TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Dino Turun Tangan


__ADS_3

Dino sampai di Apartmen, pria itu memarkir mobil dengan gerakan cepat, tangan berototnya memutar kemudi lalu menarik tuas rem tangan, hingga menimbulkan bunyi berdecit di roda mobil mewah milik Dino.


Dengan cepat Dino mengangkat tubuh Nindya keluar dari mobil, melalui lift khusus yang langsung menuju apartmennya.


Kemudian setelah Dino membaringkan tubuh Nindya yang masih pingsan, ia mempersilahkan pada Mbok Winarsih untuk mengganti pakaian dan mengelap tubuh Nindya. Sedangkan Dino menunggu di ruang tamu, mondar-mandir dengan cemas menunggu seseorang tiba.


Tak berapa lama bel apartmen berbunyi, Dino membuka pintu dan terlihat pria tinggi semampai yang cukup tampan berdiri membawa tas peralatan periksanya, di sampingnya berdiri seorang perawat wanita. Dino menariknya masuk dan menunjukkan kamarnya.


"Farel tolong... Ada di dalam kamarku." Kata Dino.


Farel masuk ke dalam kamar dan kemudian sang perawat menutup pintu kembali. Cukup lama dokter itu berada di dalam kamar Dino untuk memeriksa Nindya.


Hanya Mbok Winarsih dan seorang perawat yang keluar masuk untuk melayani keperluan apa yang di butuhkan Farel, sedang Dino masih berdiri dan bersandar di dinding menyedekapkan tangannya, merasakan kecemasan yang membuat tubuhnya gemetar yang menjalar hingga berulang kali ia harus menarik nafas panjang untuk menetralisirnya.


Dino kemudian menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Nuel... Kembali ke apartmen secepatnya." Kata Dino.


Selama ini Emanuel di berikan tugas khusus oleh Dino untuk mencari seseorang.


Setelah selesai dokter itu keluar dan melepaskan sarung tangan latex nya.


"Bagaimana..." Tanya Dino tidak sabar.


Farel menggeleng dan menepuk bahu Dino.


"Jawab jujur, siapa dia Dino..." Tanya Farel.


"Teman..."


"Kamu bukan laki-laki yang begitu saja bisa peduli dengan orang lain apalagi dia adalah seorang wanita."


Dino hanya diam, kemudian duduk di sofa.


"Aku sudah pasang infus, dia harus istirahat total, lebih baik kamu serahkan kasus pemerkosaan ini pada pihak yang berwajib, bukan kewajibanmu merawatnya."


"Dia istrinya Dirga..." Jawab Dino


"Apa!!! Dirga?!"


"Istri siri..." Lanjut Dino.


"Lalu.... Dan yang membuatnya seperti itu, jelas bukan kamu apa suaminya sendiri yang melakukanya?!" Farel tak percaya mendengar pasien yang baru saja ia rawat adalah istri dari Dirga.


Dino memijit keningnya, kemudian Farel hanya menepuk kembali bahu Dino.


"Kamu tahu Dino, ke depannya akan sulit jika berurusan dengan mereka, aku pulang dulu, telfon aku kalau terjadi sesuatu."


Setelah kepergian Farel, Dino bersandar di ambang pintu kamar miliknya dengan memasukkan tangannya ke dalam kedua saku celannya, pria itu merasa cemas dan takut.


Dino memandangi Nindya yang masih tidur, Nindya sudah lebih bersih meski luka masih begitu banyak di sekujur tubuh dan wajahnya, luka yang mulai berwarna keunguan.


"Tuan Dino, mau makan? Saya masakkan..." Kata Mbok Winarsih.


"Tidak usah, Mbok Win tidur saja dulu, nanti kalau butuh apa-apa, saya panggil."

__ADS_1


"Baik Tuan...


Dino menutup pintu kamarnya dan duduk di samping Nindya menggunakan sofa kecil, tangan kuat yang memiliki otot cukup kekar meraih tangan Nindya.


Dino melihat bagaimana pergelangan tangan Nindya pun juga membiru, kemudian ia mengambil salep dan perlahan diberikan pada luka-luka yang ada di tangan Nindya.


Setelah itu, Dino menggenggam tangan mungil yang terpasang infus tersebut, pria itu juga membelai rambut Nindya.


"Maaf, semua karena aku, kamu jadi seperti ini... Semua karena aku Nindya." Dino menggenggam tangan Nindya dengan kedua tangannya dan mencium serta mendekapnya.


"Maafkan aku kamu terseret dalam masalah yang kamu sendiri tidak tahu apa-apa..."


Dino terus menjaga Nindya tanpa tidur, hanya sesekali kantuk nya datang, namun rasa khawatirnya jauh lebih besar.


Hingga jam telah menunjukkan pukul 3 pagi, tubuh Nindya yang tadinya demam dan panas kini sudah berangsur dingin, kemudian Dino beranjak pindah di sofa panjang untuk menutup matanya sejenak. Pria itu berbaring dan menyedekapkan tangan.


Tak butuh waktu lama Dino sudah terlelap, sedangkan pagi kian turun dan matahari sedikit demi sedikit menyembul, sinarnya menyusup melalui tirai jendela kamar Dino.


