
UNTUK PEMBACA NOVEL TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS YANG SETIA DARI AWAL, LANJUTAN EPISODE KALIAN ADA DI EPISODE COMPLICATED 3 .
KARENA SAYA MENGUBAH JUDUL NOVEL SAYA HARUS MERUBAH AWALAN DAN MENAMBAH BAB BARU DI AWAL NOVEL JUGA.
INI BUKAN MENGULANG BAB TAPI BAB NYA MUNDUR KARENA SAYA MENAMBAH EPISODE ATAU MENAMBAH BAB DI AWAL.
***
Beberapa hari kemudian...
Nindya merasa jenuh, beberapa hari ia sendirian di rumah dan tidak bisa keluar. Sedangkan Dirga juga selama beberapa hari tidak pulang.
Tak berapa lama, Pak Purbo berlari dengan tergopoh karena mendengar suara klakson, pria paruh baya itu membuka gerbang dengan memencet tombol.
Perlahan mobil sport Dirga masuk ke halaman dan terparkir di garasi yang cukup luas, mensejajarkan mobilnya dengan mobil lainnya.
Mendengar suara mobil Nindya keluar dengan tergesa menyambut Dirga, ia baru saja selesai memasak. Tak berapa lama Dirga keluar dari mobil, di susul Felix yang kemudian membuka pintu mobil di belakangnya.
Seorang wanita dengan tampilan yang modis dan wajah cantik keturunan arab keluar, ia memiliki rambut hitam panjang yang cukup lebat tergerai, kulit putih bersih dan memakai kacamata hitam serta tas jinjing yang mewah.
Seketika Nindya meremas kedua tangannya, dalam hati bertanya-tanya "Siapa dia...?"
Dirga dan wanita itu berjalan menuju ke arah Nindya. Wanita itu semakin mendekat, ia membuka kaca matanya dan melihat Nindya dengan wajah angkuh. Tak lain dan tak bukan dia adalah Maryam Husein ibu kandung Dirga.
"Siapa dia..." Tanya wanita paruh baya tersebut.
"Dia..." Dirga tidak dapat melanjutkannya.
"Istri siri yang kamu ceritakan kemarin?" Sambar Maryam.
Dirga hanya mengangguk.
Maryam mengangkat dagu Nindya dengan ujung telunjuknya, kuku yang tidak terlalu panjang sudah di poles dengan cat warna salem.
Maryam juga menatap Nindya lekat-lekat, menelisik dan seolah ingin menusuk harga diri Nindya dengan pandangan matanya, bak pedang tajam yang siap menghunus kan mata pedang itu pada dada Nindya.
"Mirip pembantu... Pasti orang desa, orang miskin, dan tamak dengan uang seperti pelacurr itu yang tidak punya harga diri dan kemaluaannya selalu di gilir." Kata Maryam dengan sinis, sudut bibir wanita itu terangkat.
__ADS_1
Maryam kemudian memakai kaca matanya kembali, dan melewati Nindya, masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Dirga dan Felix.
Nindya yang sedari tadi menahan nafas nya, mendadak dada nya ingin meledak. Bagaimana ia
berdiri seperti orang bodoh dan tidak memiliki harga diri sama sekali. Air mata yang menggembung perlahan mulai turun.
Dada nya sesak, harga dirinya di koyak, pertahanan kaki nya pun mulai lemas, ia berfikir sedari awal pernikahan ini adalah kesalahan dan kini ia tahu bahwa dirinya berdiri di tanah yang haram untuk kakinya.
Perlahan Nindya berbalik dan masuk ke dalam setelah menyeka air matanya dan menenangkan diri. Meski berat dan air matanya terus saja mengalir, hingga ia kesakitan untuk menahannya, lehernya terasa di tarik dan diikat dengan tali.
Nindya kembali menyiapkan makanan ke atas meja, membantu Mbok Winarsih.
"Biar saya saja Non..." Kata Mbok Winarsih.
"Tidak apa-apa mbok biar saya bantu, saya tidak tahu harus ngapain, biar saya nggak kayak patung." Kata Nindya sembari sibuk menata makanan sesekali mengelap air mata.
Mbok Winarsih hanya menurut dan mengelus bahu Nindya. Prihatin jelas iya, namun ia juga hanya seorang pelayan yang juga sedang mencari uang dari tempatnya bekerja untuk membiayayai anaknya yang bersekolah di luar negeri.
Tak berapa lama Dirga turun di temani ibunya yang terus saja memeluk anaknya, mereka pun duduk. Dirga duduk di paling ujung sedangkan Maryam duduk berada di sebelah kanan Dirga. Nindya masih berdiri di ujung dekat dapur.
"Nindya kemarilah..." Kata Dirga
"Duduk di sebalah kiri ku, sebelum makan aku ingin menyampaikan sesuatu." Kata Dirga.
