TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Di balik kecelakaan Dirga


__ADS_3

"Papa... Papa... " Teriakan itu menggema di telingga Dirga.


"Hay... Boy!" Kata Dirga sembari menggendong Zidan.


"Apa kamu nakal!" Kata Dirga sembari menggelitik Zidan.


"No... No... Zidan tidak nakal." Kata Zidan sembari melingkarkan tangannya di leher sang papa dan tertawa renyah.


Saat itu Dirga melihat Zidan sudah cukup besar dan sudah lancar berbicara.


"Makan siang siapp..." Kata Nindya, kedua tangannya membawa piring berisi lauk pauk.


Setelah menaruh piring itu di atas meja Nindya menghampiri Dirga.


"Ayo turun biar papa mu makan siang dan istirahat..." Kata Nindy memberikan kecupannya pada Zidan.


Kemudian Zidan turun dari gendongan papanya, dan Dirga mengecup kening serta bibir Nindya.


"Aku mencintaimu..." Kata Dirga.


"Aku juga mencintaimu..." Sahut Nindya.


Ciuman kembali di berikan oleh Dirga, dan Nindya pun membalasnya. Mereka saling berpelukan dan saling menekan. Setelah cukup lama Nindya menarik diri.


"Makanannya akan dingin." Bisik Nindya.


"Aku akan ganti pakaian lalu kita makan bersama..." Sahut Dirga.


*****


"Dirgaa... Dirgaaa... Dirgaaa..."


Desis Nindya memanggil nama Dirga dengan suara rintihannya.


Nafas mereka saling memburu dan saling bertarung. Suara tarikan nafas, suara hembusan nafas, peluh keringat yang saling menempel di kedua badan mereka.


"Bukankah sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikan Zidan seorang adik?" Kata Dirga menciumi leher Nindya.


Nindya masih menutup matanya, meremas rambut Dirga saat pria itu menuruni lekuk tubuh Nindya.


Dirga sangat suka melihat Nindya yang seperti ini, memanggil namanya dengan suara merdu dan melihat wajah sayu Nindya yang bagaia malaikat.


*****


"Selamat pagi suami kesayangan.... Selamat ulang tahun." Kata Nindya mencium bibir Dirga.


Dirga masih tertidur dan melenguhkan nafas beratnya.


"Tiup lilinnya." Perintah Nindya.


Kemudian Dirga meniup lilin itu, dan kecupan mesra dari Nindya mendarat di bibir Dirga.


Saat itu sinar pagi sangat menyilaukan mata Dirga.


"Tutup tirai jendelanya sayang..." Kata Dirga masih dengan suara parau dan menyipitkan matanya.


"Kenapa? Kamu mau tidur lagi? Jangan harap." Sahut Nindya duduk di paha Dirga dan memeluk Dirga.


"Kamu semakin nakal ya?" Kata Dirga membalik tubuh Nindya dan menggelitik tubuh Nindya.


*Gelitikan itu berubah menjadi ciuman yang menyesap setiap inci tubuh Nindya, membuat banyak tanda dan membuat lenguhan serta rintihan dan desisan menghiasi ruangan kamar pagi itu.


Sekali lagi, Dirga hanyut dalam buaian alam bawah sadarnya, itu semua adalah impiannya*.


*****


"Dirga!!! Ceraikan aku!!! Aku ingin kita bercerai sekarang!!! Aku membencimu, aku membencimu!!!"


*****

__ADS_1


"Dirga lepaskan aku... Aku mohon jangan seperti ini."


Nindya merintih dan memohon untuk minta di lepaskan. Namun tangan buas Dirga masih mencengkram pergelangan tangan Nindya.


"Dirga ini sakit..."


"Dirga aku mohon hentikan, ini sangat sakit."


Dirga tak memperdulikan permohonan Nindya dan terus memaksa Nindya.


*****


"Dirga lepaskan Nindya... Kamu adalah orang ke tiga di antara kami."


"Kamu datang di saat aku dan Nindya sedang dalam memantapkan diri." Kata Dino lagi.


"Aku tidak akan melepaskannya. Aku tidak akan pernah mengijinkan kalian untuk bersama!!!" Teriak Dirga.


"Dan aku akan membawa pergi Nindya serta Zidan bersama denganku!!!"


*****


Tiit... Tiiit... Tiiiiiiittt....


"Dokter!... Dokter!..." Teriak Nindya berlari keluar dari kamar ICU.


Nindya berteriak-teriak membuat Hartono serta Yasmine membelalakkan mata terkejut, seolah tahu apa yang membuat Nindya berteriak panik


Dino datang memeluk Nindya dan menenangkan Nindya yang menangis, setelah beberapa dokter dan perawat masuk ke dalam kamar ICU.


"Selamatkan Dirga..." Kata Nindya menangis.


Dino masih memeluk tubuh Nindya yang lemah.


Setelah beberapa menit, dokter pun keluar.


Semua berdiri dengan tegang, bahkan mata Yasmine serta Nindya sudah sangat sembab.


"Terimakasih dokter." Kata Yasmine.


"Terimakasih banyak dokter." Kata Nindya sembari menangis.


Mereka pun masuk dan melihat Dirga sudah membuka matanya lemah, dan sayu.


