
Perjuangan Nindya belajar agar bisa mengikat dasi tidak sebentar, apalagi dengan segala omelan-omelan Dirga. Di tambah sekarang Dirga justru menggodanya dengan tindakan-tindakan yang membuat Nindya resah.
Jari Dirga mulai sedikit menurunkan underwear milik Nindya, agar tangannya dapat masuk dan mengusap serta bermain di area paling sensitif, membuat tangan Nindya yang masih sibuk mengikat dasi pun gemetar, tubuhnya mulai tidak bisa diam.
Sesekali Nindya terjatuh menopang tubuhnya menggunakan tangan di bahu Dirga, dalam angannya ingin sekali ia bersandar pada Dirga, apalagi tubuh mungil itu merespon dan bergerak sendiri untuk mengikuti irama gesekan tangan Dirga.
Pikiran Nindya mulai buyar, konsentrasinya mulai kacau, ia menggigit bibirnya agar tidak bersuara. Keringat Nindya mulai mengucur, meski ada pendingin ruangan namun alat itu tidak bekerja sama sekali untuk Nindya.
Melihat ekspresi Nindya yang menahan agar tidak goyah konsentrasinya, sedang tubuh Nindya juga sudah semakin tidak bisa berbohong membuat Dirga menyeringai.
Di bawah tekanan tempramen Dirga, dan di bawah sana juga di permainkan oleh Dirga membuat Nindya semakin diaduk perasaan serta otaknya.
"Kalau sampai yang ini gagal lagi, jangan harap kamu akan lolos sampai besok pagi..." Bisik Dirga.
"Dasar tidak punya hati, tidak punya perasaan, bagaimana aku bisa konsentrasi kalau tanganmu saja tidak mau diam, salah di maki tapi kamu sendiri membuyarkan konsentrasiku!!!" Umpat Nindya dalam hati karena kesal pada Dirga.
Nafas Nindya semakin ngos-ngos an manakala Dirga mempercepat gerakannya. Semakin cepat dan semakin cepat membuat Nindya tidak tahan, Nindya menyerah dan ambruk di tubuh Dirga.
Kedua tangan Nindya bertumpu di bahu Dirga, sedang pria itu masih mempermainkan Nindya.
"Lepaskan suara mu..." Bisik Dirga.
Mendapat lampu hijau dari Dirga membuat Nindya merasa lolos dari sebuah penjara tekanan mental, ia kemudian mengeluarkan suaranya yang merdu saat jari Dirga mulai melengsak masuk dan mempercepat gerakannya.
Nindya tak berdaya, tubuhnya semakin berkeringat, kakinya lemah dan lemas, namun juga kadang menegang, sedang tangannya masih merangkul dan melilit leher Dirga dengan bertumpu di bahu kekar Dirga.
"Tuan Dirga hentikan.nn..." Kata Nindya terengah sembari menutup mata dan membenamkan wajahnya di bahu Dirga.
Nindya mencengkram tengkuk Dirga, kadang juga meremas rambut belakang Dirga.
Dirga semakin liar, semakin mempercepat ritme gerakan jarinya, dan tak berapa lama tubuh Nindya bergetar hebat, ia mencengkram dan memeluk Dirga, merantai leher Dirga dengan sangat erat, untuk pegangannya sendiri ketika tubuhnya menegang.
Suara Nindya melenguh merdu mengisi kamar luas itu, suara yang cukup keras dan menggema di ruangan kamar.
__ADS_1
Tanpa sadar pun tubuh mungil itu mendesak dan memeluk rapat Dirga. Entah bagaimana pun terlihat pasti Nindya akan malu ketika moment itu di rekam dan di perlihatkan pada dirinya.
Dirga menggendong Nindya yang menyerah pada permainan kecil itu, dan merebahkan tubuh Nindya di atas ranjang. Pria itu membuka kemejanya dan mulai menyesap leher Nindya.
Detik demi detik dan menit demi menit Dirga menyentuh setiap lekuk tubuh Nindya, pancaran sinar matahari yang terang membuat pemandangan itu begitu indah di mata Dirga.
Mata sayu Nindya, wajah yang penuh harap, suara nyaring Nindya yang kadang mendesahh atau menjerit ringan atau bahkan menjerit merdu penuh tekanan membuat Dirga menikmati moment itu. Dirga masih terus membuat Nindya semakin panas.
