TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Divorce


__ADS_3

Saat itu Nindya sudah siap menggendong Zidan untuk keluar dari kantor milik Dirga.


"Aku akan mengantarmu." Kata Dirga memakai jasnya.


"Aku bersama sopir." Sahut Nindya.


"Ini hanya mengantarmu pulang Nindya, sebentar lagi kau juga tidak akan berurusan denganku kecuali masalah anak." Sahut Dirga.


Nindya hanya diam dan menurut, ia mengekor di belakang Dirga.


Perjalanan pun cukup cepat karena jalanan lengang, mungkin karena saat itu adalah jam kerja dan kebanyakan orang memilih diam di dalam rumah karena terik panas yang kian membuat orang malas terkena matahari.


Dirga hanya berdiri di depan apartmen Nindya.


"Jika kamu ingin bercerai, bersiaplah untuk berperang Nindya. Aku menginginkan hak asuh Zidan." Sahut Dirga sembari memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.


Nindya menelan ludahnya melihat Dirga kemudian pergi hingga masuk ke dalam lift mereka saling menatap hingga pintu lift pun tertutup.


"Ini yang aku takutkan." Sahut Nindya.


"Aku akan membantumu melawan Dirga." Sahut seseorang yang muncul tiba-tiba dari sisi lain sebelum Nindya membuka pintu apartmennya.


"Dino..." Sahut Nindya terkejut.


"Aku menunggumu pulang." Sahut Dino.


Mereka hanya saling pandang dan akhirnya masuk untuk membicarakan tentang rencana Nindya yang ingin bercerai.


Saat itu Dino duduk menghadap Nindya, sedangkan Nindya sendiri menggenggam tangannya dan menundukkan kepalanya.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang, apakah aku harus senang atau sedih d, tapi mendengar kamu memutuskan untuk bercerai aku merasa lega. Mungkin aku terlihat jahat, tapi melihatmu menderita aku belum bisa menerima jika kamu memutuskan akur dengan Dirga apalagi, hingga nyawa orang tua mu menghilang."


"Aku tidak tahu bagaimana akan menjelaskan ini pada orang tua kalian." Sahut Nindya menyesal.


"Aku akan membantumu memberitahu mereka secara perlahan."


"Sebelumnya aku minta maaf Dino, aku sangat menghargai bantuanmu, tapi aku tidak ingin ada fitnah yang menyeruak di antara aku serta Dirga, ku pikir jika kamu campur tangan akan membuat posisi dan hubungan kita di gunakan oleh Dirga untuk menyerangku dan mempermudah langkahnya untuk bisa mengambil hak asuh Zidan." Sahut Nindya.


"Tenanglah Nindya, aku akan membantumu dari belakang, aku yang akan mencarikan pengacara paling handal."


"Menyewa pengacara tidak murah Nindya, apalagi lawan mu adalah Dirga, kau datang ke kantornya hari ini?"

__ADS_1


Nindya mendongak dan memandang Dino, kemudian menelan ludahnya.


"Aku tahu, dan itu adalah salah satu perusahaannya saja yang paling kecil, kecuali pabrik tenun itu, pabrik itu sebenarnya hanyalah strategi papa kami untuk menyatukan kami agar akur kembali." Sahut Dino


Nindya melenguhkan nafas dan menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan, seolah ia sudah merasa penat dengan segala hubungannya yang melelahkan.


"Aku akan menghubungimu lagi Dino. Tapi hari ini aku butuh istirahat." Sahut Nindya.


"Hm... Aku akan menunggu."


Setelah Dino berpamitan pergi, Nindya pun merebahkan dirinya di atas ranjang dekat box bayi dimana Zidan sedang tertidur nyenyak.


"Apakah ibu jahat padamu Nak?" Tanya Nindya yang tidur dengan memiringkan tubuhnya sembari mengelus lembut jemari Zidan dari lubang-lubang box bayi.


"Seandainya kamu bisa memberikan nasihat pada ibu, tapi yang harus kamu tahu, ibu tidak bermaksud memisahkanmu dengan ayah kandungmu. Hanya saja... Ibu masih belum bisa memaafkannya, dia telah menghilangkan nyawa kakek dan nenekmu." Sahut Nindya menghapus air matanya yang jatuh.


Beberapa bulan kemudian...


Setelah cukup lama menunggu, Nindya hanya melakukan aktifitasnya seperti biasa.


Merawat dan mengajak Zidan bermain, hingga akhirnya Zidan sudah tumbuh semakin besar.


