
Entah ini sebuah kutukan atau sebuah hukuman dari Tuhan, semua orang bahkan Nindya serta Dino tidak pernah membayangkan hal yang paling tidak mereka inginkan akan kembali terjadi, mereka tidak mengerti mengapa kisah dan cerita mereka menurun pada sang anak.
Jika boleh memilih, mereka ingin mewariskan sesuatu yang lebih berharga daripada mewariskan sebuah kisah masa lalu yang pahit yang kini juga di alami oleh anak-anak mereka.
"Aku mengutuk keluarga Hartono Jaelani, aku mengutuk setiap anak dan cucunya, sampai kapanpun keluarga itu tidak akan pernah menemukan kedamaian!!!"
Itulah pesan terakhir Maryam Husein di pengadilan ketika sang hakim menanyakan padanya setelah hakim menjatuhkan hukuman mati, apakah Maryam Husein memiliki pesan terakhir yang ingin di sampaikan.
20 TAHUN KEMUDIAN
Drt... Drrtt.... Drrtt.....
Ponsel berulang kali bergetar di atas meja menimbulkan bunyi dari gerak gesekan.
Sang pemilik ponsel masih terlelap di balik selimut tebalnya berwarna silver. Punggung berotot yang memiliki kulit putih, tubuh yang jelas terlihat begitu tinggi dengan kaki panjang sedang tidur pada posisi tengkurap.
Pria itu tidur tanpa mengenakan pakaian, ia hanya memakai boxer dimana kini selimutnya sudah tidak menutupinya lagi.
Tangan kanan yang kekar kemudian meraih ponsel yang ada di atas meja, namun pria itu masih tengkurap dengan menutup mata.
"Hm..." Jawab pria tersebut dengan suara parau yang seksi.
"Tuan Zidan jangan lupakan hari ini ada acara makan malam di mansion utama bersama keluarga besar."
Terdengar suara yang tidak asing di telinga Zidan, suara rendah seorang pria yang sudah cukup tua.
"Aku akan datang nanti malam, terimakasih sudah mengingatkanku Philip."
Zidan mengakhiri panggilannya, dan menaruh ponselnya kembali ke atas meja.
Mata indah yang memiliki tatapan tajam itu kemudian terbuka sedikit demi sedikit. Zidan kemudian melenguh, dan duduk di tepi ranjang.
Apartmen yang cukup mewah dan memiliki nuansa serba abu-abu sudah menjadi tempat hunian Zidan selama bertahun-tahun.
Hari ini Zidan memilih untuk libur dari perusahaan dan akan pergi golf dengan teman-teman bisnisnya.
__ADS_1
Ya, dia adalah Zidan Akhtar Jaelani. Kini usianya telah dewasa, pria matang 26 tahun dan memimpin sebuah perusahaan besar.
Zidan menjadi sosok pria yang tampan dan juga berkharisma. Dia sangat mirip dengan ayahnya Dirga.
Perlahan kaki telanjang yang kuat menapaki lantai kamar mandi dan tangan penuh otot memutar kran air shower dan pria itu mulai membasahi tubuhnya dari kepala hingga kaki.
Tubuh yang benar-benar sempurna, tinggi dan proporsional.
*****
Beberapa wanita cantik berdiri dan memberikan pelayanan terbaik mereka, para wanita itu adalah caddy golf.
Zidan serta teman-teman bisnisnya sedang bermain golf dan itu bukan hanya sekedar bermain namun juga di sisipi pembicaraan-pembicaraan tentang bisnis.
"Kamu bisa membeli beberapa juta ribu lot saham milik temanku, fundamentalnya cukup bagus Zidan." Kata kerja Zidan.
"Aku tidak tertarik."
Zidan bersiap memukul bola golf, dengan kakinya yang sudah berpijak dengan salah satu menjadi porosnya, kemudian Zidan menganyunkan stick golfnya dan memukul bolanya.
"Aku selesai di sini, ku kira kita akan bermain tapi aku paling tidak suka saat aku sedang ingin main seseorang selalu ingin mengambil kesempatan untuk membicarakan tentang bisnis. Aku paling tidak bisa di pengaruhi."
