TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Keputusan Farel


__ADS_3

NOTE 1 \= MAAF SEMUANYA JIKA NOVEL "TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS" TIDAK UP BERARTI SAYA SEDANG MENULIS NOVEL SAYA YANG SATUNYA. 🙏


MOHON MAAF SELANG SELING UP NYA YA TEMAN-TEMAN. 🙏



NOTE 2 \= UNTUK NAMA - NAMA YANG ADA DI BAWAH INI KALIAN MENANG PODIUM MINGGUAN SILAHKAN MENGHUBUNGI AUTHOR YA. MASING-MASING DARI KALIAN DAPAT PULSA 25.000. 🙏 😁TERIMAKASIH



***


Nindya masih menodongkan pistolnya pada Dirga dengan kedua tangan yang gemetar.


"Aku bersedia menuruti semua kemauanmu..." Kata Dirga.


"Aku mau, kamu lepaskan Dino dan keluargaku!!!" Teriak Nindya.


"Oke..." Jawab Dirga.


"Aku mau kita juga bercerai!!!" Teriak Nindya lagi.


"Sesuai maumu...." Kata Dirga lagi dan maju melangkah.


"Stop di sana dan jangan bergerak!!!" Perintah Nindya masih menodongkan pistolnya dengan gemetaran.


"Oke... Aku tetap di sini." Jawab Dirga masih mengangkat ke dua tangannya yang di penuhi darah dari kepalanya.


Nindya kemudian mengangkat tubuh Dino yang berlumur darah, kepalanya masih terus saja mengeluarkan darah segar karena pukulan dari Xavier, kemudian Nuel datang membantu.


Sedikid demi sedikit Dino sudah hampir keluar, mereka berada di ruang tamu, sedangkan Nindya serta orang tuanya juga hampir keluar, namun mereka masih di ruangan tengah. Kaki-kaki orang tua itu masih gemetar dan lemas, namun tiba-tiba saja untuk berjalan justru terasa sangat kaku karena ketakutan yang melanda mereka.


Tiba-tiba Dirga dengan cepat maju dan memiting Nindya mengambil pistol yang ada di tangan Nindya.


"Tidaaakk!!!" Teriak Nindya.


"Mak.... Pakk lariii!!!" Teriak Nindya.


Namun orang tua Nindya justru mematung dan tidak bisa bergerak, mereka terkena syock.


Para orang tua itu yang sudah paruh baya dan melihat pemandangan penuh darah serta pistol berseliweran terkena serangan panik.


Serangan Panic attack adalah munculnya rasa takut atau gelisah berlebihan secara tiba-tiba. Kondisi yang juga disebut dengan serangan kegelisahan ini ditandai dengan detak jantung yang bertambah cepat, napas menjadi pendek, pusing, otot menjadi tegang, atau gemetar, hingga pingsan.


Dino berbalik dan ingin menolong. Dengan cepat Nuel pun menarik pistol dan hendak menembak Dirga namun Xavier menghalanginya membuat tembakan itu mengenai pada dada kiri Xavier.


Nuel yang melesatkan pistol panasnya membuat Dirga murka, pria itu brutal dan menembaki Villa, dengan sengaja ingin meruntuhkannya karena melihat Xavier meregang nyawa.


"Kalian juga harus terkubur di sini!!!" Teriak Dirga yang kemudian mengarahkan pistolnya pada bagian dapur dimana gas-gas tersimpan di dalam teralis besi.


"SEMUANYA PERGI!!! DIA SUDAH GILA!!!" Teriak Nuel yang kemudian diikuti para pengawal-pengawal.

__ADS_1


Villa yang tidak terlalu besar dan di desain sepenuhnya menggunakan kayu membuatnya mudah runtuh.


Sedangkan Nindya serta orang tua nya masih berada di dalam Villa, Dino berlari sekuat yang ia bisa, Nuel pun juga ikut kembali masuk.


Dino menolong Nindya untuk keluar sedangkan Nuel menolong kedua orang tua Nindya.


"BLAAARRR!!!!!"


Tiba-tiba ada sesuatu yang meledak, dan membuat Villa tersebut terbakar.


Dino dan Nuel, serta Nindya dan kedua orang tua Nindya pun terpental keluar karena ledakan tersebut. Membuat tubuhnya yang penuh darah terkulai lemas.


Villa yang seluruhnya terbuat dari kayu pun dengan cepat di lahap oleh api.


Dino mulai merasakan kepalanya sangat pening dan membuatnya jatuh pingsan.


Villa yang terletak masuk ke dalam hutan pinus pun mendadak menjadi terang karena nyala api. Lahan hutan pinus itu di miliki oleh Dirga.


Beberapa hari kemudian...


Malam itu Dino di larikan ke rumah sakit karena luka di kepala yang sangat serius sehingga membuatnya harus menjalani serangkaian perawatan panjang.


Pria itu terbaring lemah masih tidak sadarkan diri di atas ranjang mewah dengan penuh alat-alat terpasang di tubuhnya.


Sedangkan Farel membuat keputusan bahwa Dino harus di bawa ke rumah sakitnya yang ada di luar negeri agar mendapatkan perawatan yang lebih bagus.


Di kamar lain, Nindya pun sedikit demi sedikit berangsur membuka matanya, ia juga mendapatkan perawatan.


"Ya Non..." Jawab Mbok Winarsih.


