TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Hukuman untuk Nindya


__ADS_3

Dirga terperangah dengan ucapan Nindya.


"Selain pintar menggoda adik ipar mu, kamu pintar menguping juga ya! Berhenti pakai kalimat formal seolah kita orang asing apalagi sekarang kita berada di rumah! Aku suami mu Nindya!" Teriak Dirga.


"Jadi sekarang, anda ingin bermain peran suami dan istri? Saya sebagai istri siri, atau istri simpanan? Kenapa anda suka sekali mempermainkan saya, membuat saya bingung dengan semua sikap-sikap anda."


"Jaga mulut mu Nindya!!!"


"Bau parfum lain yang terasa manis dan sekarang menempel di baju anda sudah mengatakan semuanya..." Kata Nindya tercekat dan meneteskan air matanya.


Entah untuk apa Nindya menangis, karena di perlakukan tidak adil oleh Dirga, atau karena peran nya sebagai istri siri yang menahan segala kesakitan dalam tekanan sikap Dirga dan ucapan Dirga yang selalu mengiris hatinya.


Kalimat Nindya membuat Dirga pun tersentak, bagaimana mungkin Nindya bisa sejeli itu pada dirinya.


"Kamu harus di beri pelajaran karena berfikir kotor tentang suamimu sendiri..."


Dirga melepaskan kemeja nya dan membuang nya asal.


"Apa... Apa yang anda lakukan..." Kata Nindya membelalakan matanya.


"Apa yang aku lakukan? Aku meminta hak sebagai suami dan kamu harus memenuhi kewajiban sebagai istri."


"Tidak..." Kata Nindya belum selesai dengan kalimatnya namun Dirga sudah membenamkan bibirnya.


Lidah Dirga melengsak masuk menyapu seluruh mulut Nindya seolah ingin menghapus segala kalimat yang telah Nindya ucapkan padanya.


Pria itu tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi Nindya untuk membela diri atau menangkis serangan-serangan Dirga yang penuh gairah dan memanas.


Dirga mengambil dasi nya dan mengikat kedua pergelangan tangan Nindya naik ke atas secara paksa, ikatan yang erat dan cukup membuat pergelangan tangan Nindya terasa sakit, kemudian menutup mata Nindya dengan baju milik Nindya.


Pikiran Nindya pun kalut, ia berteriak-teriak karena takut, tidak bisa menyelematkan dirinya dari kungkungan Dirga yang memiliki tenaga lebih besar darinya.


"Psikopath... Dasar Psikopath...!!!" Teriak Nindya yang matanya sudah di tutup.


Namun teriakan Nindya tiba-tiba berubah menjadi lengkungan desahaan yang penuh dengan lenguhan nafas panjang.


Tidak seperti apa yang ia pikirkan, sesaat yang lalu ketakutannya adalah Dirga akan mengkasari nya atau akan menyiksannya dengan pukulan dan segala macam yang tidak bisa ia bayangkan tentang pelecehaan.


Di luar dugaan Nindya, Dirga justru menyentuhnya dengan kelembutan, tangannya lihai bahkan ia menyibak dan melepaskan underwear milik Nindya dengan pelan dan sehalus mungkin.


Pria itu memberikan kesenangan dengan sentuhan-sentuhannya membuat Nindya mengeluarkan suara-suara yang nyaring, kadang teriakan-teriakan yang menggema di ruangan.


Ketika tubuh Nindya melengkung dan mencapai pada puncak pertamanya, Dirga melepaskan ikatan tangan Nindya dan membuang pakaian yang menutupi mata Nindya.

__ADS_1


Terlihat mata sayu yang polos milik Nindya, dengan nafas terengah dan dada naik turun karena kesulitan mengatur ritme nafasnya sendiri.


"Tenanglah..." Kata Dirga mengecup kening Nindya.


"Dasar playboy cap kadal, buaya, semoga kamu kudisan!!! Aku benci saat kamu menginginkanku seperti ini!!!  Kata Nindya memaki diri nya sendiri,ia menangis dalam tekanan kenikmatan. Hatinya perih tidak ingin, namun tubuhnya berkata lain ketika Dirga menyentuhnya.


Tanpa aba-aba Dirga mulai menyatukan dirinya pada tubuh Nindya membuat Nindya cukup tersentak, kemudian Dirga memompa perlahan tubuh berototnya yang ada di atas Nindya.


Teriakan Nindya membuat kamar Dirga lebih hidup, membuat Dirga juga semakin semangat dan justru tak ingin mengakhiri permainannya dengan cepat, pria itu ingin menikmati setiap detiknya dan ingin mendengar setiap teriakan indah Nindya.


"Teriak yang keras Nindya, aku suka..." Bisik Dirga pada Nindya dan mengigit kuping Nindya.


Dirga memberikan pelajaran pada Nindya, agar istrinya tidak lagi mengeluarkan kalimat panas. Dirga paling tidak suka jika ia di kritik dan di bantah oleh seorang wanita.


"Setiap kali kamu membantah ku, kamu akan selalu berakhir seperti ini dan nikmatilah semuanya." Kata Dirga yang masih terus memompa dirinya lebih cepat.


"Ini juga sebagai hukumanmu, karena kamu berani bertemu dengan laki-laki lain."


Permainan terus berlanjut hingga menjelang pagi, Nindya sudah pingsan, tubuh kecilnya tidak bisa mengimbangi tenaga Dirga sedang Dirga pun mengakhiri permainnya dengan lenguhan panjang penuh kepuasan, pria itu mengecup dan memeluk tubuh mungil Nindya, mendekap erat dalam pelukannya.


