
UNTUK PEMBACA NOVEL TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS YANG SETIA DARI AWAL, LANJUTAN EPISODE KALIAN ADA DI EPISODE COMPLICATED 3 .
KARENA SAYA MENGUBAH JUDUL NOVEL SAYA HARUS MERUBAH AWALAN DAN MENAMBAH BAB BARU DI AWAL NOVEL JUGA.
INI BUKAN MENGULANG BAB TAPI BAB NYA MUNDUR KARENA SAYA MENAMBAH EPISODE ATAU MENAMBAH BAB DI AWAL.
Halo semua... Sekedar pemberitahuan untuk para Readers yang tidak tahan dengan konflik kekerasan dan adegan panas bisa memilah dan memilih bacaan ya...
Pemberitahuan yang satu lagi adalah, NOVEL INI AKAN DI REVISI secara menyeluruh tentang pemakaian bahasa saat percakapan. Untuk ALUR CERITA akan tetap sama jadi jika di kemudian hari bahasa percakapan berbeda jangan kaget . Terimakasih.
***
Dirga melepaskan jasnya dengan perlahan dan menaruhnya di atas sofa, lalu melipat lengan kemejanya hingga batas siku dan membuka dasi serta kancing kemeja di lehernya nya.
Pria itu berjalan mendekati Nindya dengan perlahan sembari membuka ikat pinggangnya. Terdengar suara ikat pinggang tersebut penuh kengerian di telinga Nindya. Dirga terus melangkah maju dengan kemurkaan yang dingin dan tak tergoyahkan.
Nindya berjalan mundur, ia ketakutan melihat ekspresi datar Dirga, melihat bagaimana Dirga pun sudah memegang erat ikat pinggangnya.
Nindya bahkan tidak berani menelan ludahnya sendiri, ia menahan nafasnya dan kemudian terkejut karena terjerembab di atas ranjang.
Dirga mulai mengangkat tangannya dan melepaskan cambukannya memakai ikat pinggang, melepaskan amarah dan kekesalannya pada tubuh Nindya, sedangkan Nindya meringkuk melindungi tubuhnya dan menangis memohon ampun.
"Aaa...Aa...!!! Aaa…!!!”
Teriakan Nindya setiap kali pukulan melayang dan mengenai punggung serta kakinya.
“PLAK…!!! PLAK…!!! PLAK…!!! Suara cambukan itu menambah sakit dan panas di tubuh Nindya.
Tangan kekar berorot Dirga akhirnya melukai tubuh mungil Nindya, melukai sosok makhluk lemah yang seharusnya di jaga dan di lindungi.
Kebengisan pria itu pun terlukis jelas di wajah Dirga bagaimana ia menghujami Nindya dengan pukulan-pukulan nya yang tanpa henti menggunakan ikat pinggang.
"Ampun Tuan... Saya tidak sengaja..." Kata Nindya berulang kali dengan kalimat lirih dan lemah. Meminta dan memohon.
"Saya bersumpah... Saya tidak sengaja..."
Namun Dirga tidak goyah sedikitpun, tangan Dirga yang berukirkan otot terus melayangkan pukulan, pria itu masih berwajah dingin tanpa mengeluar sepatah kata.
Suara isak tangis Nindya pun pecah namun juga lemah, Dirga sudah puas melampiaskan amarahnya namun melihat Nindya meringkuk kesakitan dengan tubuh penuh merah-merah karena pukulan Dirga membuat pria itu semakin memiliki ide liar.
Dirga mulai dengan paksa membuka baju Nindya, merobeknya dengan asal.
"Tidak!!! Saya mohon jangan... Lepaaskan sayaa... Tinggalkan saya sendiri!!!" Nindya menangis meronta, dan memohon hingga tenaganya mulai mengendur.
Pria itu masih dingin dan tanpa ampun akan melampiaskan hasratnya, dengan tanpa kelembutan sedikitpun, kejam, kasar dan sangat murka.
Nindya hanya menangis, saat pergelangan tangannya di cengkram dengan kuat oleh Dirga, Pria itu sudah mengungkung tubuh Nindya.
