
Nindya menaiki mobil yang sudah siap mengantarnya menuju ke bandara dengan tujuan sebuah kota yang jauh dari segala masalah-masalah hidup yang terus menghantamnya.
Pada akhirnya Mbok Winarsih tidak dapat merubah pendirian Nindya, dan hanya bisa memberikan uang untuk Nindya mencari tempat tinggal.
Awalnya Nindya menolaknya, namun Mbok Winarsih memberikan pilihan. Menerima uang itu atau Mbok Winarsih akan nekat ikut. Dan Nindya memilih menerima uang pemberian Mbok Winarsih.
"Bawa uang ini Non..." Kata Mbok Winarsih menyerahkan amplop yang cukup tebal.
"Mbok jangan, ini untuk biaya anak Mbok Winarsih sekolah."
"Bawa Non... Atau saya akan memaksa ikut!" Kata Mbok Winarsih sembari menangis.
Nindya pun menerimanya dan memeluk Mbok Winarsih.
"Terimakasih banyak Mbok, sudah merawat dan menjaga saya." Kata Nindya menangis dalam pelukan Mbok Winarsih.
Dengan berbekal pengalamannya merasakan pahit getir kehidupan, kini Nindya seolah merasakan mati rasa tentang apa itu kerasnya hujaman kehidupan, ia tidak takut dengan apa yang akan dihadapinya.
Nindya yang memilih untuk tetap pergi, berharap orang-orang yang terus menyakitinya tidak dapat menemukannya, ia memilih mengasingkan dirinya, karena pada akhirnya setiap orang memerlukan ketenangan, dan salah satunya adalah Nindya.
Luka hatinya masih sangatlah perih, kekecewaannya hingga menyesakkan dada, bagaimana orang tuanya pun terseret dan menjadi korban kebiadaban Dirga.
Tangis dan air mata yang terbuang di sepanjang kisah hidupnya menjadi saksi begitu rapuh hati serta jiwanya, namun ia tetap tegar menerima takdirnya. Hingga akhirnya ia memiliki mental yang kuat, dan menantikan terpaan apa lagi yang akan ia hadapi.
Dengan pergi dari mereka semua yang menyakitinya, dan menghilang mencari ketenangan batin untuk dirinya adalah jalan satu-satunya agar kewarasannya tetap terjaga. Nindya juga ingin menyembuhkan segala luka batin serta fisik nya, dimana ada nyawa yang juga harus ia jaga.
Setelah menempuh menggunakan pesawat Nindya pun menaiki mobil online yang sudah ia pesan melalui ponselnya.
__ADS_1
Sebuah kota yang mungkin bisa di katakan lebih maju dari kotanya, sebuah kota yang lebih ramai daripada kota asalnya, kota yang terdapat gedung-gedung pencakar langit yang begitu banyak dan membuat nya di juluki kota metropolitan, dimana norma-norma adat istiadat telah tergerus dan memiliki kehidupan yang cukup bebas.
Ya, jika Nindya mengasingkan diri di sebuah desa, warga pasti akan menaruh curiga ketika perutnya membesar tanpa ada seorang pria atau suami yang menemaninya.
Mobil yang mengantar Nindya pun berhenti tepat di depan rumah kontrakan yang sangat kecil, rumah itu memiliki 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi serta ruang tamu yang menjadi 1 dengan dapur.
"Terimakasih pak, ambil saja kembaliannya." Kata Nindya saat sopir menurunkan koper milik Nindya.
Seorang wanita paruh baya pun menyapa Nindya.
"Ini yang mau kontrak ya?" Tanya wanita paruh baya tersebut dengan riasan yang cukup tebal dan lipstik merah menyala.
"Iya saya Nindya yang mau mengontrak."
"Saya yang punya rumah, panggil saja saya Tante Susi. Rumah sudah saya bersihkan, di dalam sudah komplit ada kasur, ada alat masak, ada kursinya, tinggal masuk saja." Kata Tante Susi tersenyum ramah.
"Terimakasih Tante Susi." Kata Nindya juga tersenyum dan menyeret kopernya masuk ke dalam teras.
