
Dino yang juga merasa canggung kemudian ia memilih pamit untuk pergi keluar.
"Aku keluar dulu ada sesuatu yang harus ku urus." Kata Dino yang kemudian pergi.
Farel masih tidak merasa bersalah atau tidak merasakan keanehan di dalam suasana tersebut, entah apa niat yang sebenarnya sehingga Farel menanyakan hal semacam itu di depan Dino, kenapa ia tidak meminta ijin agar Dino meninggalkan mereka berdua saja ketika akan membahas sesuatu yang pribadi.
Nindya masih diam dan meremes kukunya, hingga jari jempolnya itu sedikit memiliki luka.
"Su... Sudah beberapa minggu lalu, mungkin lebih dari 1 bulan." Kata Nindya canggung.
"Oke baik..." Farel hanya menjawab singkat dan tersenyum.
"Obat yang kemarin pasti tertinggal, jadi aku membawakannya lagi, jangan melewatkan meminum obatnya." Sambung Farel mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi obat-obatan dari dalam tas nya.
"Baik... Terimakasih." Nindya menundukkan wajahnya karena malu.
Bagaimana pun ia ingin menyembunyikan wajahnya, tegap saja rasa malu selalu menyeruak di dalam hatinya.
Sedangkan Farel keluar dari kamar dan menemui Dino. Pria itu berada di ruangan keluarga, Dino berdiri di dekat jendela besar yang menjulang tinggi dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam celana.
Sinar matahari masuk dengan leluasa dan membuat ruangan itu cukup terang, meski sesekali matahari bersembunyi di balik awan yang mendung. Awan-awan mendung yang belum merata itu berjalan cukup cepat, seolah mereka sedang mengumpulkan air dan menampungnya terlebih dulu sebelum menumpahkannya ke bumi.
Kini Farel sudah berdiri di belakang Dino.
"Apa maksudmu..." Tanya Dino belum berbalik dan masih melihat ke arah luar jendela.
Farel tersenyum, kemudian menaruh tas nya di atas sofa.
"Aku cuma ingin menyadarkanmu..." Jawab Farel.
Dino hanya memutar kepala, tangannya masih berada dalam saku celana, pria itu melihat Farel yang duduk di sofa, ia mengerutkan alis dan keningnya tidak mengerti maksud dari perkataan Farel.
"Dia istri Dirga... Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka lalui bersama selama mereka satu atap."
"Tapi tidak seharusnya kamu mempermalukannya di depanku."
"Aku hanya ingin menyadarkan dan membuka matamu, tidak sepatutnya kamu membiarkannya tetap tinggal denganmu dan dia bukan lah tanggung jawabmu."
__ADS_1
"Aku tahu apa yang aku inginkan..." Tangkas Dino.
"Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, kamu tahu Dirga adalah orang yang paling ingin menghilangkanmu."
"Aku ada urusan, kamu tahu pintu nya ada di sebelah mana." Kata Dino dan berniat pergi namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Nindya sudah berdiri di balik pintu ruangan keluarga.
"A-Aku mengantar ini..." Kata Nindya menyerahkan Snelli ( Jas Putih Dokter ) kemudian Nindya pergi dengan pelan.
Farel pun melihat dan merasa tidak enak, pria itu berdiri dan hanya memandang dengan tatapan menyesal.
"Ini adalah simbol legitimasi dokter, jangan lupakan semua sumpahmu." Kata Dino menyerahkan Snellinya di dada Farel dengan sedikit mendorong tubuh Farel.
Dino kemudian mengejar Nindya, saat itu Nindya sudah bersiap menutup pintu nya namun Dino menahan dengan tangannya.
"Kita bicara sebentar Nindya..." Kata Dino masih menahan pintu.
Nindya tahu ia tidak bisa menolak, kemudian ia mempersilahkan Dino masuk. Pria itu masuk dan perlahan menarik kursi untuk duduk.
"Duduklah di sini..." Kata Dino menekan tepi ranjang.
Nindya perlahan duduk, pria itu mengambil kotak obat dan membukanya, kemudian mengambil salep lebam. Dino menekan salep itu sedikit demi sedikit dan mengoleskan pada lebam-lebam yang ada di tangan Nindya.
