TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Siapa pelakunya?


__ADS_3

Beberapa minggu hampir sebulan penuh sudah berlangsung dengan baik dan penuh ketenangan, karena Dirga serta Dino berkunjung di saat jam yang tidak berbenturan, mereka di sibukkan dengan pekerjaan dan perusahaan mereka masing-masing. Nindya pun juga sibuk mengurus Zidan.


"Ting Tong!"


Terdengar suara bel pintu.


"Ting Tong!"


"Siapa ya... Apakah itu para pengagummu Zidan." Kata Nindya lirih dan tersenyum bertanya pada Zidan, sembari menaruh Zidan kembali di box.


Saat itu Nindya sedang menyusui Zidan, dan ia pun beranjak dari kamar menuju pintu, melihat siapa yang bertamu.


Merasa asing dengan pria bertopi yang ada di depan apartmennya, lantas Nindya pun bertanya melalui monitor.


"Siapa?" Tanya Nindya.


"Ada paket untuk anda Nona."


"Paket? Dari siapa?"


"Tuan Dirga."


"Dirga mengirim paket?"


Nindya pun membuka pin apartmen, terlihat seorang pengantar paket yang memakai topi serta masker.


"Anda harus tanda tangan Nona." Kata pria itu memberikan kertas dan paketnya.


Nindya pun menerima paket itu dan menandatangani. Setelah mengembalikan bukti tanda tangan Nindya berbalik dan membawa paket tersebut.


Nindya meninggalkan pintu itu, dan sebelum pintu menutup, sang pria pengantar paket menahannya menggunakan kakinya, kemudian ia masuk dan perlahan berjalan mendekati Nindya yang sedang berjalan menuju kamar anaknya, Nindya sedang sibuk memperhatikan paket tersebut.


Tepat dari belakang sang pria menyekap mulut dan hidung Nindya membuat Nindya melotot pada pria tersebut berusaha menarik maskernya namun ia lebih dulu jatuh pingsan.


Beberapa orang yang berpakaian sama pun juga ikut masuk, para pria itu memakai sarung tangan lengkap dengan masker dan topi.


Beberapa jam kemudian...


"Ting Tong!"


"Ting Tong!"


"Ting Tong!"


Berulang kali bel apartmen berbunyi dan sang tamu sudah tidak sabar hingga wajah pria itu di liputi oleh kecemasan yang sudah tidak bisa lagi di sembunyikan.


"Ting Tong!"


"Ting Tong!"


"Ting Tong!"


Perlahan Nindya melenguh, samar-samar suara bel pintu mengetuk telinganya.


Nindya mendesahh karena merasa pusing dan pening. Matanya yang sipit sekuat tenaga ia buka karena mendengar suara bel pintu. Dengan sekuat tenaga ia bangun dari sofa dan menuju arah pintu.


Nindya menekan tombol dan pintu pun terbuka, dengan cepat Dino masuk karena merasa cemas.


"Kenapa lama sekali, apa kamu tertidur Nindya?" Tanya Dino.

__ADS_1


"Tidak... Tadi..."


Nindya kembali mencoba mengingat-ingat sesuatu, ia memutar otak dan membuka kembali rekaman otaknya, seperti ada yang terluput darinya.


"Zidan!!!" Teriak Nindya melotot dan berlari ke arah kamar Zidan.


"Zidan!!!"


"Dimana Zidan!! Dimana anakku."


Nindya berteriak-teriak melihat kamar itu kosong.


Dino yang mengikuti Nindya pun juga kebingungan, Dino mencoba mencari andai Zidan terjatuh atau lupa Nindya membaringkan Zidan di suatu tempat.


"Pengantar paket itu!!! Pasti dia!!! Ya tuhan!!!"


Nindya semakin panik dan menangis histeris.


"Zidan...!!!"


"Tenang Nindya, tenang. Ceritakan pelan-pelan agar aku mengerti." Dino menangkupkan tangannya di wajah Nindya.


"Tadi ada orang datang, dia bilang mengantar paket dari Dirga, aku tidak tahu tiba-tiba aku pingsan dan... Dan...." Mata serta pikiran Nindya sudah tidak bisa tenang.


Felix dan Nuel yang sejak tadi sibuk mencari hingga di luar apartmen pun kembali dengan menyesal dan menggelengkan kepala.


"Periksa semua CCTV, periksa semua yang keluar masuk bangunan apartmen!" Kata Dino pada Felix serta Nuel.


Nindya masih menangis, nafasnya terasa sesak, sedangkan Dino perlahan mengajak Nindya untuk duduk. Dino berjongkok di depan Nindya yang sedang duduk lemas sembari menangis.


"Aku akan menemukannya. Aku janji." Kata Dino mencium tangan Nindya masih berlutut di depan Nindya.


Tak berapa lama Felix datang lebih dulu.


Seorang resepsionis wanita pun datang bersama Nuel.


"Saya... Melihat beberapa pria membawa bayi dan masuk ke dalam mobil." Kata sang resepsionis.


"Kenapa kamu tidak mencegahnya!!!" Teriak Nindya sontak berdiri sembari mencengkram kerah seragam sang resepsionis.


