TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Kemarahan Hartono


__ADS_3

Hartono Jaelani pun mengangkatnya dan di ujung ponselnya Farel menjelaskan tentang keadaan Dino. Pria paruh baya itu kemudian terlihat sangat terpukul, ia melihat ke arah Yasmine.


Setelah panggilan selesai Yasmine pun dengan tidak sabar mendekati Hartono Jaelani.


"Ada apa?" Tanya Yasmine dengan cemas.


"Seperti nya Dino mengalami gegar otak." Kata Hartono Jaelani penuh dengan rasa menyesal.


"Astaga... Ya tuhan..." Yasmine merasa tubuhnya lemah dan terhuyung.


Hartono Jaelani pun memegang tubuh Yasmine.


"Tenang Yasmine..."


Pria itu memapah Yasmine ke arah sofa dan memanggil seorang pelayan untuk mengambil kan air hangat.


"Aku tidak percaya ini..." Yasmine menangis terisak.


"Dirga sudah melampaui batas dan dia harus segera mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya!!!" Geram Hartono Jaelani.


Pria paruh baya itu pun pergi keluar dari rumah besar miliknya yang bak istana dan masuk ke dalam mobil, sedang sang sopir dengan cekatan serta tanggap tahu apa yang harus ia lakukan.


Perjalan menuju Rumah Sakit cukup panjang membuat Hartono melihat pemandangan jalanan ibu kota yang cukup lengang dimana hari itu turun hujan cukup lebat.


Pria paruh baya itu melihat jalanan yang sudah berlumuran oleh genangan air dan para orang pejalan kaki yang menggunakan payung, mobil lain juga melaju dengan cukup pelan karena hujan turun cukup lebat.


Sedangkan motor-motor pun juga tidak terlalu banyak, terlihat para pengemudinya menggunakan mantol.


Ingatan pria paruh paya itu kembali pada saat awal pernikahannya dengan Maryam Husein, wanita yang ia inginkan menjadi istri sehidup semati. Wanita yang pertama kali ia temui saat menghadiri rapat kerjasama antar perusahaan.


Pernikahan itu pun menjadi pernikahan paling mewah melalui perjodohan antar perusahaan. Dimana Maryam Husein juga meminta bahwa ia siap menjadi istri Hartono Jaelani jika separuh harta yang di miliki Hartono di berikan padanya.


Di tempat lain tepatnya Rumah Sakit di bawah naungan Hartono Jaelani...


Dirga memakan buah potongnya di atas ranjang pasien, kamar mewah VVIP itu terlihat luas dan sangat sepi hanya 1 pengawal berdiri di samping Dirga.


"Tuan Dino mengalami gegar otak Tuan..." Kata Joe.


Joe adalah saudara dari Xavier. Seharusnya tugas menjemput Orang tua Nindya adalah tugasnya namun Xavier menggantikannya karena Joe harus pergi untuk mengurus salah 1 perusahaan Dirga yang sedang koleps.


"Hmm... Biarkan saja." Dirga menusukkan garpunya pada buah yang ada di depannya.


"Bagaimana dengan... Istriku..." Tanya Dirga kemudian dengan sedikit ragu menyebut kata istri.


"Dia baik-baik saja Tuan. Hanya saja..." Joe ragu untuk melanjutkannya.

__ADS_1


Sebelum Joe melanjutkan kalimatnya, Dirga pun menyela lagi.


"Lalu Alexa..."


"Alexa... Dia belum sempat menyelamatkan diri, sepertinya dia berniat merampok brangkas anda."


"Hm, jadi dia terpanggang hidup-hidup." Kata Dirga lagi.


Joe tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan.


"Sepertinya perusahaan anda koleps karena ketidak becusan Ferdi dalam mengelola manajemen." Kata Joe.


"Singkirkan saja dia, aku sudah muak dengannya."


"BRAAKK!!!"


Tiba-tiba saja Hartono masuk ke dalam ruangan Dirga dan berjalan dengan cepat kemudian membentak Dirga.


"Kelewatan kamu Dirga!!!" Teriak Hartono sembari berkacak pinggang.


"Aku sedang tidak mau berdebat pah..." Kata Dirga malas.


Pria itu mulai membangkang dan tidak patuh serta tidak lagi merasa takut dengan Hartono.


"Tapi tidak satu ibu, dia anak pelacurr..." Kata Dirga santai dan tanpa melihat ke arah Hartono.


Pria itu kemudian melemparkan dengan malas garpunya di atas piring buah hingga berbunyi. Joe kemudian membawa piring berisi potongan buah itu pergi dan meninggalkan mereka.