Saat sesuatu masuk dengan paksa dan terasa perih, tubuh Nindya tersentak hebat, air matanya meleleh melewati pelipisnya, ia tidak dapat melawannya lagi.
Tubuh Dirga terlalu besar untuk Nindya.
__ADS_1
Dirga seolah sudah kehilangan akal, pria itu telah buta dan hilang arah karena dendamnya sendiri pada Dino dan pada wanita yang telah menghancurkan keluarganya, namun ia justru menyiksa dan melampiaskannya pada seseorang yang tidak tahu apapun.
Wajah Dirga masam dan penuh kekesalan, dingin dan kejam, pria itu masih memompa tubuhnya lebih cepat, otot punggungnya bergerak seirama dengan semua kekuatan otot yang ia miliki dan kemudian setelah permainan yang cukup lama ia mencapai pelepasannya, menyiramkan semua benihnya di rahim Nindya.
Dirga turun dari ranjang dan memakai bajunya, pria berwajah bengis dan dingin itu memandangi Nindya yang sudah tak berdaya dengan luka dan baju yang sudah robek di sana sini nya, bahkan hampir bisa dikatakan tanpa busana.
Kemudian Dirga meninggalkan Nindya sendirian di kamar, tanpa belas kasih, dan tanpa perasaan.
Sedangkan Nindya sudah tidak bisa tahan lagi dengan perlakuan itu, dengan siksaan-siksaan mental dan fisik yang di berikan padanya.
Perlahan tangannya bergerak, dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang kemudian membuka ponselnya dan mencari nomor yang ada di kontaknya.
"Tuuuttt... “
“Tuuutttt..."
Panggilan mulai berdering.
Tak berapa lama seorang pria pun mengangkatnya.
"Halo... Ya Nindya... " Jawab pria itu.
"Dinoo..." Suara Nindya lemah, ia memanggil nama Dino dengan menangis dan terisak, ia bahkan tidak bisa berkata apapun tak bisa menjelaskan apapun.
Nindya ingin pergi, namun tidak tahu siapa yang bisa menyelamatkannya, ia putus asa, tidak bisa bergerak kemanapun.
"Nindya!!! Kenapa!!!"
Namun Nindya hanya menangis dan tidak bisa menjelaskan, ia tidak tahu harus berbicara apa, tubuhnya sudah lelah dan lemah.
Dino mematikan telfonnya.
Sedangkan Nindya masih menangis tidak bisa lagi menahan tubuhnya yang kesakitan.
Perlahan Nindya meraih selimut yang sudah berantakan, untuk menutupi tubuhnya.
Jam terus bergulir dan Nindya berharap ada seseorang yang bisa menyelamatkannya dari penjara yang menyiksanya, ia masih bingung kenapa hidupnya menjadi seperti ini, kenapa Dirga bersikap seperti ini padanya.
Setelah beberapa jam, terdengar samar-samar di telinga Nindya ada keributan di bawah, ia tidak berdaya dan masih di ambang antara sadar dan tidak sadar.
Dino membawa beberapa preman, dan memaksa masuk, mendobrak gerbang dengan mobil, membuat Felix dan Pak Purbo tidak bisa berbuat apa-apa.
Dino masuk dan berteriak mencari Nindya, Felix menahan Dino namun beberapa preman juga lebih kuat melawan Felix, sehingga Dino dapat naik dan membuka setiap pintu ruangan.
Mbok Winarsih ketakutan dan hanya menutup mulut serta menempel pada dinding ruang tengah.
Dirga keluar dengan kesal melihat Dino merusak dan mengacak-acak rumahnya.
"Lancang!!!" Teriak Dirga sembari mencengkram kerah Dino, pria itu mendorong kasar Dino hingga membentur dinding.
Mendengar kegaduhan Maryam pun keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa ini Dirga... Kenapa kacau sekali..." Kata Maryam terkejut dan menutup telinganya.
"Siapa dia..." Kata Maryam lagi.
"Orang asing yang harus di musnahkan..." Sahut Dirga sembari menyeret Dino keruangan lain.
