
Saat itu jugalah seorang pelayan datang pada waktu yang tepat. Pelayan hendak akan membersihkan kamar mandi milik Nindya dan terkejut ketika melihat Nindya yang sedang mengarahkan gunting pada lehernya.
"Non...!!!" Teriak pelayan tersebut sembari berlari dan merebut gunting dari tangan Nindya.
Namun nihil, pelayan tersebut tidak dapat mengambilnya karena di dorong oleh Nindya yang terkejut dengan kedatangannya.
"Non jangan... Ingat, mati tidak segampang itu, bunuh diri adalah cara yang tidak di anjurkan dan paling di benci tuhan."
Nindya kemudian melemah, tangannya bergerak turun lemas, ia masih menangis dan kemudian terduduk lesu di lantai.
Tak berapa lama Mbok Winarsih pun datang, karena sang pelayan sempat menekan bel panggil untuk pelayan.
Mbok Winarsih menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena terkejut dan meraih gunting tersebut dari tangan Nindya membuang nya jauh dan pelayan satunya membawa pergi gunting tersebut sembari memanggil Dino.
"Astaga... Non... Kenapa... Ingat... Tidak ada masalah yang tidak bisa di lalui, saya akan selalu menemani anda Nona Nindya." Kata Mbok Winarsih sembari memeluk tubuh Nindya.
"Saya kira ini semua hanya mimpi Mbok... Saya lelah." Kata Nindya menangis tersungkur dalam pelukan Mbok Winarsih.
Tak berapa lama Dino datang dengan berlari, terlihat jelas guratan kepanikan di wajahnya. Pria itu berjongkok dan melihat Nindya, meraba wajah Nindya untuk menatapnya.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa..." Kata Dino.
Pria itu kemudian memuluk lekat Nindya ke dalam dada dan merantainya seolah tak ingin kehilangan Nindya.
Kemudian Dino menggendong tubuh Nindya berbaring di atas ranjang. Sedangkan Mbok Winarsih masih sibuk membereskan kamar mandi, dan melihat tespeck yang tergeletak di atas meja.
"Berikan kekuatan pada Nindya ya allah... Dia anak baik." Kata Mbok Winarsih menangis.
Dino menunggu Nindya, duduk di samping ranjangnya memegangi tangan mungil yang sedingin es.
"Katakan Nindya... Apa yang harus ku lakukan." Tanya Dino.
Nindya hanya diam.
"Aku ingin sekali memutar waktu, aku tidak rela melihatmu seperti ini, maafkan aku..." Dino mencium tangan Nindya.
Pria itu menggenggam dan menaruh di dahinya dengan genggamanya menyangga dahinya, karena terpuruk.
"Aku benar-benar mencintaimu, jangan lakukan hal itu lagi..." Pinta Dino.
"Aku kira ini hanya mimpi dan berniat ingin bangun..." Kata Nindya lirih.
Mendengar jawaban Nindya justru semakin membuat Dino sakit.
Tak berapa lama, Nuel yang baru saja tiba dari tugas pentingnya mendatangi Dino, ia mengetuk pintu meminta ijin dan di persilahkan oleh Dino.
Nuel memiliki wajah yang cukup tampan, pria itu membungkuk dan kemudian berbisik di telinga Dino.
"Tunggu sebentar aku segera kembali, kamu tidur dan istirahat, jangan lakukan sesuatu yang bodoh lagi..." Kata Dino memperingatkan pada Nindya.
__ADS_1
Mereka kemudian pergi menuju ruang kerja milik Dino yang lain, dimana ruangan itu tidak ada yang boleh sembarangan memasukinya.
"Katakan Nuel..." Dino berdiri dengan menyedekapkan tangannya.
"Kita terlambat, Dirga lebih dulu membawa orang tua Nona Nindya." Kata Nuel menyesal.
"Haissh!!!" Umpat Dino kesal dan memukul dinding.
Kali ini Dino benar-benar di rundung pusing, bagaimana ia harus menyelesaikan masalah-masalah yang beruntun dan bertumpuk.
"Cari kemana Dirga menyembunyikan mereka." Kata Dino.
"Baik tuan..."
"Lalu bagaimana keadaan Felix..." Tanya Dino lagi.
"Sudah cukup baik tuan, saya menaruh beberapa pengawal kita untuk menjaganya."
"Teruskan kerjamu..." Kata Dino menepuk bahu Nuel.
Kemudian Dino pergi keluar dan melihat Mbok Winarsih sudah berdiri di luar ruangannya.
"Ada apa Mbok..." Tanya Dino.
"Ini tuan..." Mbok Winarsih menyerahkan tespeck digital yang ia simpan dari kamar mandi Nindya.
