
Felix masih berdiri di dekat Nindya, masih di ruangan yang sama dan mendengar semua penuturan Nindya.
"Syukurlah kalau kamu bahagia nak... Maafkan apakmu ini, dari kamu kecil belum bisa kasih kebahagiaan... Yang ada rumah malah seperti neraka buat kamu..." Wagiman terbungkuk lemah dan menghapus air matanya.
"Nindya bahagia dan senang punya amak dan apak..." Balas Nindya memeluk apaknya.
Tak berapa lama Nindya pun mengeluarkan amplop nya dari dalam tas yang sudah ia persiapkan.
"Maaf ya pak... Nindya nggak bisa lama, titip ini ya pak... Surat buat amak..." Kata Nindya menyerahkan amplop tersebut.
Setelah berpamitan Nindya memeluk lagi apaknya.
"Makan yang banyak ya pak, jangan ngerokok terus biar nggak tambah kurus, uang buat beli rokok bisa buat beli beras sama lauk, lagian nanti amak bakalan marah kalau uang nya buat apak ngerokok terus. Kalau capek langsung istirahat." Pesan Nindya pada apaknya.
"Iya Nak... Kalau kamu bahagia apak tenang nggak kepikiran siang malam sama nasib mu." Kata Wagiman dengan suara melengking menahan air mata.
Saat Nindya akan pergi Felix maju dan memberikan sesuatu dari saku jasnya.
"Ini titipan dari Tuan Dirga selaku suami dari Nyonya Nindya, beliau sedang sibuk di kantor dan meminta maaf tidak bisa ikut datang." Kata Felix menyerahkan sebuah amplop juga.
Nindya terkejut melihat hal itu. Pasalnya Dirga seolah membenci orang tua Nindya dan penasaran apa isi dari amplop tersebut.
"Ba... Baik sampaikan ucapan maaf dan terimakasih saya pada Tuan Dirga sudah menjaga anak saya, saya apaknya tidak becus merawat Nindya semoga Pak Dirga bisa menggantikan peran saya yang tidak bisa saya jalankan dengan baik..." Kata Wagiman menyesal.
Felix hanya mengangguk pelan.
"Paakk.... Nindya pamit..." Kata Nindya memeluk apaknya.
"Hati-hati nak..."
Tangan keriput Wagiman melepaskan Nindya pergi.
Para warga yang berkumpul sudah heboh,dan kini bertambah lebih banyak lagi di depan rumah Angga karena penasaran dengan penampilan baru Nindya yang lebih kece, semakin cantik dan glamour. Apalagi Nindya datang dengan sopir yang memiliki wajah tampan,dan tinggi semampai serta menggunakan mobil mewah mengkilat.
Mobil pun secara pelan melengsak pergi tanpa permisi atau klason pada warga, Felix sedikit menyimpan dendam pada para warga yang memiliki mulut tajam.
"Kita kemana lagi Nona Nindya..." Tanya Felix.
"Kita cari kursi dulu Tuan Felix, tadi kata Tuan Dirga saya harus cari kursi kecil."
"Biar saya yang carikan, anda bisa di rumah."
"Tidak, jangan Tuan Felix, saya tahu beliau punya banyak bawahan tapi beliau menyuruh saya yang beli, berarti harus saya yang beli."
"Tolong cukup panggil saya Felix, Nona..."
"Tapi..."
__ADS_1
"Anda tetap istri dari majikan saya..." Sahut Felix lagi melirik dari kaca spion kemudinya.
"Baik..."Jawab Nindya tak bisa menghindar lagi.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan sampailah mereka di supermarket furniture mewah dan cukup terkenal di kota.
"Temenin saya masuk ya... Maksud nya Felix." Kata Nindya, ini pertama kalinya ia masuk ke supermarket mewah.
"Baik Nona..."
Felix kemudian menemani Nindya masuk, sesekali Felix juga menunjukkan jalan, lalu menunjukkan arah jalan menuju furniture lainnya, serta tempat furniture barang yang lainnya lagi membantu Nindya mencari yang di inginkan.
"Yang mana ya kira-kira..." Kata Nindya takut salah beli mengingat Dirga adalah orang yang sangat perfect.
"Berapa tinggi badanmu Felix...?" Tanya Nindya pada Felix.
"190 cm..." Jawab Felix singkat.
"Berapa tinggi badan Tuan Dirga...?" Tanya Nindya lagi.
"Kurang lebih 195cm..." Jawab Felix lagi tanpa ekspresi.
Nindya kemudian mencari kursi kecil yang memiliki kira-kira tinggi 5cm.
"Kamu naik di sini." Kata Nindya.
"Aku mau ukur dulu, kata Tuan Dirga aku harus bisa sejajar sama beliau agar bisa mengikat dasi... Pliiss." Kata Nindya memohon dengan telapak tangan dilipat.
