TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Pengakuan Dino Pada Nindya


__ADS_3

Malam yang panjang bagi Dino yang sedang berada di apartmen miliknya. Sudah 4 tahun lebih ia tinggal sendirian di apartmen yang cukup mewah dan berarsitektur modern, namun baru kali ini hatinya merasakan kesendirian dan kesepian.


Apartmen Dino di dominasi oleh warna gelap namun rapi dan bersih, setiap hari ada pelayan yang datang di pagi hari dan pulang di sore hari untuk membersihkannya.


Dino tertawa getir dan menyeringaikan mulutnya dengan malas ketika mengingat kenangan saat Nindya berwajah pucat dan berjalan dengan tidak normal, dan saat itu dengan polosnya Dino justru mengira bahwa Nindya masih sakit karena demam.


"Nindya..." Kata Dino pelan, ia tengah duduk di sofa panjang berwarna hitam sembari melihat foto-foto Nindya di hapenya yang kadang secara diam-diam Dino memotretnya.


"Dirga kamu menghancurkan mawar yang terawat dan memangkas semua durinya..." Geram Dino sembari meremas hapenya.


Baru kali ini Dino merasa benar-benar kehilangan seseorang yang sangat ia cintai. Bahkan saat ia harus keluar dari rumah utama dan di jauhi oleh Dirga tidak membuatnya harus menitikkan air mata.


Bahkan saat Dino mengetahui ia lahir dari rahim seorang pelacurr, dan tidak tahu dimana sekarang wanita itu berada, Dino tidak merasakan apa itu kesedihan.


Pria itu sudah merancang dan akan membangun istana untuk Nindya, ia sudah membeli lahan yang cocok dan akan melamar Nindya sebagai istrinya.


Cincin berlian berwarna putih mengkilap dengan ukiran rumit serta tentunya dengan harga yang fantastis pun sudah Dino beli dan di simpan dengan baik namun rencana yang epik itu hancur seperti kaca yang pecah tanpa bisa di satukan lagi.


"Rumah yang akan ku berikan sebagai tanda cinta dan lamaranku padamu sudah selesai namun sekarang harus ku apakan rumah itu Nindya... Hm?" Tanya Dino pada foto Nindya yang ia pandangi.


Mata Dino berkaca-kaca, dan setitik bulatan air lolos di sudut matanya. Kemudian Dino menghapus setitik air matanya dan memasukkan hape nya ke dalam saku celana. Pria itu mengambil kunci motor dan memilih pergi agar tidak merasakan kepenatan di apartmennya.


Dino mengendarai motor dengan cukup cepat, pria itu kalut dan kesal, membenci dirinya sendiri yang tidak benar-benar menjaga Nindya dari Dirga, kini kalimat yang pernah Dirga lontarkan bahwa ia akan merebut Nindya dari Dino sudah benar terjadi.


Dino melajukan motornya menuju sebuah sirkuit yang sering kali di pakai untuk balapan, saat itu malam gelap namun lampu penerangan di sirkuit cukup terang.


Setelah masuk ke dalam sirkuit balap, tanpa aba-aba Dino langsung memutar gas motornya, melaju hingga kecepatan penuh.


Dino ingin membuang semua kemarahannya, ini pertama kalinya Dino memutar gasnya untuk membalap meski tidak bertanding dengan orang lain setelah beberapa tahun lamanya.


Dino yang memutuskan berhenti balapan karena telah menyebabkan kecelakaan pada Dirga, kini kembali berani memutar gas motornya dengan kecepatan penuh.


Pandangan mata Dino tajam, pria itu kembali teringat bagaimana saat pertama kali pertemuannya dengan Nindya di cafe miliknya, lalu saat-saat moment ia menggoda Nindya dan bagaimana Nindya membuatnya tertawa dengan segala tingkah lakunya.


Dino semakin mempercepat motornya, namun tiba-tiba motornya terjatuh karena Dino terlalu miring saat berbelok, menimbul kan suara yang cukup keras saat motor itu bergesekan dengan aspal.


Untungnya helm fullface Dino masih kuat dan menjaga kepala Dino tetap aman. Apalagi saat itu Dino sudah memakai sarung tangan, jaket tebal, dan decker pelindung lutut.

__ADS_1


Motor dan juga penunggangnya sudah mendarat di atas pasir di pinggiran sirkuit, Dino mengerang karena cukup membuat tubuhnya kesakitan.


Pria itu masih berbaring di atas pasir sembari melepaskan helm, melihat langit malam yang tidak menampakkan bintang.


"Kata orang berteriak bisa bikin lega..." Kata Dino lirih.


"AAARGH....!!!"


Dino berteriak dengan keras kemudian mengambil nafas lagi dan berteriak lagi.


"AAARGH...!!!"


"AAARGH...H.. UHUK.... UHUUUUK...!!!"


Dino berteriak untuk melepaskan semua amarahnya sembari masih berbaring di atas pasir. Hingga membuat nafasnya tersengol dan terbatuk-batuk.