Nindya pun menurut dan duduk di samping kiri Dirga.
"Mulai hari ini mamah akan tinggal di sini, kamu harus bersikap baik, dan jangan membuat mamah marah, layani dan beri perhatian dengan penuh kasih sayang." Kata Dirga.
"Sebagai menantu kamu harus tahu tugas dan kewajibanmu." Sahut Dirga lagi.
Nindya hanya menunduk tanpa membalas dan menjawab apapun yang Dirga katakan, ia tahu tidak memiliki hak tersebut, ia juga tahu ke depannya pasti akan semakin berat, seandainya ia bisa pergi, namun harus pergi kemana.
Nindya tidak memiliki pilihan apapun, ia juga ingin pergi, lebih baik hidup sendiri. Namun ia juga tidak bisa meninggalkan hubungan ini meski hanya hubungan pernikahan siri, ia menghormati agama yang ia anut.
Lagi pula Nindya sudah tidak memiliki uang sepeserpun, tidak punya tempat tujuan yang bisa membuatnya bernaung, di desa pasti akan di usir, lalu harus kemana, toh tidak semudah itu baginya harus pergi atau kabur, Dirga memiki kekuatan yang jauh lebih menakutkan dari pada dirinya yang seorang diri.
Acara sarapan sudah selesai dan berlangsung dengan khidmat, tidak ada suara bising apapun bahkan suara sendok dan piring bergesek dengan pelan.
__ADS_1
Nindya dengan cepat membereskan semua itu dan membantu Mbok Winarsih di dapur, membersihkan meja makan, membersihkan sisa-sisa makanan dan mencuci piring.
Melihat itu membuat Mbok Winarsih menelan ludahnya iba, dan tercekat dadanya.
"Non biar saya yang kerjakan..." Kata Mbok Winarsih.
"Mbok, Tidak apa-apa Mbok saya tidak ada kerjaan..." Kata Nindya sembari mengusap peluh keringatnya hingga membuat busa itu menempel di pelipis kepala.
Mbok Winarsih lalu mengelap kening dan pelipis Nindya membersihkan busa-busa tersebut.
Nindya hanya ingin menyibukkan dirinya, ia bingung dan tidak tahu apa yang harus ia kerjakan saat ia tinggal bersama sang mertua, apalagi dengan jelas mertuanya tidak menyukainya. Tatapan yang sinis dan kalimat panas menjadi perkenalan di awal mereka.
Setelah selesai mencuci piring Nindya mengambil alat pel dan akan mengepel lantai namun dengan cepat Mbok Winarsih mengambil alat pel tersebut, tidak tega melihat Nindya seperti itu.
"Nyonya besar suka dengan Tieguanyin tea, saya ajari bagaimana menyeduhkannya." Kata Mbok Winarsih.
Mbok Winarsih kemudian mengambil teh yang ada di almari set kitchen karena Felix sudah menyediakan sebelum Maryam Husein datang, dan saat itu Mbok Winarsih hanya bertanya-tanya mengapa Felix menyiapkan kamar dan juga teh kesukaan Nyonya besar, sekarang semua terjawab sudah.
Mbok winarsih meracik dan menyeduh teh tersebut dengan hati-hati, memakai teko khusus yang mewah.
"Maaf sebelumnya jika saya lancang, Nyonya ganti baju dulu, jangan seperti ini, karena Nyonya besar tidak suka teh nya di sajikan sembarangan..." Kata Mbok Winarsih dengan canggung dan tidak enak.
"Iya mbok terimakasih..."
Nindya kemudian naik ke kamar dan mengganti pakaiannya, memakai sedikit riasan di wajahnya sekesar bedak dan lip gloss lalu menyisir rambut dan mengucirnya. Dirga tidak terlihat di kamar, dan Nindya berfikir pasti sedang di ruang kerja bersama Felix.
Kemudian Nindya turun dan mengambil teh yang sudah siap, teh itu sudah tertata rapi di atas nampan dengan 1 set teko dan gelas keramik mewah.
Perlahan Nindya membawa nya naik ke kamar mertuanya dan mengetuk pintu.
Setelah diijinkan masuk Nindya menaruh teh itu di atas meja dekat balkon dimana mertuanya sedang duduk meluruskan kakinya di atas kursi tidur, sembari membaca buku.
Maryam Husein, wanita yang cukup masih muda dan cantik, kulitnya putih dan tidak terlalu menunjukkan guratan keriput, ia memakai gaun yang cukup tipis dan syal melingkar di bahunya.
Mencium harum khas teh kesukaannya, kemudian Maryam membuka suaranya.
"Tahu dari Mbok Winarsih kan..." Kata Maryam ketus tanpa melihat ke arah Nindya.
__ADS_1
\~bersambung\~