"Mak... Bapak..." Sahut Nindya lemah, suaranya hampir berbisik karena tubuhnya masih lemah.


"Saya panggil dokter dulu Non..." Mbok Winarsih kemudian memencet tombol pemanggil.


Tak berapa lama Farel dan beberapa dokter dan di dampingi beberapa suster datang, langlah kaki Farel cepat dan kemudian memeriksa kondisi Nindya.


"Mak... Bapak..." Kata Nindya lagi bertanya.


Mbok Winarsih masih diam dan gemetar menunggu dokter selesai memeriksa.


"Nindya kamu ingat apa yang terjadi?" Tanya Farel.


Butuh beberapa waktu dan akhirnya Nindya hanya mengangguk lemah, pikiran dan ingatan malam itu mulai mengelilingi nya lagi, air mata menetes melewati pelipisnya.


Farel mengangguk lega.


"Ada sesuatu yang harus kamu tahu, tapi kurasa kamu harus sembuh dulu." Kata Farel.


Tak berapa lama Nindya kembali tertidur karena suntikan yang di berikan oleh Farel. Nindya harus lebih banyak istirahat, karena itulah yang harus ia butuhkan dari semua permasalahn hidup yang menderanya.


"Mbok saya menyuntikkan obat penenang dosis kecil, dia harus istirahat agar kandungannya tidak berkontraksi dan ikut tenang. Karena usia kandungannya masih sangat muda." Kata Farel.

__ADS_1


"Ba... Baik Tuan Farel."


Kemudian Farel melanjutkan kalimatnya dengan ragu.


"Dino akan di terbangkan ke USA, ku pikir ini ide terbaik, karena ada benturan hebat di dalam kepalanya, CT scan menunjukkan ada retakan di tengkorak belakangnya, dan aku akan memberitahukan hasil ini pada Tuan Hartono Jaelani mereka belum mengetahuinya." Farel menghela nafas dan sangat menyesal, wajahnya terlihat pilu.


Begitu pun Mbok Winarsih yang kemudian melihat Nindya tertidur lelap di atas ranjang pasien.


Kemudian, Farel dan para dokter pergi meninggalkan ruangan Nindya.


***


Sedangkan di kediamannya yang mewah di sebuah Villa yang terletak jauh dari keramaian kota, Hartono Jaelani pun turun tangan melihat bagaimana kondisi keluarganya yang semakin kacau. Pria paruh baya itu sangat menyesalkan tindakan kedua anaknya yang melewati batas kesabarannya.


"Lepaskan semua hak waris mereka berdua." Kata Hartono Jaelani pada seorang pengacara kepercayaannya.


"Mereka tidak akan mendapatkan apapun dan tidak akan mendapatkan sepeserpun dari semua ini." Kata Hartono Jaelani geram.


"Lalu, kembalikan Maryam Husein ke Rumah Sakit, dengan atau tanpa persetujuan Dirga, dia tidak memiliki hak apapun." Kata Hartono lagi.


Sedangkan Yasmine hanya berdiri diam di samping Hartono Jaelani. Wanita itu tidak banyak mengeluarkan kata dan kalimatnya.


Setelah sang pengacara pergi, Hartono Jaelani memandang Yasmine yang sedang melamun dan meremas jari-jarinya.


"Apa yang sedang kamu lamunkan?" Tanya Hartono Jaelani menggapai tangan Yasmine.


"Tidak ada..." Kata Yasmine hanya tersenyum.


"Katakan saja apa yang sedang mengganggu pikiranmu, apa kamu mengkhawatirkan keadaan Dino? Dia pria yang kuat pasti bisa melewati kritis nya, dan juga aku sudah memerintahkan Farel untuk membawanya ke luar negeri." Hartono mengajak Yasmine untuk duduk di sofa.


"Ya, itu salah satunya tapi pikiran yang paling mengangguku adalah, kurasa mencabut warisan mereka berdua bukanlah ide yang bagus. Apalagi untuk Dirga, mungkin Dino tidak akan terpengaruh, dia sudah merintis dan membangun perusahaannya sendiri bahkan perusahaan nya yang ada di luar negeri mulai masuk 50 besar, yang lebih ku pikirkan adalah memikirkan apa yang akan terjadi pada Dirga." Kata Yasmine.


"Hmm...." Hartono Jaelani menghempaskan nafas dan memeluk Yasmine memakai tangan kiri, sembari menyandarkan punggungnya di sofa.


"Mungkin sudah saatnya Dirga mengetahui yang sesungguhnya..." Kata Hartono Jaelani.


"Jangan katakan itu...!!!" Yasmine terkejut, tubuhnya pun tersentak.


"Kenapa...? Dia harus tahu yang sebenarnya, mungkin itu jauh lebih baik dan dia akan merubah sikap nya."


"Tapi, bagaimana jika justru sebaliknya..."


"Tetap aku harus mengatakan ini padanya..." Kata Hartono Jaelani.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja, Dino juga akan di rawat di luar negeri dan akan segera sembuh, semua masalah ini harus di selesaikan." Hartono mencium kening Yasmine.


"Drrt... Drrttt..." Ponsel Hartono yang ada di atas meja bergetar.


"Sebentar..." Kata Hartono pada Yasmine.


Terlihat Farel menghubunginya dan kemudian Hartono mengangkatnya.

__ADS_1


~bersambunga~


__ADS_2