TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Alexa Lagi


__ADS_3

Apartemen mewah yang terletak di pertengahan kota, dengan ruangan bernomor 215 menjadi saksi bisu bagaimana Alexa menikmati malam panas nya bersama Ferdi.


Suara teriakan menggema di seluruh ruangan seolah Alexa sedang melepaskan semua gelora nya, melepaskan seluruh hasratnya.


Dan pada pergulatan terakhir dimana mereka saling berguling dan berganti posisi Ferdi melenguhkan suara keras pertanda pelepasannya telah selesai dengan sempurna. Pria itu berbaring di samping Alexa dengan telentang.


"Di banding Dirga, siapa yang lebih bisa memuaskan kamu." Kata Ferdi terengah dengan dada yang naik dan turun.


"Aku belum pernah tidur dengan Dirga." Jawab Alexa berbalik membelakangi Ferdi.


"Hah!" Ferdi jelas saja terkejut.


"Aku memang pacaran dengannya, tapi dia tidak pernah menyentuhku sama sekali, lagi pula aku mendekatinya hanya karena uang dan perusahaannya."


"Laki-laki seperti apa dia yang bisa tahan di dekat wanita seperti kamu." Ferdi menyeringaikan mulutnya.


"Jangan-jangan dia impoten." Ferdi tertawa geli.


Sedangkan Alexa memilih untuk tidur setelah pertarungan panjangnya bersama Ferdi, wanita itu lelah. Namun pada akhirnya sepanjang malam hingga pagi Ferdi terus saja bermain dengan Alexa, dua sejoli itu layaknya manusia yang dipenuhi dengan gairah meluap-luap tanpa henti.


Beberapa hari berlaludi Villa tepatnya ruang kerja Dirga...


Felix datang mengetuk pintu dan masuk setelah Dirga mempersilahkannya, saat itu Nindya sedang menyuguhkan kopi untuk Dirga. Nindya mulai menjalani perannya tanpa banyak mengeluh, sebagai istri siri ia tetap melayani semua kebutuhan Dirga dengan baik


Sedangkan Dirga pun juga di buat terkesan bagaimana Nindya dengan cekatan menata rumah serta memasak atau melayani kebutuhannya ketika di rumah atau akan bekerja.


Nindya cukup faham dengan kedatangan Felix yang masuk ke dalam ruangan dan membawa amplop berwarna cokelat, ia kemudian pergi dengan membawa nampannya namun telinga nya tak sengaja mendengar pembicaraan mereka ketika Nindya hendak menutup pintu.


"Alexa ada di Apartemen..." Kata Felix


Pria kepercayaan Dirga itu menyerahkan amplop yang berisi beberapa foto, dan membuat rahang serta pelipis Dirga menegang. Terdengar pula gigi nya mengerat pertanda bahwa ia sedang marah.


"Sudah kamu urus surat-surat nya?" Tanya Dirga masih dengan melihat satu persatu foto-foto itu.


"Sudah tuan, dan masih dalam proses di pencatatan sipil. Sebentar lagi buku nikah nya akan segera keluar." Kata Felix lagi.


"Ini akan menjadi hadiah paling istimewa untuk Alexa, dia terus-terusan menelfon, buat janji dengannya."


Dirga tersenyum puas namun tidak untuk Nindya, diam-diam ia sesak karena menahan untuk tidak menangis, akhirnya ia memilih pergi meninggalkan tempatnya berdiri di balik pintu ruang kerja milik Dirga.


Di dalam kamarnya, Nindya ambruk dengan tubuh lemah di atas ranjang. Menggigit selimut agar tidak mengeluarkan suara.


"Aku menangisi apa, dan menangisi siapa? Bodoh!"

__ADS_1


Karena merasa penat, Nindya memilih untuk mandi dan berendam. Setelah selesai Nindya berpakaian dengan gaun piyama yang bertali, kemudian ia lilit kan di pinggangnya.


Karena ini hari minggu, Nindya bingung harus kemana apalagi ia tidak memiliki motor, pada akhirnya mau tidak mau ia memilih untuk tetap diam di dalam rumah, dan kini, kakinya menuruni tangga setelah cukup lama melakukan ritual berendam menenangkan diri, Nindya melihat Mbok Winarsih sedang membersihkan meja makan.


"Tuan Dirga dimana mbok..."


"Seperti nya ada di taman belakang Non..."


Nindya penasaran apa yang sedang Dirga lakukan, dengan mengendap-endap gadis itu berjalan dan akan mengintip.


Terlihat Dirga sedang duduk, tangan yang cukup kekar mengetik dengan menggunakan laptop sepersekian detik Nindya sempat merasa kagum bagaimana tubuh proporsionalnya yang tegap punggungnya yang bagus saat di lihat dari belakang, membuat jantungnya berdegup, tanpa peringatan otaknya kembali memutar rekaman ingatannya, bagaimana tubuh itu dan wajah tampan itu menjamaah dan memilikitubuhnya sepenuhnya. Ingatan dan memori malam itu yang penuh dengan romansa panas dan desahann kenikmatan.


