalan dengan lancar dan tenang, Dirga sudah selesai dan akan kembali ke ruang kerjanya, namun Nindya segera mengikutinya, mengekor bagai tupai yang menggemaskan.


"Kenapa?" Kata Dirga sembari duduk di kursinya.


Nindya berdiri dengan kaki rapat dan menggenggam tangannya sendiri.


"Saya mau minta ijin tuan untuk keluar sebentar, kangen sama orang tua saya..." Kata Nindya penuh harap.


"Bukannya mereka sudah tidak maumelihat wajahmu lagi." Jawab Dirga ketus sembari membuka laptopnya.


Baru Nindya akan menjawab dan sedang menarik nafasnya.


"Aku mau kopi..." Sahut Dirga lagi yang masih fokus dengan laptopnya.


Belum menjawab pertanyaan Dirga, Nindya sudah pergi dengan tergopoh untuk membuatkan Dirga kopi, tak berapa lama ia pun kembali dengan membawa secangkir kopi menggunakan nampan kecil, dan menyuguhkannya pada Dirga.


Nindya masih berdiri di samping Dirga seperti patung sembari memeluk nampan kecilnya, pria itu menyeruput kopinya dan melirik ke arah Nindya.


"Saya ingin ketemu emak sama apak, saya kangen sama mereka..." Sahut Nindya lagi memelas.


Dirga menghela nafasnya kasar.


"Kamu tidak dengar tadi aku bilang apa sama kamu!"


"Tapi tuan, saya janji cuma sebentar, saya mohon tuan... Saya mohon..." Kata Nindya membujuk, sembari memegang lengan Dirga.


"Aku selalu bilang kan, aku paling tidak suka dengan wanita yang merengek, manja, dan minta ini itu!" Dirga menarik tangannya kasar menjauhkan dari Nindya.


"Saya mohon tuan, sekali ini saja..." Kata Nindya yang kemudian menunjukkan telunjuknya, dengan sopan.


Tak ada respon dari Dirga, ia pun berlutut di lantai, tepat di bawah dimana Dirga duduk di atas kursi.


"Saya mohon... Saya moohoo..oonn..nn..." Nindya menangis terisak dan melipat tangannya.

__ADS_1


Dirga hanya melirik dengan sinis


"Bangun! Besok Felix yang mengantarmu." Kata Dirga.


Nindya mengangkat wajah dan menghapus air matanya yang membasahi pipi.


"Terimakasih Tuan Dirga... Terimakasih..."


"Hmm... Sana pergi... Aku sedang sibuk."


Nindya kemudian berdiri dan pergi, sedangkan Dirga melihat bagaimana Nindya takhluk dengan semua titahnya.


"Lucu mungkin jika tadi ku rekam, saat Nindya menyembah dan bersujud lalu ku kirim pada Dino..." Ejek Dirga dengan senyuman menyeringai dingin sembari masih sibuk dengan laptopnya.


Malam kian larut dan dingin, hujan juga turun dengan deras. Nindya sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berwarna putih.


Malam itu Nindya menyiapkan apa saja yang akan ia bawa ke tempat emak dan bapaknya. Sesaat yang lalu Nindya meminjam sejumlah uang pada Mbok Winarsih sesuai dengan nominal yang ada di rekeningnya, dan uang yang ada di rekeningnya ia kirimkan pada Mbok Winarsih.


Nindya tahu, dan berjaga-jaga jika ia tidak bisa berhenti di atm mengingat Felix adalah kaki tangan Dirga yang setia.


"Mana amplopnya tadi..." Nindya mencari-cari amplop yang ia minta juga dari Mbok Winarsih.


"Aah... Ketemu..." Nindya kemudian memasukkan sejumlah uang dan secarik kertas ke dalam amplop tersebut.


Nindya menarik nafasnya sedalam mungkin dan membuangnya, kemudian air mata mengalir deras, mulutnya bergetar karena menahan tangis dengan cepat ia menghapus dengan lengan bajunya yang pendek, takut sewaktu-waktu Dirga masuk ke dalam kamarnya.


Tanpa sadar Nindya merasa matanya pun terasa berat, ia tertidur di atas mejanya. Sembari tangannya menjadi bantal untuk kepalanya, mata gadis itu terlihat sangat sembab. Raut wajahnya terlukis dengan jelas adanya guratan lelah dan penat, senyuman ceria tanpa beban milik Nindya memang telah hilang semenjak masih Taman Kanak-Kanak namun semakin ia beranjak dewasa beban berat yang Nindya pikul semakin saja menenggelamkan senyuman itu.


Nindya yang sedari kecil sudah merasakan pahit dan getirnya kehidupan semenjak orang tuanya terlilit hutang piutang, dan semenjak kecil telah mendapatkan perlakuan tidak baik dari amaknya yang selalu ingin Nindya menjadi saksi saat kedua orang tuanya bertengkar hebat.


Tapi semua itu masih bisa Nindya lalui, dan sekarang bebannya semakin bertambah.


Tak berapa lama, pintu kamar Nindya terbuka dan itu adalah Dirga. Pria itu berdiri dan memandangi Nindya yang tertidur di atas meja dengan memegang sebuah amplop.


 


 

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2