
Ulang Tahun Zidan Usia 1tahun...
Pagi itu, adalah hari spesial bagi Zidan. Perayaan kecil-kecilan di pesta ulang tahun Zidan yang tidak terlalu meriah terlaksana dengan baik dan lancar.
Semua bergembira merayakan ulang tahun Zidan yang semakin pintar dan sudah berjalan.
Semua orang hadir bahkan kakek dan nenek Zidan, kecuali satu orang Dirga sang ayah kandung.
Nindya masih terus memberikan video dan foto-foto Zidan melalui pesan singkat, dan seperti biasa pula Dirga akan dengan cepat membacanya.
"Papa selalu menyayangi mu Zidan. I love you."
Dan pesan itu jugalah yang selalu Nindya terima.
Namun berbeda dengan hari ini, sudah seharian Dirga tidak membacanya. Nindya mengirimi pesan pada pagi hari, dan kini sudah hampir petang bahkan di baca pun tidak.
"Apa Dirga tidak berniat pulang?" Bisik Yasmine pada suaminya.
"Nanti akan ku hubungi." Sahut Hartono.
"Meskipun mereka sudah bercerai, tapi Dirga tidak boleh begitu saja abai pada anaknya." Kata Yasmine memasang wajah sedih dan iba pada Zidan.
Tak berapa lama terdengar suara ponsel berdering.
Nindya menghampiri ponselnya dan menekuk alisnya.
"Felix?" Kata Nindya lirih.
"Ma... Ma... Ma... " Terdengar Zidan memanggil Nindya.
"Nindya cepatlah kemari, Zidan sedang ingin menunjukkan sesuatu..." Sahut Dino dengan teriakan yang antusias.
"Iya... Mama datang." Sahut Nindya dan kembali meletakkan ponselnya, ia membiarkan panggilan tersebut.
Namun, ponsel Nindya terus saja berbunyi.
"Siapa yang menelfon?" Tanya Dino.
"Felix..." Sahut Nindya.
Hartono serta Yasmine masih asik bermain dengan Zidan.
__ADS_1
"Angkat saja Nindya, siapa tahu dia ingin mengucapkan selamat pada Zidan." Sahut Yasmine.
Kemudian Nindya pergi mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
"Syukurlah, anda mengangkatnya, Tuan Dirga mengalami kecelakaan, ini sangat parah, saya mohon cepatlah datang."
Seketika ponsel yang ada di genggaman tangan Nindya terjatuh, Nindya tidak lagi bisa mencerna apa yang Felix katakan, Dino melihat tatapan kosong Nindya dan beranjak dari kamar Zidan.
"Ada apa Nindya?" Tanya Dino.
Namun suara Dino seolah tidak terdengar di telinga Nindya.
Yasmine menggendong Zidan, dan Hartono juga datang menanyakan hal yang sama.
Dino mengambil ponsel milik Nindya, dan berbicara pada Felix seketika raut wajahnya pun gusar.
Nindya mulai sadar dan panik, tubuhnya gemetar hebat. Mereka semua segera menuju rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit yang dimaksud, terlihat Felix masih menunggu di depan kamar operasi.
"Bagaimana bisa terjadi!" Hartono meremas jas milik Felix.
Nindya masih menangis, sedangkan Zidan berada di apartmen dengan pengasuhnya.
"Tuan Dirga pulang dari rapat di beberapa negara, kemudian langsung terbang dari London karena berniat memberikan kejutan pada Zidan di hari ulang tahunnya, saya sudah katakan akan menyetir, mungkin Tuan Dirga terlalu lelah dengan penerbangan yang cukup lama, atau terkena jet lag, saya mengendarai mobil di belakangnya namun kecepetan mobilnya terus bertambah dan menabrak beton pembatas jalan."
"Dirga..." Sahut Yasmine, tubuhnya lemah.
"Apa ini real kecelakaan?" Tanya Hartono.
"Polisi masih menyelidikinya tapi sebelumnya para pengawal sudah mengecek mobil milik Tuan Dirga sebelum di gunakan, dan mobil tersebut dalam keadaan aman serta normal."
Nindya tidak bisa lagi menahan segala kegusaran hatinya. Air matanya terus saja berderai, bahkan kakinya sudah tidak kuat untuk berdiri.
"Kita duduk..." Kata Dino memapah Nindya.
Operasi berlangsung hampir semalaman, kemudian lampu operasi pun padam pertanda Dokter sudah selesai. Semua orang berdiri dan panik serta tegang menunggu apa yang akan dokter sampaikan.
Para dokter keluar, salah satu di antara nya membuka maskernya.
"Kami sangat berusaha semaksimal mungkin, kondisi pasien masih sangat kritis, karena banyak benturan di organ vital kami akan memindahkan pasien di ruang ICU."
__ADS_1
Yasmine menangis dalam pelukan Hartono, sedangkan Nindya merasa sangat bersalah dengan segala yang telah ia putuskan dalam hubungannya bersama Dirga.
Perlahan Nindya pergi dan memilih untuk sendiri, ia pergi keluar Rumah sakit mencari udara, di sebuah taman yang cukup sepi.
Nindya duduk di kursi panjang dan menangis. Lampu remang-remang berada tak jauh dari Nindya memberikan suasana malam yang remang-remang dan sunyi.
Sedangkan Dino datang membawakan minuman hangat untuk Nindya.
"Minumlah." Kata Dino memberikannya sembari duduk di sebelah Nindya.
"Aku tidak haus." Sahut Nindya.
"Dia akan baik-baik saja." Kata Dino.
"Aku juga berharap begitu." Kata Nindya masih menangis dan menghapus air matanya.
"Seandainya aku tidak meminta perceraian dia tidak akan pergi ke luar negeri dan hal ini tidak akan terjadi."
"Apa sekarang kau menyesal?"
"Entahlah... Aku hanya merasa, sudah biasa tersakiti atau terluka, dan sekarang melihat orang lain terluka dan itu karena diriku, aku merasa sangat bersalah." Nindya menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Hei..." Dino menarik tangan Nindya, menggenggamnya dan memandang wajah Nindya.
"Lihat aku Nindya." Kata Dino sembari menyentuh dagu Nindya.
"Kamu tidak bersalah apapun dalam hal ini, semua ini adalah murni takdir."
"Tapi..."
"Yang sekarang harus kamu pikirkan adalah, Dirga akan baik-baik saja, dia akan sembuh dan akan seperti sedia kala lagi, sekarang kita lihat Dirga dan berikan dia doa serta semangat."
Nindya semakin menangis.
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa menemuinya." Kata Nindya sesenggukan.
"Dia pasti sangat berharap kamu ada di sampingnya Nindya, temui dia." Kata Dino.
Nindy menangis dan Dino pun memeluk tubuh Nindya yang terguncang.
"Aku minta maaf..." Kata Nindya.
__ADS_1
"Ini semua bukan salahmu, kamu tidak perlu merasa bersalah." Dino membelai punggung Nindya.
~bersambung~