Felix hanya patuh dan menuruti permintaan Nindya, sedangkan Nindya bolak balik mencari kursi kayu yang bisa sejajar dengan tubuh Felix yang sekarang.
"Ya ampun cuma nyari kursi aja susah gini..." Kata Nindya yang mensejajarkan tubuh dan wajahnya pada Felix.
"Masih kurang tinggi... Kenapa aku manusia pendek banget sih, siapa yang aku turuni..." Keluh Nindya dengan kesal.
Melihat Nindya mengeluh membuat Felix tanpa sadar menarik ujung bibirnya seolah ingin tersenyum.
Kemudian Nindya mencari kursi lagi, butuh beberapa kali Nindya mensejajarkan dirinya dengan Felix terkadang Nindya juga tak sengaja menyentuh lengan Felix saat kursi bergoyang dan Felix juga memegangi Nindya agar tidak terjatuh setiap kali naik ke atas kursi ataupun turun.
Percobaan terakhir membuahkan hasil, akhirnya Nindya menemukan kursi yang pas untuk pijakan kakinya, apalagi bentuk kursi itu juga persegi panjang dan sedikit lebih besar membuat kaki nya cukup leluasa tidak takut terjatuh.
Saat akan turun Nindya terserimpet dengan kakinya sendiri, ia cukup lelah naik dan turun mencoba kursi, dengan sigap Felix turun dari atas kursi kecilnya dan menangkap Nindya kemudian memeluknya agar tidak jatuh. Membuat Wajah dan mata mereka saling pandang.
"Maa.. Maaf..." Kata Nindya menarik diri
"Hati-hati Nyonya..." Sahut Felix membenarkan jas nya.
Saat itu juga seorang pria melihat adegan tak sengaja itu dan menghampiri Nindya, Felix hanya memperhatikan dengan tatapan terkejut, dengan cepat pria itu menarik lengan kiri Nindya menjauh dari Felix.
__ADS_1
"Dino!" Alangkah terkejutnya Nindya bertemu Dino di tempat yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
Pada akhirnya Dino mengajak Nindya makan siang di restoran setelah melalui pembicaraan yang panjang, berbelit dan penuh dengan tawar menawar dengan Felix.
"Ada yang kamu sembunyiin dariku kan..." Kata Dino dengan raut wajah tegas.
"Apa...?" Suara Nindya bergetar karena cemas.
Di depan Nindya, Dino sedikit banyak berfikir dalam diamnya. Namun pada akhirnya ia memutuskan tidak ingin lagi mengulik dan menggali feelingnya.
"Oke, lebih baik jangan katakan..." Kata Dino berusaha tersenyum dan menarik nafas panjang.
Melihat Felix orang kepercayaan Dirga berada di sekitar Nindya dan melihat bagaimana Nindya berdandan, pakaian, sepatu, dan juga tas mahal yang Nindya jinjing, lalu Nindya membeli perabotan, apalagi melihat wajah serta perubahan tubuh Nindya serta aura Nindya.
Dino bisa membaca dari semua perubahan Nindya, seolah Dino bisa tahu saat Nindya masih perawan dan saat Nindya yang sekarang.
"Lebih baik tetap seperti ini..." Sahut Dino lagi menyesap minumannya dengan acuh, memandang ke arah lain.
"Aku... Sudah tidak bisa lagi bisa menyembunyikan ini semua dari kamu kan." Kata Nindya tersenyum getir.
Kali ini Nindya ingin dan sudah siap mengakuinya, agar ia juga bisa melepaskan bebannya, bisa merasa lega, tidak ada kecemasan atau rasa bersalah karena membohongi Dino. Apalagi setiap kali melihat Dino, ia merasa sedang membodohi Dino dan itu adalah dosa besar. Baginya dino adalah pria pertama yang memperlakukannya dengan baik.
"Kamu pasti juga akan menghina aku sebagai pezina." Sahut Nindya kembali.
"Sudah Nindya... Nggak usah di bahas lagi." Kata Dino.
"Aku akan jujur sekarang..."
"Stop Nindya... Jangan kamu lanjutkan..." Pinta Dino lagi masih menyedekapkan tangannya.
"Kejadiannya sangat cepat Dino... Maafin aku... Aku juga tidak tahu semua akan jadi seperti ini..." Nindya menunduk dan meremas jarinya.
"Nindya, aku bilang jangan, tidak perlu kamu jelaskan lagi..." Pinta Dino lagi.
Ketika Nindya siap mengakui semuanya di depan Dino yang berulang kali mengucapkan rasa suka dan cinta padanya, namun justru kini Dino tidak ingin mendengarnya.
"Aku sudah menjadi istri siri....."
"PYAARRR!!!"
Nindya belum menyelesaikan kalimatnya namun dengan cepat Dino melempar gelas di hadapannya.
Gelas itu pecah berserakan di atas lantai, dan membuat semua pengunjung melihat pada tindakan Dino.
__ADS_1
~bersambung~