"Nindya... Kamu gila ya, gara-gara dia sampai hari ini selanggkanganmu masih merasakan perih." Katanya sembari menggelengkan kepala seolah mengibaskan pikiran kotornya.


Nindya berbalik, berniat untuk kembali ke kamarnya, namun dari kejauhan, melalui jendela yang besar matanya melihat sepeda motor terparkir di taman depan, membuatnya mengerutkan dahi dan sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Motor N-Maax.." Sahutnya lirih.


Nindya kemudian berlari ke taman belakang dan menghampiri Dirga, seketika itu juga Nindya melupakan sakit di sekitar selanggkangannya.


"Tuan Dirga..." Kata Nindya sedikit terengah dengan senyuman yang terukir lebar di wajahnya.


Dirga mengangkat wajahnya sedikit tidak senang.


"Kenapa..." Jawab Dirga ketus.


Dirga masih menatap dengan ketus dan menunggu Nindya berbicara.


"Ada motor di depan... Motor baru..." Nindya berharap dengan penuh kegembiraan.


"Oh... Itu motor Pak Purbo..." Jawab Dirga Acuh.


Seketika raut mimik Nindya berubah menjadi lesu dan sedih, ia pikir Dirga sudah memenuhi janjinya bahwa akan membelikannya motor.


Ketika Nindya berbalik dan ingin masuk kembali ke dalam rumah, tiba-tiba Dirga menahan


pergelangan tangan Nindya.


"Motor itu milikmu Nin... Pergunakan dengan bijak." Kata Dirga.


"Jangan pergi kemanapun tanpa sepengetahuan dan seijinku." Sahut Dirga lagi.


"Benarkah...!!!" Nindya kembali sumringah dan tertawa.

__ADS_1


"Ba...Baik saya akan menggunakannya dengan bijak Tuan Dirga... Terima kasih banyak." Kata Nindya menyatukan tangannya dan melonjak kegirangan.


Nindya berlari masuk ke dalam rumah dan keluar menuju taman depan, mendatangi motor baru nya, mengelus dan mencium serta memeluknya. Membuat Dirga yang melihat nya tertawa geli dengan kelakuan polos Nindya.


Malam hari Dirga sudah bersiap akan keluar, saat itu Nindya sudah menyelesaikan tugas nya memasak dan menghidangkannya di atas meja.


Melihat Dirga buru-buru menuruni tangga dengan pakaian rapi membuat Nindya segera  bertanya.


"Tuan, anda mau kemana, saya sudah masak makan malam." Kata Nindya.


"Ingat untuk tidak mencampuri urusanku." Dirga menjawab ketus dan pergi tanpa menoleh.


Nindya mengejar Dirga dan melihat Felix sudah berada di dekat mobil.


"Kita ke apartemen Alexa..." Kata Dirga.


"Baik Tuan..." Sembari Felix membuka pintu mobil.


 DEG


"Alexa lagi..." Kata Nindya lirih.


Jantung Nindya berdetak sangat cepat, ia menelan ludahnya dengan kasar, tubuhnya pun gemetar. Nindya meremas gawang pintu dengan tangan kanannya.


"Jangan-jangan malam itu dia pikir aku adalah Alexa, jadi dia..."


Nindya menyandarkan punggungnya di pintu yang besar, ia mengingat bagaimana Dirga mengambil keperawanannya dan ia percaya saat itu Dirga mengira dirinya adalah Alexa.


"Dia bilang bahwa jangan mencampuri urusan masing-masing, harusnya dia juga tidak boleh ikut campur dengan urusanku kan, buat apa juga dia bilang sama aku harus ijindan tidak boleh pergi kemanapun sedangkan dia seenaknya gitu aja..."


Nindya kemudian berjalan mantap menaiki tangga, masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya, kemudian mengambil kunci motor, dan turun kembali.


"Lhoh... Non malam-malam begini mau kemana..." Mbok Winarsih tergopoh menyusul Nindya.


"Mau muter-muter aja Mbok cari angin..."


"Tapi jalan di sini sepi dan gelap lho Non, biar di anter sama suami saya aja ya Non..."


"Mbok saya nggak nyaman kalau boncengan sama Pak Purbo, bukannya gimana-gimana tapi saya lebih suka naik motor sendiri kalau lagi penat gini, tenang aja saya cuma muter-muter sebentar kok..." Kata Nindya tersenyum.


Pak Purbo yang berjaga pun juga tidak bisa menahan Nindya yang bersikeras tetap ingin pergi sendirian.


 

__ADS_1


 


~bersambung~


__ADS_2