"Lepaskan!!! Dimana Nindya!!!" Teriak Dino tak kalah kuat dan membalas cengkraman Dirga, hingga mendorong tubuh Dirga membentur dinding.
Mereka saling mencengkram dan saling mendorong, saling menggertak dan memaki hingga akhirnya mereka terjatuh di pintu kamar Dirga.
Saat itu Dino berada di atas tubuh Dirga dan memegang kendali atas tubuh Dirga. Dino adalah juara Taekwondo bukan hal susah baginya melawan dengan teknik.
Saat melihat Nindya terkapar, Dino terrkejut tak percaya melihat keadaan Nindya, bagaimana Nindya terbalut selimut dengan wajah yang memiliki banyak lebam, serta tangan yang juga penuh lebam, tangan itu lemah menggantung di atas ranjang.
"Brengsek!!!" Teriak Dino marah.
Dengan garang Dino memberikan pukulannya bertubi-tubi pada Dirga, Maryam mencoba melerai dan menahan Dino namun tenaganya tidak cukup kuat dan justru terjungkal.
"Pergilah ke nerakaaaa... Brengsek!!!" Teriak Dino lagi masih memberikan pukulannya pada Dirga.
Setelah dirasa Dirga sudah mulai melemah, Dino berdiri dengan nafas tersengol, kemudian membenarkan selimut yang membalut tubuh Nindya. Dino melilitkan selimut itu dan menggendong Nindya keluar.
Dino melewati Dirga yang sudah lemah, dan pergi menuruni tangga. Melihat keadaan Nindya Mbok Winarsih benar-benar cemas dan tidak tega, ia menangis, dalam keadaan bingung ia pun memutuskan untuk ikut bersama Nindya.
Mbok Winarsih sudah menganggap Nindya sebagai anak kandungnya sendiri, mengingat ia tidak memiliki anak perempuan, satu-satunya anaknya seorang laki-laki dan sedang bersekolah di Luar Negeri.
Dino memasukkan Nindya ke dalam mobil miliknya, sedangkan para preman memakai mobil Jeep milik mereka sendiri yang di gunakan untuk mendobrak gerbang.
Sedang Pak Purbo mengiyakan Mbok Winarsih untuk ikut dan menjaga Nindya.
Felix pun hanya diam melihat wajah Nindya yang penuh lebam. Pria itu juga berfikir akan lebih baik jika Nindya keluar dari rumah Dirga. Sebenarnya Felix merasa iba dan tidak tega, perasaannya muncul berawal dari mengantar Nindya ke rumah orang tuanya dan menemaninya membeli kursi.
Selain mengagumi kecantikan Nindya, Felix juga mengagumi semua sifat yang ada di dalam Nindya. Rasa prihatin dan iba nya semakin dalam tatkala Nindya adalah orang yang paling dirugikan, pasal nya Nindya adalah orang luar yang tidak tahu menahu permasalahan pelik keluarga Hartono Jaelani namun hidupnya masuk ke dalam kubangan dan lingkaran neraka mereka.
Dino memutar kemudinya, secepat mungkin menekan gas mobilnya dan diikuti oleh mobil preman di belakangnya.
Pria itu sibuk mencari kontak nomor melalui layar monitor mobilnya yang sudah tersambung dengan ponselnya.
"Farel Ke Apartmen sekarang..."
"Kenapa? Kamu sakit..."
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan!!!” Kata Dino menutup panggilannya.
"Tuan Dino kenapa tidak kerumah sakit saja..." Tanya Mbok Winarsih.
"Dengan kondisi dia yang seperti itu mbok?" Kata Dino.
Kondisi Nindya memang mengenaskan, bahkan bajunya yang robek tidak dapat menutupi tubuhnya lagi, maka dari itu Dino membalut dan melilitkan selimut pada Nindya.
Lagi pula akan rumit urusannya ketika Nindya di bawa kerumah sakit, masalah akan melebar kemana-mana, Dino tidak ingin salah melangkah tanpa persetujuan dari Nindya.
__ADS_1
Perjalanan cukup cepat karena Dino menyalakan lampu hazard pada mobilnya, pertanda bahwa dalam keadaan darurat.
\~bersambung\~