
Dirga berdiri di samping Nindya yang tertidur di atas meja, pria itu mengambil amplop yang Nindya pegang dan memeriksanya. Amplop berwarna cokelat dengan cukup menggembung dan cukup tebal.
Di dalam amplop tersebut ada sebuah surat untuk amak dan apaknya dengan tulisan khas tangan Nindya yang rapi. Serta sejumlah uang untuk amak dan apaknya.
Dirga kemudian membaca isi surat tersebut, setelah selesai melipatnya kembali dan memasukkannya lagi ke dalam amplop, tak lupa ia juga menghitung jumlah uang yang ada di dalam amplop tersebut.
Dengan pelan Dirga menaruh kembali amplop itu, dan menggendong Nindya untuk di pindahkan ke ranjang, dengan gerakan lembut Dirga menyelimuti Nindya dan pergi.
Ayam peliharaan Pak Purbo telah bersenandung atau berkokok terus menerus, yang artinya pagi telah datang, sebelum sinar matahari menyembul Nindya sudah bangun dari tidurnya. Gadis itu terkejut bagaimana ia bisa berpindah tidur di atas ranjang.
"Aku semalam pindah sendiri? Jalan ke tempat tidur sendiri?" Gumam Nindya.
"Ah... Tidak tahu..." Sambar Nindya sembari bangun dan menuju kamar mandi untuk wudhu.
Setelah sholat subuh Nindya menuju dapur untuk membantu Mbok Winarsih, namun teriakan Dirga membuyarkan konsentrasinya ketika Nindya sedang mengiris sayuran.
"Nindya...!!!" Teriak Dirga.
Merasa namanya di panggil, Nindya dengan cepat melepaskan celemeknya dan berlari dengan tergopoh menuju kamar Dirga.
Dengan perasaan takut Nindya masuk dan menundukkan kepalanya, terlihat Dirga sudah memakai setelan bajunya, namun dasi masih menggantung di lehernya.
"Mulai hari ini, setiap pagi sebelum aku siap jangan pergi ke dapur!" Perintah Dirga sembari berkacak pinggang.
"Ba... Baik..."
Pagi ini, Nindya tidak ingin mencari masalah dan ingin menurut dengan setiap perkataan Dirga mengingat hari ini ia akan pergi ke rumah amak dan apaknya, Nindya takut jika membuat Dirga marah, pria itu akan membatalkan ijin nya.
"Pasang dasi." Perintah Dirga lagi.
Nindya hanya menggangguk dan maju dengan meraih dasi milik Dirga.
"Kamu bisu?" Kata Dirga.
"Ma... Maaf Tuan Dirga, baik saya akan memakaikan dasi anda. Ta.. Tapi saya tidak tahu caranya memakaikan dasi..." Jawab Nindya terbata.
Dirga menghela nafasnya, pria itu menunduk melihat Nindya yang juga tertunduk meremas jemari-jemarinya.
"Cari kursi kecil buat pijakan kaki mu." Perintah Dirga.
"Ba... Baik..."
Dengan secepat kilat Nindya mencari kursi kayu kecil, dan menaruh nya di depan kaki Dirga.
"Naik." Perintah Dirga lagi.
__ADS_1
Nindya yang hanya memiliki tinggi tubuh 160cm kalah jauh dengan Dirga yang memiliki tinggi tubuh 195cm, bahkan dengan kursi untuk pijakan kakinya pun Nindya masih harus berjinjit.
"Sa...Saya tidak tahu caranya Tuan..." Kata Nindya takut jika Dirga marah.
Akhirnya Dirga mengajari cara bagaimana menyimpul dasi, tangan kekar dan tangan mungil mereka saling bersentuhan. Kepala mereka kadang pun saling menyentuh, wajah mereka juga begitu dekat.
Hingga tanpa sadar saat Nindya sangat berkonsentrasi, kaki Nindya yang berjinjit terasa kram.
"Aaakkk!!!" Teriak Nindya.
Dirga dengan cepat menangkap tubuh Nindya yang hampir jatuh ke belakang, mendekapnya masuk ke dalam pelukannya.
"Bodohnya gak ketulungan, kalau kakimu kram kenapa jinjit terus! Pulang dari rumah orangtuamu, cari kursi yang lebih tinggi, cari yang bisa sejajar!" Kata Dirga sembari merebahkan Nindya di atas ranjang
"Ingat setiap pagi sebelum aku siap jangan pergi ke dapur, dan mulai hari ini kita akan tidur satu kamar!" Perintah Dirga sembari membenarkan ikatan dasi dan pergi meninggalkan Nindya yang terduduk di atas ranjang menahan sakit di kakinya.
Felix sudah menunggu di halaman depan, dan sudah mengecek mobil yang akan di gunakan Dirga.
"Ingat pesan ku semalam..." Kata Dirga pada Felix.
"Baik Tuan Dirga, saya tahu apa yang harus saya lakukan..." Jawab Felix dengan patuh.
Felix membukakan pintu mobil untuk Dirga, kemudian pria itu mengendarai mobilnya sendiri, memutar kemudinya dan pergi meninggalkan rumah setelah Pak Purbo membuka gerbangnya.