"Mbok Winarsih baik dan sehat." Nindya hanya menjawab singkat, ia cukup lelah, apalagi kehamilannya semakin membuatnya sering mudah kelelahan.
"Ya sudah, istirahat saja dulu. Oh ya.. Di sini bebas. Tenang saja." Kata Tante Susi berbisik sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan. Wanita paruh baya itu tahu bahwa Nindya sedang hamil.
Tante Susi dulunya juga seorang pembantu sama seperti Mbok Winarsih, dan mereka pun berteman ketika sempat menjadi TKW.
Namun, Tante Susi jauh lebih ulet dan lebih berani sehingga kini hidupnya jauh lebih mapan serta memikili banyak kontrakan.
Nindya masuk dan merebahkan dirinya di atas kasur yang tidak terlalu besar namun cukup muat untuk dirinya.
__ADS_1
"Aku tahu ini keputusan yang sangat salah, namun ini jauh lebih baik dari pada di siksa dan di aniaya oleh Dirga dan mama nya." Kata Nindya lirih.
"Dino tidak ada di sana, dan pasti dengan mudah Dirga bisa menyeretku kembali."
Nindya tidak akan menangis apalagi jika ia mengingat Dirga. Air matanya bukan untuk Dirga.
Kini Nindya sedang berjuang dan berproses menyembuhkan lukanya yang masih menganga yang mungkin itu akan sulit. Nindya tidak bisa serta merta melupakan peristiwa-peristiwa itu, bahkan hingga pusara kedua orang tua Nindya mengering pun belum tentu bisa di pastikan dendam dan lukanya akan sembuh.
Proses yang di lalui Nindya ke depannya pun tidak akan mudah, ia hidup sebatang kara dalam keadaan mengandung, ia juga pasti akan tertatih. Namun Nindya tidak akan menyesali keputusannya, ia akan lebih tenang jika jauh dari Dirga yang ia anggap pria itu adalah phsychopath.
Nindya bangkit dari ranjangnya dan meraih tasnya, kemudian mengambil sebuah box kecil, itu adalah snack yang ia dapatkan di dalam pesawat, berisi 3 buah roti berbeda.
Beruntungnya adalah, Nindya kini memiliki uang yang cukup untuk beberapa tahun ke depan. Uang itu di dapat dari rumah kedua orangtua nya di desa.
Seseorang membelinya karena rumah itu hendak roboh dan akan menimpa rumah yang lain. Nindya tidak memiliki pilihan lain, dan ia pun mengiyakannya, apalagi Nindya juga harus realistis, tidak mungkin ia menempati rumah tersebut dimana warganya sudah tidak menerimannya.
Entah dari siapa pembeli itu tahu nomor ponselnya, yang jelas semua urusan sudah beres tanpa Nindya harus datang ke sana dan uang sudah ada di rekening Nindya.
Namun, Nindya tetap belum ingin menggunakan uang itu jika belum benar-benar terdesak. Sekarang yang ia lakukan adalah mencari pekerjaan. Apa saja.
Untuk sementara waktu Nindya memilih sebagai buruh cuci, atau buruh setrika, apa saja yang bisa ia kerjakan, karena Nindya belum benar-benar mengenal daerah itu dan hanya Tante Susi lah yang ia kenal.
Akhirnya melalui Tante Susi Nindya mendapatkan beberapa pelanggan.
Beberapa hari terlewati dengan baik, Nindya cukup nyaman dan cukup damai hidup sendiri, ia bukanlah wanita manja. Nindya sudah terbiasa bekerja kasar, tidak sulit baginya menjalani kehidupannya sekarang.
Hanya saja, kadang sepi dan kenangan tentang orang tuanyalah yang membuatnya harus duduk sebentar, meredakan emosi tangisnya.
__ADS_1
Kadang kala Nindya mencuci baju sembari menangis, atau menyetrika baju sembari menangis, makan sendiri sembari menangis, bukan karena ia harus bekerja kasar atau bekerja keras. Namun ia teringat kedua orang tuanya.
~bersambung~