Kemudian Dino menerimanya dan melihatnya. Nafasnya sedikit menderu naik dan turun. Hatinya kian remuk dan patah. Pria itu meremas tespeck tersebut.
Atau seandainya ia memilih untuk pergi dan melupakan Nindya pasti tidak akan ada kejadian seperti ini.
"Aku akan menyimpannya." Kata Dino dan berlenggang pergi.
"Baik tuan..." Jawab Mbok Winarsih yang kemudian juga pergi.
Sedangkan Nuel sudah pergi mencari kemana orang tua Nindya di sembunyikan.
Nindya sedang tidur dan memejamkan matanya. Mencoba mengurai permasalahannya sedikit demi sedikit, mulutnya selalu berdoa agar di berikan kekuatan dan di mampukan dalam menjalani terpaan badai yang terus saja menghantamnya.
Tiba-tiba ponsel milik Nindya yang tergeletak di atas meja berbunyi, sudah lama Nindya tidak pernah memegangnya ia bahkan lupa jika ponselnya sudah di bawakan oleh Mbok Winarsih yang pernah tertinggal di apartmen Dino.
"Siapa yang telfon?" Tanya Nindya dan bangun
Nindya berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju meja yang sedikit jauh dari ranjangnya.
"Nomor tidak di kenal?" Kata Nindya lagi lirih.
"Halo?"
Akhirnya dengan ragu Nindya mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo sayang..." Sapa seorang pria di ujung panggilan.
"Si.. Siapa ini..." Tanya Nindya tidak yakin.
"Kamu tidak mengenali suaraku?"
"Ti.. Tidak..."
"Baru beberapa hari dan kamu sudah melupakanku? Membuatku sedih Nindya..."
"Aku tidak mengenalmu, selamat sore!"
"Kamu tidak merindukan orang tua mu Nindya?"
Seketika jantung Nindya berdegup dan tubuhnya kaku, ia menahan nafas, kakinya mulai melema kembali. Permaslahan yang lain belum reda ia sembuhkan sakitnya, kini hatinya kembali di hantam badai.
"Ap... Apa maksudmu!"
"Mertua ku memang sungguh polos... Aku memberitahu mereka kalau kamu melarikan diri dengan pria lain... Ha ha ha ha ha...." Tawa pria itu menggelegar.
Nindya mendengar suara tawa yang mengerikan baginya.
"Jangan pernah sakiti mereka, atau kamu akan menyesal Dirga!!!" Teriak Nindya.
"Aku tidak akan menyakitinya jika kamu datang tepat waktu..." Bisikan peringatan dari Dirga melalui saluran telfon terdengar mengerikan.
"Aku benar-benar akan membunuh mu Dirga kalau kamu berani menyentuh orang tua ku!!!" Teriak Nindya lagi dengan gemetar, hingga menutup matanya, tenggorokan nya tersa perih karena ia berteriak.
Dino yang sedang menuju kamar Nindya untuk memastikan keadaan Nindya, pria itu pun terkejut ketika membuka pintu Nindya sudah berteriak menyebut nama Dirga.
Dino mengambil ponsel yang ada di tangan Nindya dan kemudian mendengarkan apa yang akan Dirga katakan.
"Datang sendiri dan jangan sampai siapapun tahu terutama Dino. Akan ku kirim lokasinya."
Kemudian panggilan pun di matikan oleh Dirga.
Sedangkan Dino tampak emosi dan mencengkram ponsel tersebut, terlihat Nindya sudah kalut dan tidak dapat berfikir jernih. Tatapan mata Nindya kosong namun tubuhnya bergerak pergi ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan cepat.
Nindya memakai pakaian dress dan memakai mantelnya kemudian bersiap pergi namun Dino mencegahnya.
"Jangan gegabah Nindya..."
"Lepaskan Dino!!! Aku harus datang!!!" Nindya mencoba melepaskan diri dari pelukan Dino.
"Aku tahu Nindya, tapi kita harus punya strategi dan rencana jangan gegabah tanpa rencana apapun..."
"Tapi aku harus pergi sendiri...!" Nindya masih kekeh dan ingin pergi.
"Tenangkan dirimu Nindya!!! Kita akan pergi bersama!!!"
__ADS_1
Dino yang tidak pernah marah akhirnya berteriak, ia tidak ingin kehilangan Nindya, Dirga bukanlah orang yang mudah, pria itu memiliki sejuta kelicikan. Dino memeluk Nindya, merantainya dalam dekapan tubuh kekarnya, ia mencium kepala Nindya. Jika boleh jujur ia pun merasa pusing dan kalang kabut karena permainan Dirga, bukan karena ia takut dengan Dirga, ia takut Dirga akan seperti ini, melukai orang-orang yang ia sayang.
~bersambung~