
MARI KITA MENAIKI MESIN WAKTU. AGAR TIDAK BERTELE - TELE.
****
Seperti biasa Nindya sedang menjadi buruh cuci di rumah kontrakannya yang kecil, ia mencuci di halaman belakang. Bulan demi bulan Nindya lalui dengan sendiri meskipun ada Rudi dan Tante Susi yang membantunya. Perutnya pun kini telah cukup besar dan mulai kesulitan untuk duduk dan berdiri.
Kandungan yang sudah memasuki bulan ke-9 dan sebentar lagi akan melahirkan membuat Nindya pun juga harus menyiapkan perlengkapan bayi.
Sebuah ketukan pintu mengharuskannya menghentikan kegiatannya mencuci. Perlahan Nindya berdiri dan masuk ke dalam rumahnya. Nafasnya terasa sangat begah.
Nindya pun membuka pintu, terlihat Rudi sudah berdiri sembari tersenyum.
"Rudi..."
"Ini dari mamah..." Kata Rudi sembari memberikan bungkusan makanan.
"Terimakasih..." Kata Nindya masuk dengan pelan dan menaruh bungkusan itu di atas meja.
"Mau jam berapa nanti beli perlengkapan bayi..." Tanya Rudi.
"Aku bisa pergi sendiri Rud, lagi pula aku cuma mau cari di dekat-dekat sini saja..."
"Aku antar, sekalian aku juga mau cari sesuatu." Kata Rudi seperti biasanya beralasan.
"Yasudah terserah kamu..." Canda Nindya.
Rudi pun tersenyum.
Kemudian Nindya menyelesaikan cuciannya dan bersiap, sedang Rudi sudah menunggu di teras dengan mobilnya terparkir di tepi jalan. Akhirnya mereka pun berangkat.
Mobil melaju ke sebuah pusat perbelanjaan, sebuah mall yang besar dan mewah, mall yang terkenal di kota metropolitan.
"Rud, aku sudah bilang kalau beli di pasar saja, harganya lebih murah."
"Ada harga ada rupa Nin..."
"Tapi uang ku pasti tidak akan cukup..."
"Tenang saja..." Kata Rudi sembari tersenyum.
Setelah mereka memasuki mall, Rudi menggandeng Nindya untuk menuju salah satu toko bayi.
"Ya ampun harganya mahal-mahal sekali, tapi bajunya bagus-bagus..." Kata Nindya sembari melihat dan memegang beberapa baju.
Rudi hanya tersenyum dan kemudian memasukkan beberapa baju dan perlengkapan lainnya ke dalam keranjang.
Setelah selesai di toko pertama, mereka melanjutkan membeli di toko yang lain.
Belanjaan pun sudah cukup banyak, dan Rudi sudah seperti kuli panggul, Nindya ingin membantu namun tidak diijinkan oleh Rudi.
Tiba-tiba Nindya menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa?" Tanya Rudi.
"Kaki ku sedikit kram..." Kata Nindya.
"Kalau begitu kita duduk dan makan saja dulu..." Kata Rudi.
__ADS_1
Ketika, Nindya hendak memutar tubuhnya dan kembali menuju restoran tanpa sengaja seseorang menyenggol tubuhnya dan seketika membuatnya terhuyung.
Namun dengan cepat pula orang itu menangkap nya sebelum terjatuh. Sedangkan Rudi yang membawa barang belanjaan melotot dan melongo sembari berteriak.
"Nin awas..."
Dengan perut yang besar dan berada di dalam pelukan pria itu, Nindya melihat wajah tampan yang mapan. Wajah itu kemudian membuatnya terasa sesak, seolah dadanya di hantam batu yang besar.
"Bagaimana bisa..." Batin Nindya.
Tak kalah terkejut, pria itu pun juga melotot pada siapa yang ia tabrak dan siapa yang ada tepat di depan matanya, serta siapa yang sedang ia peluk.
"Dirga..." Batin Nindya lagi.
"Nindya..." Ucap lirih pria itu setengah tak percaya.
Sesaat yang lalu, seperti biasa Dirga selalu berjalan cepat, di belakangnya ada beberapa orang petinggi mall. Hari ini Dirga melakukan inspeksi dadakan setelah setibannya ia di kota tersebut.
Sembari menjelaskan beberapa poin penting pada para petinggi Mall, Dirga berjalan cepat tanpa melihat ke arah depan. Sedangkan Nindya yang memutar tubuhnya juga tidak melihat ke arah lain.
"Tuan..." Kata sang pengawal.
Dirga pun tersadar dan melepaskan Nindya. Kemudian melihat perut buncit Nindya dan melihat seorang pria yang ia rasa adalah kuli panggul sedang melongo.
"Suruh mereka kembali bekerja." Bisik Dirga pada pengawalnya.
Joe pun menyuruh semua petinggi Mall untuk kembali bekerja sedang Dirga masih terus memandangi Nindya dengan perut buncit dan pakaian lusuhnya.
Nindya serba salah, tubuhnya kaku, dan kehilangan kata.
"Kamu tidak mengenaliku?"
Nindya menelan ludahnya, dan Rudi pun masih tak mengerti dengan masih membawa barang belanjaan di sekujur tubuhnya.
"Tidak..." Sahut Nindya tanpa menoleh ke arah Dirga.
Dirga hanya mengangguk pelan dan kemudian melepaskan tangannya perlahan.
"Apa tidak ada sesuatu yang harus di bicarakan?" Sahut Dirga lagi.
"Tidak ada..." Kata Nindya.