Mereka tidur dengan lelap hingga pagi dan matahari telah tinggi, Nindya masih tidur di balik selimut tebalnya. Namun samar-samar ia kemudian membuka matanya, merasakan tubuhnya sudah seperti bau ikan apalagi sekujur tulang belulangnya seperti habis di remukkan, tubuhnya merasakan remuk.


"Badanku sakit semua. Jam berapa sekarang..." Kata Nindya lagi dengan lesu dan lemah.


"Semalaman aku di siksa sampai badanku susah untuk bangun, tulang-tulang ku rasanya remuk dan tidak bisa bergerak."


Nindya duduk di atas ranjang dengan bertumpu satu tangan. Matanya masih mengerjap ngerjap karena terasa sangat sayu dan lelah.


Melihat kondisi tubuhnya yang penuh dengan bekas merah, ia menyibakkan selimutnya, tidak ada yang luput dari Dirga semua tubuhnya memiliki bekas merah.


"Dia berhasil membuatku diam di dalam rumah, mana mungkin aku bisa bekerja dengan keadaan seperti ini, badanku semua serba merah, dasar drakula, badanku juga sakit semua, remuk...!" Umpat Nindya.


Nindya menggigit bibir, ketika ia mengangkat kakinya untuk turun dari ranjang, perih yang ia rasakan kembali menyeruak di antara paha selangkangannya dan bahkan lebih sakit dari sebelumnya.


"Dasar maniak!!!" Umpat Nindya dengan menyeka air matanya.


"Dia sudah in the hoy sama Alexa masak masih kurang juga?! Palingan punya 3 atau 5 istri juga belum bisa muasin dia!!!" Umpat Nindya lagi.


Nindya berjuang dengan berpegangan pada apapun yang bisa ia pegang untuk menuju kamar mandi, tubuh nya rambutnya dan semuanya terasa sangat lengket. Nindya merasa harus cepat mandi.


Sedangkan di tempat lain tepatnya di kantor pabrik, Dirga sedang duduk bersitegang dengan Dino.


"Untuk apa Nindya kerja di rumahmu." Tanya Dino dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Menurut kamu untuk apa... Uang lah..." Jawab Dirga santai.


"Nindya bukan gadis seperti itu...!


"Dia dari keluarga miskin, apa yang membuat dia tidak akan tergoda dengan uang... Aku juga sudah pernah bilang kan, dia tidak akan pernah bisa menolak dengan pria seperti diriku..."


"Nindya bukan gadis yang mau dengan mudah jatuh hhanya karena pria kaya..." Sahut Dino.


"Terserah kamu, tapi pada kenyataannya seperti itu, aku tampan, kaya raya, aku membutuhkan seorang pembantu di rumah baru ku... Dan dia menawarkan diri..." Jawab Dirga sembari memutar santai kursinya.


"Aku peringatkan Dirga, jangan pernah menyentuh Nindya kalau kamu berani menyentuhnya seujung rambut pun, akan aku hancurkan pabrik ini."


Dirga hanya diam sembari melempar senyuman sinis.


Kamu tidak tahu Dino, bahkan aku sudah menidurii nindya berulang kali."  Kata Dirga menyandarkan punggung di kursi besarnya, pria memainkan dan memutar kursi.


Dino kemudian pergi meninggalkan kantor dan melewati para karyawan yang sedang berkumpul karena saat itu jam istirahat pertama.


Pabrik memiliki jam istirahat 2 kali jika pulang pukul 4 sore. Jam istirahat pukul 10 pagi dan pukul 12 siang.


Namun jika pabrik lembur, jam istirhat menjadi 4 kali, pukul 10 pagi selama 15 menit, pukul 12 siang selama 30 menit, pukul 4 sore selama 10 menit dan 6 sore selama 10 menit. Agar karyawan yang beragama muslim bisa menggunakan jam istirhat untuk sholat.


"Eh beneran nggak sih gosip nya yang punya pabrik ini tuh kawin siri sama karyawan sini." Kata seorang karyawan bernama Martiyem yang berusia 45 tahun.


"Katanya sih gitu, tapi belum pasti juga soalnya pemangku desa tuh susah banget di telisik, mereka udah di sumpah buat nggak membeberkan informasi pelaku zina, dulu aja ada yang di nikahin paksa juga nggak di kasih tahu asal usulnya dari mana." Ujar Henni karyawan muda berumur 18tahun lulusan SMP.


"Eh... Tapi katanya yang cewek tuh cuma dari desa sebelah lho... Siapa ya orangnya, aku penasaran dia pasti beruntung banget bisa nikah sama yang punya pabrik ini. Kira-kira sama siapa ya... Pak Dirga atau Pak Dino... Aaa... Nyebelin aku jadi iri...!!!" Teriak Surinah janda berumur 45 tahun.


"Siapa tau malah sama bapaknya Pak Dirga... Nahloo...Hahaha..." Sahut Martiyem.


Semua pun ikut tertawa.


"Tapi, aku kemarin tuh juga udah nanya sama kenalan ku yang ada di kampung bawah sana, mereka juga pada nggak mau beberin identitas pelakunya kayaknya pada takut sama tata tertib di kampung itu, lagian Asih anak Packing kan juga asli kampung sana, dia juga diem aja kan nggak berani cerita-cerita." Sahut Henni lagi.


 


 


~bersambung~


 


 

__ADS_1


__ADS_2