Pada akhirnya Nindya pun mendapatkan surat cinta, alias surat perceraian dari Dirga. Entah mengapa dadanya merasa terhimpit.


Namun, dalam hati Dirga sendiri masih tetap ingin mempertahankan pernikahan mereka.


Sikap Nindya yang tetap kekeh ingin bercerai mau tidak mau membuat Dirga mengalah dan mengurus semuanya.


Awalnya Dirga menginginkan hak asuh Zidan, namun entah mengapa Dirga memilih mengurungkan niatnya dan mempercayakan Zidan pada Nindya.


Sebuah surat pun terselip dan jatuh ke lantai. Nindya memungutnya dan duduk di sofa membacanya dengan tenang.


Nindya...


Saat kamu membaca surat ini, aku tahu kita sudah tidak lagi memiliki hubungan suami-istri. Tapi percayalah perasaan yang ada dalam hatiku kian hari semakin tumbuh dan tidak dapat terkendali.


Awalnya aku sangat ingin merawat Zidan, aku sangat menyayanginya. Tapi, aku berfikir berulang kali, hati ku pun berkata, keinginanku untuk merawat dan menginginkan hak asuh Zidan hanya akan memperparah dan memperkeruh hubungan perselisihan kita.


Kamu pasti akan semakin membenciku dan semakin tidak ingin bertemu denganku. Maka dari itu aku memutuskan untuk mengalah dan menyerahkan serta mempercayakan pertumbuhan dan perkembangan Zidan padamu.


Kamu adalah malaikat, dan ibu yang baik untuk Zidan, aku akan sangat tenang jika dia berada dalam pengawasanmu.

__ADS_1


Nindya, maafkan aku, karena ketidak becusanku menegakkan keadilan dan pondasi rumah tangga kita, membuat pernikahan kita menjadi tidak berjalan semestinya.


Aku minta maaf dengan segala penyesalan yang ada.


Mungkin jika kamu sudah menerima surat keputusan dari pengadilan dan sudah membaca surat ini aku sudah tidak berada di satu negara bersamamu.


Aku harus pergi dan menghilang sejenak dari pandanganmu.


Aku harus pergi dan melarikan diri dari perasaan cinta ku padamu.


Aku harus pergi untuk menyembuhkan luka hatiku yang mungkin tidak seberapa ini di banting luka yang telah ku torehkan padamu.


Aku ingin kamu bahagia Nindya.


Jangan pernah pergi kemanapun, karena aku ingin kamu serta Zidan tetap tinggal di apartmen itu dan membuat kenangan sebanyak-banyaknya.


Aku hanya meminta kirimkan beberapa video kalian ke email untuk mengobati sedikit dahaga kerinduanku pada kalian.


Selamat tinggal Nindya semoga kamu bahagia dengan pilihan mu. Aku mencintaimu.


-Dirga-


Nindya menyandarkan punggungnya di sofa dan mendesahhkan nafas beratnya, menahan gundukan air mata yang siap membanjiri matanya.


Entah untuk siapa dan untuk apa ia menangis, perasaan yang aneh dan kebingungan yang melandanya membuatnya sangat tidak bisa mengenali dirinya lagi.


Namun yang harus ia tahu sekarang adalah membesarkan Zidan, anak itu sudah mulai bisa duduk sendiri meski terkadang terhuyung dan terjatuh.


Zidan sudah semakin besar dan semakin lancar mengucapkan kalimat atau kata yang tidak jelas.


Nindya menaruh surat itu di atas meja dan mendatangi anaknya yang duduk tenang di atas lantai dengan berbagai mainan miliknya.


Nindya kemudian mengangkat Zidan dan memeluknya, Nindya menangis sembari memeluk anaknya yang seolah ingin mendapatkan kekuatan dari anaknya.


"Seandainya kamu tidak melakukan itu semua pada keluargaku Dirga, kita pasti tidak akan seperti ini, seandainya orang tua ku tidak kamu bawa-bawa dalam permasalahan kita Dirga." Sahut Nindya dengan air mata berderai.


Hari yang suram dan sepi bagi Nindya, dimana hanya suara Zidan yang menemaninya kala itu.


Nindya memilih untuk tidak berkomunikasi dengan Dino, meski Dino sedari awal menawarkan bantuannya. Namun Nindya tetap kekeh tidak ingin melibatkan Dino dalam masalah perceraiannya.


~bersambung~

__ADS_1


MOHON MAAF JIKA NOVEL TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS UP PERLAHAN SEDANG DALAM PROYEK NOVEL DI BAWAH INI SECARA BERSAMAAN.



__ADS_2