"Kamu mengenaliku... Nindya." Sahut Dirga.
"Apa aku harus bilang jika aku mengenalimu sebagai pembunuh orang tuaku? Lalu kita membicarakan tentang kematian kedua orang tuaku? Itu yang kamu mau Dirga?" Jawab Nindya menatap nanar pada Dirga.
Dirga meremas kedua tangannya, mengepal, dan kemudian menggertakkan giginya.
"Aku minta maaf untuk itu..."
"Ya, setidaknya ada kata maaf keluar dari mulutmu, meski di tempat seperti ini."
Nindya kemudian melangkah kan kakinya untuk pulang namun Dirga masih mencegahnya.
"Mari kita bicara Nindya..."
Rudi mulai merasa menjadi orang asing yang tidak mengerti apapun, namun yang ia tahu pasti pria itu ada sangkut pautnya dengan kehamilan Nindya.
__ADS_1
"Nindya bilang tidak mau bicara pada mu..." Sahut Rudi.
Namun Dirga mengacuhkan Rudi.
"Sudah berlalu Dirga aku tidak butuh pembicaraan yang tidak penting lagi bagiku..."
"Anak siapa yang ada di perutmu..." Tanya Dirga.
"Seperti yang kau lihat, aku belanja pelengkapan bayi dengan siapa.." Sahut Nindya.
Nindya melajukan langkah kakinya bersama Rudi untuk kembali ke rumah, begitu pun Dirga serta Joe yang mengikuti kemana Nindya akan pergi.
Setelah perjalanan panjang, Rudi menghentikan mobilnya, begitu pula Dirga yang juga berhenti tepat di belakang mobil Rudi.
Kemudian Rudi turun dengan mengeluarkan semua belanjaan perlengkapan bayi itu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Dirga masih berdiri, menunggu.
"Sebaiknya kamu pergi, aku tidak tahu kamu siapa, tapi aku rasa Nindya tidak menginginkanmu ada di sini." Ketus Rudi.
Dirga mengacuhkan Rudi dan memilih untuk masuk ke dalam rumah yang sangat kecil baginya, bahkan Dirga harus menunduk ketika melewati gawang pintu.
"Jika aku lihat dari gestur kalian, dia bukanlah ayah dari anak di perutmu." Kata Dirga.
Nindya hanya diam dan mengeluarkan barang belanjaan dari paper bag - paper bag besar.
"Nindya, bisa kamu bicara?" Kata Dirga mulai tidak sabar.
Nindya masih diam membisu tanpa membuka mulutnya sedikitpun dan tanpa melihat ke arah Dirga.
"Apa dia anakku?" Tanya Dirga lagi ragu.
Nindya masih diam mengacuhkan Dirga dan membenahi belanjaannya.
"Nindya!!!" Teriak Dirga tidak sabar.
"Kenapa?" Sahut Nindya santai dan mendongak melihat ke arah Dirga.
"Segitu saja kamu sudah berteriak dan tidak sabar." Kata Nindya lagi.
"Kamu tidak pernah benar-benar tulus meminta maaf Dirga, aku tahu kamu memang tidak akan pernah berubah, sampai aku harus kehilangan orangtuaku."
"Aku benar-benar menyesal Nindya, aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan dan menceritakannya semua padamu..."
"Tidak perlu, itu sudah lewat, dan aku sudah tidak ingin membahasnya, sekarang tinggal bagaimana caranya aku tidak berhubungan lagi denganmu."
"Nindya, aku mencari mu kemana-mana, dan sekarang kamu bilang tidak ingin berhubungan lagi denganku?"
"Lalu? aku harus terharu karena kamu mencariku? Kemudian memaafkanmu? Seperti aku memaafkan seorang anak kecil yang sudah melakukan kesalahan? Kamu bahkan bukan anak kecil Dirga, dan aku juga bukan wanita pemaaf."
"Beri aku kesempatan sekali lagi Nindya, aku mohon..."
Dirga berjalan mendekat dan berlutut di depan Nindya, ia putus asa dan pasrah dan memohon.
"Kesempatan? Apa kamu juga memberikan kesempataan padaku dan kedua orang tuaku ketika aku meminta dan memohon padamu saat itu Dirga? Apa kamu memberikan kesempatan pada orang tua ku saat mereka menangis dan berlutut?! Lalu sekarang kamu memaksaku untuk memberikanmu kesempatan? Apa kamu tahu Dirga, bagaimana harus hidup sendiri tanpa siapapun? Apa kamu tahu rasanya mengandung seorang anak? Aku bahkan tidak bisa makan karena terus-terusan muntah. Aku tidak bisa tidur dan tulangku terasa sakit semua, serasa semua tulang-tulangku patah. Aku merasa begah dan tidak dapat bernafas normal, aku tidak bisa bergerak bebas. Aku bahkan harus terjaga setiap malam karena kaki ku terasa kram dan teringat bagaimana orang tua ku sudah tidak ada karena ulahmu. Aku harus bekerja sebagai buruh cuci karena menghindarimu! Dan sekarang kamu dengan mudahnya berkata semua itu, dengan mudahnya memintaku untuk memaafkanmu!!! Dimana hati mu Dirga!!!"
Nindya menangis dan memukul-mukul tubuh Dirga dan pria itu hanya pasrah dengan semua pukulan Nindya. Dirga rela bahkan jika ia harus menerima ribuan pukulan beruntun dari Nindya asal Nindya dapat melampiaskan semuanya. Sedangkan Rudi masih di depan rumah Nindya mendengarkan semuanya.
~bersambung~
__ADS_1