"Ma.. Maafkan saya Nyonya, maafkan saya. Saya tidak berpikir aneh, karena sepanjang hari apartmen tidak ada yang melapor kehilangan bayi. Maafkan saya, saya sangat menyesal." Kata sang resepsionis.


Dino pun menenangkan Nindya kembali untuk duduk, memeluk tubuh lemah Nindya.


"Siapa yang berjaga hari ini, periksa mereka semua apa mereka juga berkomplot." Perintah Dino.


Kemudian Felix maju dan menyerahkan tablet bermerk apel kepala Dino. Sebuah rekaman CCTV yang di terima memperlihatkan kawanan pria memang membawa bayi milik Nindya keluar apartmen.


Berulang kali Dino melihat video tersebut dan memperbesar, Dino mencermati nya dengan seteliti mungkin, hingga celah-celah kecil yang memungkinkan memperlihatkan ciri-ciri tertentu, Dino berulang kali me-replay dan kemudian menghentikan video tersebut, Dino yakin pasti ada celah dari mereka.


"Hubungi Dirga, kita harus tahu posisi nya sekarang. Lalu kerahkan semua pengawal, dan bayar sebanyak-banyaknya orang untuk ikut membantu! Kita belum bisa menghubungi dan melapor pada polisi karena belum 24jam." Perintah Dino.


Nuel berusaha dan berulang kali mencoba menghubungi Joe serta Dirga namun akhirnya pun Nuel menggelengkan kepalanya. Sedangkan Felix masih mengkoordinir para pengawal melalui ponselnya.


"Apa Dirga yang melakukannya?" Tanya Nindya pada Dino, dan menunggu sebuah jawaban.


"Apa Dirga yang menculik Zidan!!" Teriak Nindya lagi, karena Dino masih tidak memberikan jawaban.


"Aku akan membunuh Dirga, aku janji aku akan membunuhnya!!!" Teriak Nindya berulang kali hingga histeris dan akhirnya Nindya lepas kontrol kemudian tubuhnya melemah dan pingsan kembali.

__ADS_1


Dino dengan cepat menangkap Nindya dan meraih ke dalam pelukannya.


"Nindya..."


Dino menepuk pelan pipi Nindya.


"Hubungi dokter, sekarang!" Perintah Dino.


Kemudian Dino menggendong Nindya masuk ke dalam kamar dan membaringkan Nindya.


"Ya tuhan, bangun Nindya..."


Dino berulang kali menggosok telapak tangan Nindya, kemudian mencari minyak dan sesuatu yang lain agar Nindya terbangun.


"Nindya ku mohon, bangunlah..."


Beberapa menit kemudian seorang dokter pun datang, Dino memeprsilahkan sembari ia menunggu dengan kecemasan yang luar biasa, dokter itu memeriksa Nindya dan memberikan suntikan pada Nindya.


"Bagaimana kondisinya dokter?" Tanya Dino dengan cemas.


"Syock dan efek samping dari obat bius tuan..." Kata Dokter itu sopan dan menundukkan kepalanya.


"Sebentar lagi akan bangun saya sudah menyuntikkan obat pada Nyonya, saya permisi." Kata sang dokter.


Dino duduk di samping Nindya, sembari menggenggam dan menciumi tangan Nindya.


Tak berapa lama pun Nindya sudah bangun dan jauh lebih tenang karena suntikan obat dari dokter, kemudian perlahan Nindya duduk dan melihat ke arah Dino, Nindya menangis sembari menangkupkan tangannya pada wajahnya.


Dino memeluk Nindya dan mencium kedua mata basah Nindya.


"Aku janji padamu Nindya, aku akan menemukan Zidan." Kata Dino.


Kedua mata Dino mulai memerah, ia paling tidak bisa melihat Nindya menangis apalagi kembali terpuruk.


"Zidan..." Kata Nindya lirih memanggil anaknya sembari menangis di pelukan Dino.


Tak berapa lama Felix pun datang dengan langkah panjang dan cepat, ia langsung menuju kamar Nindya, dimana pintu kamar sudah terbuka.


"Tuan kita menemukannya." Kata Felix.


"Kau menemukannya?" Dino mengulangi nya lagi.


"Dimana, dimana mereka membawa Zidan?" Nindya bangkit dan turun dari ranjang mencengkram kedua lengan Felix.


Mata Nindya merah, sembab, ia mendongak bertanya pada Felix.


"Lokasi mereka ada di dekat pantai tepat di perbatasan sebelah utara kota."


"Secepatnya kita kesana sekarang." Perintah Dino.


"Aku ikut dengan kalian."


"Tidak Nindya, aku akan menghubungi Rudi agar dia datang dan menjagamu."


"Aku tidak mau Dino, bagaimana bisa kamu menyuruhku berdiam diri di sini, aku hanya akan mati tersiksa karena menunggu, dan sakit tersiksa pikiranku sendiri tanpa melakukan apapun!" Kata Nindya sembari menghapus air matanya.


Setelah beberapa menit Dino berfikir dan memandangi Nindya akhirnya Dino mengangguk pelan.


"Baiklah." Kata Dino.

__ADS_1


Kemudian mereka pun berangkat dan menuju ke arah lokasi tersebut.


~bersambung~


__ADS_2