"Dia adik kandungmu, 1 ibu denganmu!!! Yasmine lah yang melahirkan kalian!!!" Teriak Hartono.


Dirga mengernyitkan dahi dan alisnya melihat ke arah Hartono. Penuturan mengejutkan yang mendadak setelah sekian lama bahkan setelah sekian tahun berlalu.


"Jangan membuat cerita palsu hanya agar aku merasa bersalah atau apapun..."


"Ini benar adanya, kalian satu ibu dan Yasmine lah ibu kalian, Maryam Husein bukanlah ibu kandungmu." Intonasi suara Hartono mulai pelan.


"Ada apa sebenarnya ini!!! Oma sendiri yang bilang jika Dino adalah..."


"Oma mu menderita penyakit demensia dan kamu percaya!!!"


"Aku juga bertanya pada para pelayan, mereka bilang Yasmine lah yang membuat Mamah ingin bunuh diri dan menjadi gila."


Hartono kemudian menceritakan kisah yang sebenarnya pada Dirga.


..."FLASHBACK ON"...

__ADS_1


"Baiklah aku akan menyerahkan separuh hartaku padamu. Namun aku memiliki syarat." Kata Hartono Jaelani.


"Apa syarartnya?" Maryam Husein meneguk anggurnya.


Saat itu mereka berada di sebuah hotel berbintang yang mewah di bawah naungan Hartono Jaelani Group.


Kamar yang bernuansa serba putih dan kuning emas menjadi saksi bagaimana Maryam Husein yang memiliki paras cantik dan juga sangat seksi bisa membuat Hartono Jaelani bertekuk lutut.


"Syaratnya, kamu harus di rumah dan melahirkan anak, lalu mengurus anak-anak kita dengan baik." Kata Hartono Jaelani mengarahkan tangan Maryam Husein yang memegangi gelas anggurnya dan mengarahkan padanya, Hartono Jaelani pun meminum sisa anggur tersebut.


"Setuju..." kata Maryam Husein kemudian mencium bibir Hartono Jaelani.


Mereka saling melebur asmara di dalam kamar hotel yang mewah. Hingga suara Maryam Husein memenuhi kamar tersebut.


Setelah pernikahan berlangsung hingga tahun ke 3, mereka masih belum di karuniai anak. Segala upaya hingga berobat dan melakukan beberapa kali percobaan bayi tabung pun sudah di tempuh tentunya dengan biaya yang fantastis.


Namun sebuah fakta mencuat dan membuat Hartono merasa mual dan jijik pada Maryam Husein.


"Ini adalah foto-foto Nona Maryam Husein tuan, dengan orang yang berbeda di hotel yang berbeda." Kata sang pengawal setia Hartono.


Seketika Hartono mual dan jijik melihat foto-foto tersebut apalagi 2 diantaranya adalah rekan bisnisnya. Hartono menekan mulutnya dengan tangannya dan menyeka wajahnya tak percaya. Pria itu sangat geram.


Akhirnya pada suatu hari Hartono sudah siap untuk menyergap Maryam Husein, kelakuan sang istri yang diam-diam bermain di belakangnya.


"Apa aku tidak cukup kuat untukmu Maryam, sampai hati kamu bermain dengan mereka semua!!!" Teriak Hartono melemparkan foto-foto di depan wajah Maryam.


Saat itu Maryam hanya memakai selimut dan sang pria telah pergi dengan ketakutan.


"Kamu ingin memiliki anak dariku kan? Aku juga sedang berusaha memberikannya padamu..." Bujuk Maryam.


"Dengan pria lain?!!! Kamu pikir aku ini idiot!!! Kita sudah sepakat akan melakukan bayi tabung!!!" Teriak Hartono.


"Kamu mandul!!! Bayi tabung itu tidak akan pernah berhasil!!!" Teriak Maryam.


"Apa?" Suara Hartono lemah, ia terhenyak tak percaya mendengar perkataan Maryam.


Perkataan Maryam membuatnya jauh lebih sakit ketika melihat istrinya bermain dengan para pria.


"Kamu lah yang mandul Maryam." Suara Hartono pelan namun penuh dengan penekanan. Pria itu kesal dan geram penuh dengan ketenangan namun juga menahan harga diri dan emosinya.


Hartono kemudian pergi meninggalkan Maryam yang hanya berdiri kaku di atas lantai yang dingin tanpa alas kaki dan masih terbalut dengan selimut.


Sedangkan Hartono pergi menuju club malam VIP yang bahkan sekalipun ia belum pernah menjamah tempat seperti itu.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2