Beberapa jam berlalu setelah kepergian Dirga ke kantor, Nindya pun sudah siap untuk pergi dengan berpakaian cukup modis, karena Felix sudah menyediakan semua pakaian serta perlengkapan untuk Nindya ketika rumah akan di tinggali.
Perjalanan di tempuh tidak begitu lama hanya sekitar 35 menit. Mobil pun masuk ke dalam desa dengan pelan dan terparkir tepat di depan rumah Suka Gendang.
Nindya masih duduk terpaku di dalam mobil, tidak bergerak sedikitpun.
"Kalau tidak jadi kita bisa putar balik Nyonya..." Kata Felix.
"Jadi Tuan Felix, sebentar lagi... Saya baru ngumpulin keberanian." Jawab Nindya
Felix sedikit tidak nyaman setiap kali Nindya memanggilnya Pak.
Tidak sedikit yang memperhatikan mobil mewah milik Dirga, terlebih lagi pagi hari banyak Emak-Emak dan Ibu-Ibu rumah tangga sedang berbelanja sayur mayur di depan rumah Angga yang selalu buat nge'tem tukang sayur keliling.
Nindya mengambil tas nya, dan turun dari mobil, sepatu heels pendek dengan merk mewah terpasang di kakinya, dengan tas yang mewah pula ada di tangan Nindya, ia memakai apa yang sudah di siapkan di rumah.
Pakaian dress pendek berwarna biru muda tertiup angin pagi membuat pakaian itu terkibas pelan, mantel mahal berwarna merah hati juga membuat kesan penampilannya semakin glamour apalagi kulit Nindya yang putih bersih, entah kulit itu menuruni siapa padahal orang tuanya memiliki kuning sawo matang.
"Owalah Nindya yu..." Bisik Sumarni emak-emak yang sedang menggendong cucu nya.
"Ngapain dia ke sini..." Kata Juwarsih dengan tatapan sewot.
__ADS_1
"Mau pamer kali yu... Liat aja tuh dandanannya dah kayak artis..." Sahut Sartiyem selaku amak dari Angga yang juga tahu anaknya naksir Nindya sejak lama.
"Heleh... Mau dandan kayak artis, sekarang mau jadi cantik nggak ngaruh! Dulu pezina ya tetep aja murahan..." Sahut Juwarsih lagi.
"Lhaiyoo..." Para emak-emak menyahut bersamaan.
Nindya tidak menggubris perkataan semua emak-emak dan hanya memperdulikan apa yang kini menjadi prioritas utamanya. Sedangkan Felix mendengar semua itu pun merasa miris.
Nindya mengetuk pintu dan tak berapa lama bapaknya membukanya.
"Nin..." Kalimat bapak Nindya tercekat menahan sebongkah air yang sudah menggembung di mata keriputnya.
Wagiman melihat anak semata wayangnya berdiri di depan pintu rumah dan kemudian berpindah melihat seorang pria dengan pakaian setelan jas serba hitam berjaga di belakang Nindya lalu beralih pada mobil mewah yang di gunakan Nindya.
"Pak... Kok jadi kurus gini..." Kata Nindya memeluk apaknya yang semakin kurus.
Air mata Nindya mengalir dan meleleh dengan deras membasahi kedua pipinya.
"Nindya pergi belum lama kok bapak jadi tambah kurus gini, sehari makan berapa kali, makan pakai apa...?" Nindya nyerocos dengan berbagai pertanyaan.
"Duduk dulu..." Kata Wagiman mengarahkan anaknya untuk duduk.
"Bapak panggilin amakmu, dia masih di sawah panen pari nya Pak RT..." Kata Wagiman sembari mengusap air matanya.
"Jangan Pak... Nindya nggak mau bikin Emak marah atau sedih biar Nindya ngobrol sama apak aja."
"Tapi..."
"Nindya nggak lama Pak..." Sahut Nindya takut membuka luka lama amaknya dan tidak ingin membuat amaknya jatuh sakit atau sesuatu yang tidak Nindya inginkan.
"Warga kampung ngucilin apak nggak...?" Tanya Nindya.
"Yah.... Nggak usah kamu pikirkan hal itu Nin... Kamu gimana Nin? Kamu bahagia?" Tanya Wagiman balik mengalihkan pembicaraan.
Sedikit lama Nindya terdiam.
"Bahagia pak..." Kata Nindya tercekat lehernya, air matanya tak bisa di bendung.
Saat mengatakan kata bahagia leher Nindya seolah sedang di cekik seutas tali tambang dadung yang melilit leher serta dadanya.
"Apak lihat... Mobil mewah itu punya suaminya Nindya, Pak Dirga baik dan memperlakukan Nindya dengan penuh kasih sayang, lihat pakaian Nindya juga, semua serba mahal dan ber merk..." Sahut Nindya mengusap air matanya.
Felix berdiri tak jauh dari Nindya dan Wagiman, masih di ruangan yang sama dan dapat mendengar semua yang di katakan oleh Nindya.
__ADS_1
~bersambung~