Malam yang panjang bagi Dino, malam yang dingin pula baginya, pria itu merasakan hatinya kering tandus, merasakan apa itu patah hati dan merasakan apa yang dinamakan kehilangan.


Udara dingin semakin menembus jaket nya dan meresap kekulit putih serta tulang belulang Dino, membuat pria itu akhirnya bangkit dan berjalan mendekati motornya kemudian mengangkat motor CBR kesayangannya yang masih terbaring di atas pasir.


Tanpa memikirkan apapun di sekelilingnya pria itu melesat menembus lampu-lampu malam yang berpijar dan sampailah ia di suatu tempat yang tidak asing baginya, bukit dimana rumah Dirga dan juga rumah yang kini Nindya tinggali.


Cukup lama Dino hanya diam di pinggir jalan, memandangi rumah mewah yang cukup besar tersebut, tiba-tiba seolah Dino mendapatkan jackpot, Nindya keluar dan kini berada di balkon.


"Kamu sedang apa di sana..." Ucap Dino lirih memandangi dan mengawasi dari jarak yang lumayan cukup jauh.


"Bodoh, kenapa malam-malam kamu keluar dan duduk di sana.." Kata Dino lagi tanpa ekspresi dan menyembunyikan kedua tangannya di dalam jaket, karena udara yang dingin. Pria itu masih duduk di atas motor nya.


Saat itu Nindya memakai gaun tidur yang cukup tipis, namun ia juga memakai syal untuk melindungi udara dingin yang menusuk tulang belulangnya, apalagi di bukit lebih dingin daripada di daratan yang lebih rendah.


Dino masih dengan tenang melihat Nindya yang kini sedang berdiri di balkon, menyangga tubuhnya dengan bersandar di teralis besi, sesekali angin malam terlihat mengibas gaun malam     serta rambut Nindya.


"Dia melamunkan apa?" Tanya Dino lagi.


Namun jika Dino lebih jeli, yang sebenarnya Nindya sedang menangis, setiap hari ia harus menerima kenyataan bahwa yang ia jalani sekarang bukanlah mimpi, ia harus selalu berhati-hati dalam bersikap karena tekanan dari Dirga.


"Diasedang menangis." Ucap Dino lagi.

__ADS_1


Pria itu kemudian mengeluarkan hape nya dan memencet beberapa tombol angka yang sudah ia hafal, tak berapa lama kemudian terlihat Nindya pun melihat hapenya, pertanda bahwa panggilan Dino sudah masuk.


"Ya Dino ..." Sahut Nindya dari ujung telfon.


"Lagi apa..." Tanya Dino pelan dan santai.


"Lagi cari angin di balkon... Ada apa Dino?" Tanya Nindya berusaha untuk tidak mengeluarkan isak tangisnya.


"Tidak ada... Pengen telfon aja..." Sahut Dino.


"Ya udah, kalau tidak ada yang penting aku matiin ya... Aku mau tidur."


"Tunggu... Lihat ke bawah...." Kata Dino.


"Ke bawah mana..." Tanya Nindya sembari mengerutkan alis dan keningnya tak mengerti, Nindya berbalik dan menyapukan pandangannya.


"Bawah sini, sisi bagian kiri di pinggir jalan..." Kata Dino.


Kemudian Nindya menoleh dan melihat seorang pria berada di atas motor yang tak asing baginya, melihat pria yang kemudian melambaikan tangan padanya. Seketika Nindya menutup mulutnya, tangis nya semakin terisak, air matanya semakin berderai.


Nindya melihat sosok pria yang sebenarnya diam-diam telah membuatnya nyaman, sosok pria yang tidak pernah jengah dalam menggodanya dan selalu ingin membantunya, sosok pria yang tidak pernah memarahinya dan berlaku kasar padanya.


"Lhoh... Kenapa kamu bisa..." Leher Nindya tercekat, ingin sekali ia mengadu pada Dino apa yang sudah ia alami selama ini.


"Kok kamu bisa tau aku di sini..." Tanya Nindya dengan isak tangis.


"Aku mencintaimu dan merindukanmu..." Suara Dino pelan, dengan intonasi yang rendah.


Suara khas Dino yang sedikit serak-serak basah, sangat jelas, namun juga lugas di ujung telfon dan masuk ke dalam telinga Nindya, kemudian merayap menggelitik di hati Nindya. Dari pertama Nindya mengenal Dino, suara Dino mengingatkannya pada artis Indonesia Vinno G Bastian.


Kalimat jujur dan perasaan yang ingin selalu Dino katakan setiap waktu dan setiap hari, kini terlontar dari mulut Dino. Setiap hari Dino merasakan rindu pada Nindya, ingin selalu bertemu dan ingin selalu menggodanya. Dino benar-benar jatuh cinta pada perasaan yang paling terdalam untuk Nindya.


 


 


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2