Nindya maju dan menggengam tangan Dirga.


"Syukurlah. Terimakasih kamu masih mau berjuang." Kata Nindya mencium tangan Dirga.


Setetes air jatuh bagai embun di pelupuk mata Dirga. Perlahan mulutnya membuka seolah ingin mengucapkan sesuatu.


"Kamu harus istirahat Dirga." Kata Yasmine mengingatkan.


Namun Dirga tetap bersikeras ingin mengucapkan sesuatu. Mulutnya terus saja ingin mengeluarkan suaranya.


Kemudian Nindya mendekatkan telinganya pada Dirga.


"Aku... Ing...innn... Me..Yihaaat... Zii...Dann..." Sahut Dirga terbata dan sangat lemah dengan kosa kata rancau karena mulutnya masih terpasang selang yang cukup besar.


"Aku akan segara membawanya ke sini." Kata Nindya.


Dino masih berdiri di belakang Nindya dengan rasa sakit, melihat kakaknya yang sangat kuat kini hanya terbaring di atas ranjang pasien dan tubuhnya begitu rapuh serta sangat lemah. Pria itu tidak kuat dan memilih untuk pergi menenangkan diri.


Sedangkan Nindya sedang dalam perjalanan pulang di antar oleh Nuel untuk menjemput Zidan bertemu dengan sang papa.


Sedangkan Felix baru saja tiba dengan beberapa laporan pada Dino.


"Seperti nya memang di sabotase Tuan." Kata Felix.


"Siapa pelakunya."

__ADS_1


"Dugaan saya adalah Maryam Husein."


"Bukannya dia masih ada di rumah sakit jiwa?"


"Saya rasa, ada yang membantunya, untuk kasus penculikan Zidan pun sepertinya dalangnya juga Maryam Husein."


"Jika itu benar dia, aku tidak akan memaafkannya!" Kata Dino meremas kedua tangannya.


"Cari tahu lagi Felix, sekecil apapun jadikan bukti." Perintah Dino.


"Baik Tuan."


Felix pun pergi untuk mengusut kembali kecelakaan Dirga.


Kemudian Dino yang sudah sedikit tenang, mendatangi Dirga.


"Hei." Kata Dino menahan air matanya.


Dirga membuka mata dan melihat lemah pada Dino.


"Aku akan membalas dendam pada siapapun yang telah membuatmu seperti ini." Kata Dino pelan dan mendekatkan dahinya pada sang kakak.


Dirga meneteskan air mata.


"Maaa... Af... Kan... A... Ku..." Kata Dirga.


Dino menggelengkan kepalanya.


"Jangan meminta maaf tentang apapun, dan kamu harus istirahat." Kata Dino.


"Ber...Jan...Jilah... Ka...Mu... Akan... Men... Ja... Ga Ni... Ndya dan Zi... Daan..." Kata Dirga pelan dengan nafas terengah.


Dino mengangguk.


"Kamu yang akan menjaga mereka, dan aku akan merestui hubunganmu dengan Nindya. Kalian akan bersatu kembali dan menjadi keluarga yang utuh."


Sekali lagi air mata Dirga menitik bagai embun di pelupuk matanya.


"A... Ku... Ta... Hu... Aku... Tidak ak... Kan... Bisaa..." Kata Dirga.


"Ber... Jan... Jilah... Kalian akan... Me... Nikah... A... Ku mengi... Nginkan... Itu."


"Ssstt.... Kamu akan sembuh Dirga, dan kamu akan berkumpul kembali dengan istri dan anakmu, jangan membuat obrolan yang tidak akan terjadi. Sekarang istirahatlah. Aku tidak mau kamu kelelahan."


Dino kemudian berpamitan keluar, pria itu menuju lorong yang sepi dan meninju dinding berulang kali, melepaskan amarah dan emosinya yang meluap-luap kemudian meremas rambutnya.


"Maryam....!!! Jika itu benar kamu. Tamat riwayatmu." Geram Dino.


BUG!!


Kembali lagi Dino meninju dinding tersebut.


"Ini semua hanyalah mimpi buruk." Sahut Dino lirih.


Baru saja keluarga itu akan kembali utuh dan saling mengeratkan hubungan namun Dirga justru dalam kondisi kritis.


Sedangkan Hartono serta Yasmine masih menunggu di ruangan VVIP.


"Sayang kamu harus makan agar tetap kuat menjaga Dirga." Kata Hartono menyodorkan makanan yang sudah di siapkan.


"Aku tidak bisa menelan makanan melihat anakku terbaring seperti itu." Kata Yasmine menangis menutup wajahnya.


"Dirga adalah pria yang sangat kuat, bahkan dia selalu menang dalam pertandingan olahraga apapun." Yasmine mengingat masa-masa kejayaan Dirga.


"Aku tahu... Tapi kamu harus makan meski hanya sedikit, agar tetap bisa menjaga Dirga."


"Aku merasa sangat berdosa memakan makanan ini, sedangkan anakku dalam keadaan seperti ini, tidak makan tidak minum." Yasmine menangis di pelukan Hartono.


"Semua akan baik-baik saja." Kata Hartono yang ikut menangis mereka saling berpelukan.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2