"Jangan di anggap serius apa yang Farel katakan, dia memang selalu begitu tapi sebenarnya dia baik." Kata Dino.
"Aku tidak menyalahkannya, apa yang dia katakan memang benar..."
Dino berhenti mengoleskan salep dan menatap Nindya.
"Maafkan aku... Kalau saja aku tidak pernah mencintaimu semua gidak akan terjadi." Dino meraih tangan Nindya, menggenggamnya dan menciumnya.
Kini pria itu hanya menunduk lesu, melihat semuanya sudah terlanjur terjadi, ia pun juga gidak dapat menahan perasaannya yang mencintai Nindya.
"Aku masih tidak mengerti..."
"Aku akan menceritakan padamu bagaimana hingga Dirga bisa membenciku, tapi aku mohon setelah ini kamu jangan membenciku Nindya." Pinta Dino.
Nindya hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
Saat itulah Dino akhirnya menceritakan semua permasalahan yang ada di keluarga Hartono Jaelani, pria itu juga mengatakan bahwa ia sempat tidak percaya Dirga akan serius dengan ucapannya ingin membuat Nindya hancur, ingin merebut apa yang Dino miliki.
Meski untuk hal perusahaan Dirga memang sudah membuktikannya bahwa Dino tidak pernah di berikan kesempatan memiliki kedudukan apapun selama ada Dirga yang mengelola.
Bahkan untuk perusahaan yang sudah tertera atas namanya pun bisa dengan gampang Dirga mengambil alih. Dino hanya mengalah mengingat status dan siapa dirinya hingga akhirnya ia memutuskan mendirikan perusahaannya sendiri tanpa bantuan atau sokongan dari Hartono Jaelani dan ia memilih untuk memakai nama samaran.
Beberapa hari kemudian....
Hari bergulir demi hari Nindya semakin bisa menata kembali hidup nya. Fisik dan mental Nindya yang terluka sedikit demi sedikit ia sembuhkan dengan berbagai aktifitas di rumah Dino dan tentunya juga dengan dukungan dari Dino.
Mulai dari membantu memasak Mbok Winarsih, hingga belajar menyulam, karena menurut dokter menyulam adalah aktifitas yang menenangkan dan melatihnya untuk lebih damai.
Dino juga mendatangkan pelatih yoga untuk Nindya, kini ia mulai membenahi hati dan perasaannya, dengan cara meditasi. Meski kadang trauma itu muncul dalam bentuk mimpi dan masih terasa berat namun ia selalu meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa akan ada matahari dan pelangi selepas hujan.
Nindya selalu meyakinkan pada dirinya, bahwa ujian yang Tuhan berikan tidak akan melampaui batas kemampuannya, Nindya juga lebih religi lebih ingin mendekatkan dirinya dengan Tuhan.
Pintanya hanyalah semoga di permudah dalam proses mengikhlaskan.
Nindya sedang menyulam di ruangan keluarga, ruangan yang memiliki jendela besar menjulang tinggi dan juga di penuhi cahaya matahari yang masuk.
Sedangkan Dino sedang duduk di balik mejanya mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.
Tiba-tiba Nindya merasa kan ada sesuatu yang mengaduk perutnya. Seketika Nindya reflek ingin memuntahkannya, dengan cepat ia menutup mulut.
"Aku masuk angin...?" Kata Nindya.
Kemudian ia melanjutkan melihat video lagi dari laptopnya dan menirukan gerakan menyulam yang ia lihat dari sebuah channel youtube.
Tak berapa lama mual di perutnya datang lagi, sekarang justru di serta dengan kepala yang sedikit pusing.
Kali ini mual yang sangat hebat sehingga Nindya sontak berdiri membuat hasil sulamannya terjatuh di lantai. Nindya menutup mulutnya, perutnya terasa di tarik karena ia benar-benar merasa mual, kemudian Nindya pergi dengan berlari menuju kamar mandi.
Melihat Nindya berlari dengan terhuyung membuat Dino terkejut.
"Nindya..." Dino berdiri dan berlari mengikuti Nindya.
"Hoek.... Hoekkk..." Perut Nindya terasa seperti diaduk-aduk, kepalanya berputar dengan cepat.
__ADS_1
~bersambung~