"Kamu mau lebih?" Tanya Dirga.
Nindya tidak lagi bisa mengontrolnya, ia hanya menggangguk sembari memejamkan matanya tatkala sesuatu di bawah sana sudah siap menekan dan masuk.
"Drrtt... Drtt..."
"Drrtt... Drrtt..."
Panggilan telfon membuyarkan Dirga ketika pria itu melirik hapenya, dan bertanya siapa yang menelfonnya berkali-kali, kontak nomor bertuliskan Feronika tanpa henti menghubunginya, dengan cepat Dirga mengambil hape nya.
"Ada apa!" Kata Dirga dengan mimik tegang.
Tanpa sepatah kata Dirga pergi meninggalkan Nindya, bahkan pria itu pergi tanpa melihat ke arah Nindya. Sedangkan Nindya yang tak mengerti apapun, hanya mematung duduk sendirian di atas ranjang.
Kamar panas yang tadinya dipenuhi dengan gairah dan saling bercinta serta saling berkomunikasi tentang kenikmatan, kini seolah menjadi sunyi, sepi, dan dingin. Nindya merasa di tinggal dan di abaikan, seolah ia seperti mainan yang sewaktu-waktu bisa di gunakan dan sewaktu-waktu bisa di buang.
Dirga melajukan mobilnya dengan cepat, berharap bisa sampai tepat waktu. Dada pria itu naik dan turun karena tegang, tidak ingin sesuatu terjadi, sesuatu yang paling Dirga takutkan.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 1 jam. Dirga masuk ke kawasan Rumah Sakit Jiwa, Rumah sakit itu juga berada di bawah naungan Hartono Jaelani Group.
Rumah Sakit Jiwa dengan fasilitas yang mewah, di sanalah Maryam Husein Ibu kandung Dirga di rawat. Sudah berpuluh tahun lamanya sejak pertama kali Maryam Husein mengetahui, Dino lahir ke dunia.
Dirga berjalan dengan cepat, melewati koridor atau lorong panjang yang bersih dan di dominasi oleh warna putih, menaiki lift khusus dan sekarang sampailah ia di depan kamar ibunya.
Perlahan Dirga membuka pintu dan terlihat ibunya sedang terbaring dengan infus terpasang di tangannya, Wanita paruh baya itu sedang tidur.
__ADS_1
"Kami menyuntikkan obat penenang..." Kata Suster Feronika, yang memiliki wajah keturunan indo-australia.
"Kenapa sampai bisa kambuh... Apa penyulutnya." Kata Dirga.
"Ada seseorang yang memberikan catatan ini... Dia lolos dari semua cctv dan keamanan serta penjagaan, kemungkinan orang dalam atas suruhan orang lain." Jelas Dokter Nisha.
Dirga melihat catatan tersebut.
" ANAKMU JATUH MISKIN DAN GILA, SUAMI MU MEWARISKAN SELURUH HARTANYA PADA ANAK JALANGG ITU !!! "
Dirga meremas catatan tersebut hingga menjadi sebuah gumpalan kecil, otot-otot tangannya terlihat dan rahangnya menguat pertanda ia sangat marah.
Dirga kemudian duduk untuk menemani mama nya, dan tinggal lah pria itu sendirian. Dirga menarik laci meja di dekat tempat tidur mama nya dan menemukan foto Hartono Jaelani serta Maryam Husein saat menikah.
Tak berapa lama Maryam Husein menggerakkan kepala nya dan sayup-sayup membuka mata.
"Mah..." Panggil Dirga.
"Dirga,..." Suara Maryam lemah.
"Anakku... Kamu datang..." Sahut Maryam kembali.
Maryan Husein memang sudah lebih baik dan memiliki kemajuan, namun setiap kali tersenggol oleh kenangan buruk apapun itu yang menyangkut perselingkuhan suaminya, membuat Maryam kembali kambuh dan tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Maryam akan mengamuk dan akan mencoba bunuh diri.
Dirga tersenyum dan mencium punggung tangan mamanya.
"Iya, Dirga datang..." Balas pria itu dengan tersenyum.
Dirga memilih untuk terus menemani mamanya, pria itu akan tidur di rumah sakit, dan tidak ingin meninggalkan mamanya.
__ADS_1
~bersambung~