Mbok Winarsih sudah berkutat, dengan kompor dan wajan di dapur menyiapkan beberapa hidangan makanan di temani dan di bantu pembantu paruh waktu yang setiap hari datang.


"Emmhh..." Nindya melenguh namun masih menutup mata.


"Tidaakkk..." Kata Nindya lirih dan lemah masih menutup matanya.


Dino terperanjat ketika samar-samar ia mendengar suara Nindya, ia fikir itu dalam mimpi namun Nindya kembali mengigau dan itu bukanlah mimpi.


"Jangann..." Sahut Nindya lagi dengan suara lemah.


Dino mendekat dan menepuk-nepuk kecil pipi Nindya.


"Nindya...


Dino berusaha membangunkan Nindya, dan usaha itu akhirnya berhasil. Nindya membuka matanya dengan perlahan, mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling. Tempat yang asing dan membuatnya bingung.


"Kamu di apartmenku, sekarang kamu aman..." Kata Dino.


"Dino..." Sahut Nindya.


"Ya..."


"Dimana dia..." Tanya Nindya dengan raut wajah yang takut.


"Dia tidak di sini Nindya... Kamu aman."


Nindya kemudian menangis, otaknya perlahan kembali memutar memori dan ingatan yang begitu jelas tergambar melalui angannya. Pukulan, makian dan siksaan serta pelecehan itu.


"Aku takut... Aku mohon Dino, aku tidak mau kembali ke sana." Pinta Nindya lemah.


"Iya... Aku juga tidak akan pernah mengijinkan kamu kembali ke sana..." Dino mencium punggung tangan Nindya.


Tangan kiri Nindya masih terpasang infus, dan infus sudah habis tepat saat sang suster datang mengecek keadaan Nindya.


"Tok.. Tok.. Tok.. !!" Terdengar suara pintu di ketuk.


"Masuk." Dino mempersilahkan.

__ADS_1


"Tuan Dino, ada suster yang mau memeriksa Non Nindya." Kata Mbok Winarsih.


"Iya..."


"Pagi Tuan Dino... Saya di utus Dokter Farel untuk mengecek keadaan Nona secara berkala." Kata sang suster.


"Silahkan..." Kata Dino lagi sembari berdiri dan mundur.


Suster kemudian melepas infus dan memasang plester hypafix di tangan Nindya.


Dino masih mengamati dan memperhatikan, dengan berdiri sembari memasukkan kedua tangannya di dalam sakunya, kadang ia juga menyedekapkan tangan.


"Keadaannya sudah stabil, ini ada titipan obat dari Dokter Farel dan ada salep tambahan untuk lebamnya." Kata Suster menyerahkan tas kecil berisi obat-obatan pada Dino.


"Karena tugas saya sudah selesai, saya permisi..."


"Hm... Terimakasih, sampaikan salamku pada Farel."


Kemudian sang suster pergi dan Mbok Winarsih masuk ke dalam kamar.


"Sarapan sudah siap Tuan Dino, saya akan menyuapi Non Nindya dan anda bisa sarapan dulu..." Kata Mbok Winarsih.


"Bawa ke sini saja mbok biar saya yang suapin Nindya."


"Tidak usah Dino... Aku bisa makan sendiri..." Kata Nindya.


"Kamu harus istirahat Nindya... Biar cepat sembuh."


Setelah sarapan di siapkan oleh Mbok Winarsih, dengan telaten dan penuh kesabaran Dino menyuapi Nindya makan.


Dino ingin mencairkan keadaan yang canggung, agar Nindya pulih dengan cepat, ia ingin membuat Nindya nyaman.


Dino tidak suka bercerita, tapi kali ini ia menceritakan masa-masa nya saat masih sekolah, saat SMA teman semejanya sakit, saat menjenguknya ia juga menyuapinya makan.


"Yongki saat itu sakit, dan di rawat di Rumah Sakit. Ibunya sibuk bekerja di luar negeri. Tidak ada yang menjenguknya selain aku dan teman-teman, jadi aku lah yang menyuapi nya tiap ia makan." Kata Dino sembari menyuapkan nasi ke dalam mulut Nindya.


"Yongki anak basket yang tinggi itu?" Tanya Nindya.


"Kamu tahu?" Tanya Dino terkejut.


"Ya..." Kata Nindya.


"Kamu bisa kenal Yongki, tapi sama aku tidak kenal Nindya?!"


"Bukan begitu, sewaktu SMA dia pernah meminta nomor handphone ku, hanya sebatas itu saja." Kata Nindya mengelap bibirnya dengan ujung jarinya.


Dino kemudian sigap mengambil tisu dan mengelap bibir Nindya pelan.


"Aaaakk..." Kata Nindya meringis.


"Apa sakit sekali...?"


Dino bertanya dan mengelus sudut bibir Nindya dengan lembut menggunakan ibu jarinya. Kemudian Nindya meraih tangan Dino untuk turun, ia teringat kembali bagaimana Dirga menciumnya dan menggigit bibirnya dengan kasar, lalu tamparan dan cengkraman di rahangnya pun berkali-kali Dirga layangkan pada Nindya ketika pria itu menyetubuhhinya secara paksa.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2