Zidan melemparkan Stick golfnya di atas rerumputan dan pergi.
Hari makin sore dan sebentar lagi malam, Zidan sudah bersiap untuk pergi ke mansion utama dengan menggunakan pesawat jet pribadinya. Zidan sudah duduk dengan santai di kursinya dan memainkan ponselnya entah apa yang membuat pria dingin itu sedikit tertarik dan mengetik beberapa kata cukup banyak.
"Ibu tidak akan memaafkanmu jika kamu tidak datang untuk makan malam, apa kamu begitu sibuk hingga beberapa kali melewatkan acara keluarga!"
Dan itu adalah pesan dari sang ibu, hanya ibunya yang dapat membuat pria dingin itu tersenyum.
"Pekerjaanku sangat banyak ibu, anakmu adalah pimpinan perusahaan besar, banyak tanggung jawab yang ada di bahunya, memikirkan semua nasib karyawannya."
Zidan membalas pesan itu dengan tersenyum.
Pesawat sudah mengudara 2 jam lebih dan akhirnya Zidan sampai di kota kecil yang masih sangat alami. Namun saat itu langit begitu mendung dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Guntur-guntur sudah sangat tidak tenang, dan sebentar lagi hujan akan segera mengguyur kota kecil itu.
__ADS_1
"Selamat datang tuan Zidan, mobil anda sudah siap."
Kata seseorang yang menjemputnya
"Terimakasih aku akan menyetir sendiri."
Zidan meraih kunci dari tangan sang pengawal. Angin kencang yang dingin menerpa tubuh dan wajah Zidan, pria itu kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk sejenak. Zidan mengeluarkan ponselnya dan memeriksa pesan.
Ada begitu banyak pesan di ponselnya, kebanyakan dari para pebisnis dan salah satunya dari seorang wanita yang pernah bertemu tanpa sengaja dengan Zidan di suatu acara pembukaan galery seni milik teman Zidan.
"Dasar wanita liar." Kata Zidan.
Tak berapa lama hujan pun turun berkeyorokan dengan begitu derasnya. Saat itu sudah malam hujan pun mengguyur mobil Zidan. Kilat menyambar-nyambar di langit malam yang kelam.
Suara gemuruh semakin menderu dan terdengar cukup mengerikan di telinga Zidan, pria itu kemudian mengemudikan mobilnya pelan.
Sepanjang jalan kota kecil itu di tumbuhi pohon-pohon bercabang yang cukup rimbun, dimana angin pun sedang menerpa cukup kencang membuat dahan-dahan pohon saling bersuara.
Suasana malam yang hujan dengan sedikit badai cocok untuk para pasangan manusia dan juga hewan yang sedang dalam birahii dan mencari kehangatan.
Tak berapa lama Zidan sampai di mansion besar yang terlihat dari ujung perjalanannya, Mansion yang di bangun sedikit lebih tinggi di atas bukit dari jalan yang ia lalui.
Sembari menghembuskan nafas panjang, dan menunggu, gerbang besar yang tinggi dan kokoh pun terbuka sedikit demi sedikit.
Kilatan-kilatan cahaya yang saling menyambar menyinari Mansion mewah yang ada di depan sana. Guntur-guntur masih membahana di atas langit bagaikan tembakan-tembakan meriam dalam peperangan, di tambah dengan hujan yang sangat lebat.
Entah sudah berapa lama Zidan tidak pulang ke Mansion utama. Pria itu kemudian memarkir mobil sport mewahnya di halaman dan mematikan mesin mobilnya. Zidan memilih memarkirnya di halaman hanya untuk mendengarkan hujan yang jatuh di atas mobilnya.
Pria itu cukup menyukai air hujan, karena ia pikir berada di bawah guyuran air hujan cukup memberikan ketenangan di dalam batinnya.
Malam ini seperti biasanya,keluarga Hartono Jaelani meminta anak dan cucunya berkumpul.
Zidan kemudian tersadar bahwa ia sudah cukup lama duduk di dalam mobil, ia pun keluar dari mobil dan menembus hujan malam itu.
~bersambung~
__ADS_1